Review: Enemy (2014)

Berani mencicipi Enemy berarti kamu sudah siap untuk menapaki “dunia lain.” Sebuah semesta yang boleh dibilang berbeda dengan kehidupan yang kamu jalani selama ini. Lagipula, film yang digawangi Denis Villeneuve ini bukan soal pengembaraan seseorang di negeri antah berantah, melainkan bagaimana Adam Bell (Jake Gyllenhaal), seorang dosen sejarah, harus menemukan bahwa ia memiliki kembaran yang seratus persen menyerupainya.
Berbeda dengan apa yang tahun lalu ditelurkan oleh Villeneuve dalam Prisoners, Enemy lebih menyerupai sajian thriller psikologis, yang lebih banyak mengeksplorasi sosok Bell dan kembarannya, Anthony Claire. Lebih dominan dalam studi karakter daripada menyuguhkan suspense kaliber tinggi.
Aktor yang patut diacungi jempol di sini sudah pasti Gyllenhaal. Ia mumpuni dalam melakoni dua karakter sekaligus dalam satu film. Dua karakter yang sangat bertolak belakang antara satu dengan lainnya. Bell lebih banyak diam dan cemas, sedangkan Claire lebih optimistis dalam menjalani kehidupannya. Tidak hanya itu, kamu akan kerap kesulitan membedakan mana yang riil, dan mana yang fantasi.
Sesungguhnya, margin antara riil dan fantasi tidak pernah dijelaskan secara gamblang di dalamnya — bahkan hingga filmnya usai. Satu-satunya cara adalah sungguh-sungguh memaknai setiap dialog yang ada, sekaligus setiap adegan yang dilontarkan. Di awal, kamu mungkin tidak akan kesulitan mengikuti plotnya. Namun, ketika menapaki konklusi, margin tersebut di atas semakin pudar dan menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Di luar sana, mungkin akan ada banyak orang yang mencaci Enemy karena keganjilan demi keganjilan yang pada akhirnya berakhir seperti sebuah puzzle, alias tanpa penjelasan mendetail. Namun, bagi saya, film ini lebih daripada sebuah puzzle. Ia terdiri dari simbol-simbol — layaknya huruf-huruf dalam sebuah bahasa. Tidak instan, tetapi butuh interpretasi mendalam atas simbol-simbol tersebut. Di sisi lain, Enemy bisa dibilang sebagai pengalaman menonton paling “gila” bagi saya tahun ini. Lebih-kurang serupa seperti yang saya alami dalam Upstream Color beberapa bulan silam, tetapi dengan gradasi kompleksitas yang lebih tinggi; minim dialog, plot berjalan merambat, disturbing dengan segala keganjilannya serta “nyeni.”

