Review: Cold in July (2014)

Kalau kamu merindukan film bertema retro dengan sentuhan drama kriminal di dalamnya, Cold in July bisa menjadi jawaban yang tepat… bisa juga tidak. Pasalnya, siapa sangka seorang bapak beranak satu (Michael C. Hall) yang rumahnya baru saja disusupi maling, harus berurusan dengan aparat pemangku hukum. Beberapa saat kemudian, ia mulai sadar bahwa ia baru saja masuk dalam sebuah konspirasi mumet bin ribet.
Maksud mumet bin ribet di atas bukan secuil omong kosong. Dengan berkata demikian, film yang digawangi oleh Jim Mickle ini sungguh membikin penonton berputar-putar melewati labirin plotnya yang sama sekali tidak tampak brilian ataupun elegan. Tidaklah rongsok. Bahkan, pada paruh awal, Cold in July sanggup membuat saya takjub menyaksikan kelokan demi kelokan yang disajikan.
Namun, sayangnya, hal tersebut tidak bertahan lama. Plotnya mulai amburadul ketika detektif koboi (Don Johnson) muncul ke permukaan dengan segala teorinya. Bukan cuma amburadul, plot seolah-olah menjadi dungu sekaligus terkesan tidak kohesif dengan apa yang dikonstruksi pada paruh awalnya tersebut. Meski demikian, untungnya, drama kriminal ini masih memiliki performa hebat dari trio atraktif di dalamnya (Michael C. Hall, Sam Shepard, dan Don Johnson).
Adalah tidak mungkin mengomparasikan Cold in July dengan Blue Ruin (2014) milik Jeremy Saulnier yang mengagumkan itu. Toh, keduanya bagaikan Bumi dan langit. Plot yang tidak padu menjadikan crime thriller ini tumpul dan kurang eksplorasi. Bahkan, hal tersebut diperburuk oleh tempo yang berjalan selambat siput. Tidak terlalu buruk, tetapi sebaiknya dihindari.
