Review: The Amazing Spider-Man 2 (2014)
The Amazing Spider-Man 2 ini merupakan film yang paling saya tunggu di tahun 2014, atau setidaknya ketika saya menulis artikel ini. Saya selalu senang dengan universe building, cross-over, dan sebagainya yang saat ini merupakan trend di setiap film superhero, tidak terkecuali Spidey. Jadi tidak heran saya benar-benar menunggu film yang satu ini.
Namun, Sony, sekali lagi menghancurkannya dengan marketing eksesif dengan merilis terlalu banyak materi film ke publik. Seiring menuju ke tanggal tayangnya, saya justru semakin tidak peduli dengan film ini. Dan benar saja, film ini pun gagal mencapai ekspektasi saya. Saya tidak menganggapnya sebagai karya yang buruk, tapi film ini mengkonfirmasi bagaimana tidak konsistennya Sony membuat rencana mereka. Film Sinister Six serta instalmen selanjutnya pun kini dalam fase mengkhawatirkan.
Peter Parker (Andrew Garfield) di sini harus berhadapan dengan rasa bersalahnya akan kematian Captain Stacy (Denis Leary) dan janjinya untuk menjauhi Gwen (Emma Stone), meskipun ia sangat menyayanginya. Sementara itu, kehidupan Peter sebagai Spider-Man juga tidak kalah sulitnya ketika ancaman datang dalam wujud Electro (Jamie Foxx), yang berawal sebagai fans menjadi musuh. Sembari ke sana, Peter juga berusaha mengungkap misteri dibalik kematian orang tuanya yang gagal dijelaskan di film pertama.
Sinopsis di atas bahkan belum mencakup plot kecil lainnya sehubungan dengan hubungan Peter-Harry Osborn (Dane DeHaan), teman baiknya yang baru kembali, Peter-Aunt May (Sally Field), dan juga selingan kecil dengan salah satu musuh barunya, Rhino (Paul Giamatti).
Mudah terlihat, Amazing Spider-Man 2 tidak memiliki fokus dan tidak tahu cerita mana yang harus menjadi prioritas di naskahnya yang buruk. Terlalu banyak hal yang dimasukkan terlalu cepat dalam rangka ekspansi universe Spidey. Fatalnya lagi, mereka memberikan ruang lebih untuk cerita yang tidak menarik.
Electro adalah kesalahan paling kacau di film ini. Max Dillon, alter egonya, adalah orang yang tidak pernah mendapatkan perhatian. Maka ketika, suatu hari, dirinya diselamatkan oleh Spider-Man, ia pun menjadi terobsesi dengannya. Sayangnya sebuah kecelakaan membuatnya mendapatkan kekuatan super, dan Spidey pun ternyata tidak ingat dengan dirinya. Apa yang terjadi? Dia pun marah dan ingin membunuh Spidey. Damn, ini adalah motivasi tercetek selain kenapa Rhoma Irama ingin jadi presiden.
Electro pun sebenarnya tidak cukup integral dengan kehidupan Peter Parker/Spider-Man untuk menjadi musuh utamanya. Lain dengan Harry Osborn/Green Goblin yang notabene adalah teman dekatnya, atau Curt Connor/Lizard yang merupakan teman ayahnya. Jadi saya pun merasa, Max mengidolakan Spidey hanyalah sebuah trik untuk merelasikannya dengan sang superhero, namun berakhir sangat lemah. Kita pun tidak pernah merasa iba atau simpatik terhadap Electro. Hal ini juga kian diperparah dengan buruknya dialog-dialog milik Electro. Tiap one-liner yang keluar dari mulutnya berhasil membawa saya kembali ke era Batman & Robin milik Joel Schumacher.
Easy to say, Electro bisa dipotong total dari film ini untuk memberikan Harry Osborn lebih banyak screen-time dan berkembang. Karena itu, sekali lagi, adalah cerita yang lebih menarik namun punya potensi mirip dengan film Spider-Man yang pertama. Sayangnya, Marc Webb bersama tim di belakangnya seperti takut untuk mengulang apa pun yang pernah dilakukan Sam Raimi dengan film-film Spider-Man. Banyak buktinya mulai dari menggunakan villain yang belum pernah ada, figur Uncle Ben diganti dengan Captain Stacy, hubungan Peter-Aunt May diganti dengan eksplorasi orang tua Peter, belum adanya J. Jonah Jameson, hingga merubah origin story Spider-Man. Memang dari awal mereka me-reboot franchise ini sudah terlihat akan mengarah ke cabang yang berbeda, tapi ini sekarang terlihat mereka seperti phobia dengan Spidey Raimi dan sebisa mungkin menjauhi elemen-elemen yang dimilikinya. Which is wrong, karena Spider-Man dan Spider-Man 2 milik Raimi adalah masterpiece dan ketika mereka memutuskan untuk mencontoh, yang mereka contek adalah Spider-Man 3 yang sama-sama memiliki 3 villain dengan film ini dan sama-sama berantakan plotnya.
Tapi tunggu dulu, The Amazing Spider-Man 2 bukan tidak memiliki nilai plus satu pun. Hubungan Peter-Gwen Stacy yang sudah tercipta baik di film pertama dilanjutkan lagi menjadi, uh, amazing lewat chemistry mereka berdua yang benar-benar kuat. Bahkan, bila kita membuang semua elemen superhero, kita mungkin bisa mendapatkan sebuah drama coming-of-age yang menarik. Apalagi ketika kita sampai di ending, saya rasa semua bisa setuju, bahwa adalah keputusan yang tepat untuk memprioritaskan hubungan mereka dan membuang semua adegan Mary Jane yang sudah di-shoot bersama Shailene Woodley.
Actionnya sendiri juga mengagumkan. Adegan web-slinging Spider-Man di New York siang hari adalah jelas yang terbaik yang pernah ada. Ya, kadang terasa seperti kartun dengan CGI yang kurang baik, tapi musuh terbesarnya adalah di trailer yang sudah merilis adegan-adegan tersebut. Tidak ada elemen surprise ketika menonton, khususnya untuk adegan Rhino dan Green Goblin yang terlewat minim.
Durasi bisa jauh direduksi bila beberapa plot yang saya katakan di atas dihilangkan. Terlepas dari itu banyak juga adegan-adegan yang tidak memilki fungsi penting namun tetap dipertahankan. Seperti contohnya adegan 2 pesawat yang nyaris bertabrakan di final fight, atau juga beberapa lelucon saat mencuci baju, membersihkan atap, dan lainnya.
Lalu, bagaimana dengan universe building yang dijanjikan oleh Sony akan mengarah ke Sinister Six? Jelas, mereka menebar banyak sekali easter eggs di sini, walau saya yakin mereka sendiri sebenarnya masih bingung dan tidak punya plan yang pasti. Yang bisa mereka lakukan sekarang adalah membuka semua kesempatan dengan memasukkan karakter seperti Felicia Hardy (Felicity Jones) dan juga Alistair Smythe (BJ Novak) walau hanya sekelebat dan bersiap untuk menggunakannya, bila dibutuhkan, di masa mendatang.




