Review: Honeymoon (2014)

Kreasi perdana Leigh Janiak ini mungkin satu dari sekian banyak kreasi tahun lalu yang tak terlihat pada “radar” kebanyakan penonton. Bisa jadi salah satu alasannya karena Honeymoon merupakan horor indie berbujet mikro, sehingga minim publisitas. Meski demikian, toh kini ia telah hadir di tengah-tengah penonton, dan nyatanya sanggup muncul sebagai horor atmosferik yang disuguhkan dengan baik.
Tigapuluh menit pertama dibuka oleh betapa manisnya muda-mudi yang baru saja menikah dan mabuk cinta, bercengkerama hingga pada akhirnya mereka berdua sampai di sebuah pondok di tengah hutan. Bukti bahwa gagasan yang disajikan memang bukan hal baru. Namun, bagaimana Janiak mendesainnya dengan baik hingga tampak angker secara keseluruhan dan menusuk-nusuk rasa takut penonton via “ruh” thriller psikologis di dalamnya.
Bukan cuma itu, dengan jumlah pelakon yang minim, Bea (Rose Leslie) dan Paul (Harry Treadaway) sukses saling mengisi via bait demi bait yang terlontar. Di sisi lain, bagaimana Paul bersikap untuk menghadapi perilaku Bea yang berubah drastis sejak bertemu dengan kawan lama dan istrinya yang “abnormal,” juga mengimbuh kengerian demi kengerian yang terjadi di pondok tersebut.
Adalah tidak gampang menutup sebuah horor dengan apik, alih-alih malah menghancurkan pondasi plot yang telah kokoh. Walaupun begitu, setidaknya Janiak — yang merupakan sutradara debutan — sudah mumpuni meng-handle paranoia dua sejoli yang dimabuk asmara itu, hingga menghantarkan penonton sampai pada titik konklusi (yang saya yakin tidak semua orang akan merasa terpuaskan).
