Jalanan dan Mereka yang Terpinggirkan

Perkenalkan tiga tokoh utama kita dalam film dokumenter berdurasi 108 menit ini: Boni, Ho dan Titi. Mereka bertiga sama-sama tinggal di Jakarta, sama-sama datang dari kelas menengah ke bawah, sama-sama hidup di jalan dan sama-sama berprofesi sebagai pengamen dengan gitar sebagai alat musik andalan. Cerita hidup mereka memang berbeda, tapi inilah yang berusaha dijahit oleh Daniel Ziv, sang sutradara, menjadi satu kesatuan dengan benang merah bahwa film ini mengangkat isu marjinal dan kaum yang terpinggirkan padahal ada dalam kenyataan hidup kita sehari-hari. Butuh waktu 7 tahun bagi Daniel Ziv untuk mengikuti ketiga tokoh kita. Ia mengikuti bagaimana tiga tokoh kita ini menghadapi hidup sampai pada akhir film, walaupun tentu saja belum merupakan akhir dari hidup mereka, ada perubahan yang dihadapi.
Boni, misalnya. Tinggal di bawah kolong jembatan dekat Tosari, Jl. Sudirman (di film juga diperkenalkan istrinya), ia adalah seorang musisi yang tidak bisa menulis. Bisa membaca, tapi kesulitan sehingga perlu waktu lama, itupun kalau hurufnya besar-besar. Berhenti sekolah di kelas 3 SD. Meski demikian, ia mahir bermain gitar dan bisa bernyanyi. Ia mudah membuat musik. Kapanpun ada inspirasi, ia tinggal memainkannya di gitar. Selain itu, Boni juga punya impian bisa tidur di Hyatt, yang sebenarnya hanya terletak di seberang “rumahnya”, namun selalu terlalu jauh untuk diraih.
Lain halnya dengan Ho, yang adalah showman kita dalam film ini. Berbeda dengan Boni, Ho bisa menulis, sehingga banyak lagu-lagunya yang dia tulis di buku tulisnya. Dia paling sering mengkritisi soal politik, tercermin dari lagu-lagu buatannya. Aliran musiknya juga yang paling lain di antara tiga tokoh kita; Ho bisa dibilang lebih bergaya rockstar, walaupun rambutnya gimbal. Di awal film kita akan mengetahui bahwa Ho belum menikah. Dia berusaha untuk bisa mendapatkan pujaan hati, sembari mencari uang sebagai pengamen.
Sedangkan Titi satu-satunya protagonis perempuan di film ini. Titi punya 3 anak yang tinggal di tempat yang berbeda-beda: satu di Jakarta, satu di Jawa, dan satu lagi di Kalimantan. Di lingkungan rumah dia akan berjilbab, tapi ketika keluar untuk beraktivitas jilbab itu akan dilepasnya. Suaminya menceraikannya secara sepihak. Dia mengamen untuk menyambung hidup dan mengaku bahwa sejujurnya masih ingin sekolah lagi, walaupun pada akhirnya umur yang tidak memungkinkan.
Jalanan mengangkat isu marjinalisme dan orang-orang yang terpinggirkan dengan pendekatan langsung kepada subyek. Daniel Ziv tidak menggunakan pendekatan kamera beauty shot yang memang sekiranya lebih tepat untuk film ini dalam menggambarkan marjinalisme tersebut. Kita akan diperlihatkan bagaimana posisi mereka dalam masyarakat, baik citra itu dibentuk oleh masyarakatnya maupun oleh mereka sendiri. Dalam adegan ketika Boni pergi ke suatu mall, misalnya, terlihat sekali bahwa Boni sangat merasa dirinya rendah dibandingkan orang-orang lain: dengarkan dialog di toilet saat Boni mengatakan bahwa kotoran manusia mau bercampur, sementara manusianya sendiri tidak. Mall tersebut mewah dan Boni merasa seperti out of place. Dialog tentang kotoran ini tentu saja mengundang tawa, tapi juga ironi di waktu yang bersamaan. Perhatikan pula bagaimana Boni akhirnya membangun “Hyatt” di bawah kolong jembatan “rumahnya” tersebut. Hal yang sama pun terjadi pula pada Ho dan Titi. Dalam lagu-lagu serta dialog kesehariannya, Ho selalu menyindir tentang korupsi dan kekuasaan dan bagaimana dia meragukan Indonesia mencintai dia kembali sementara dia cinta Indonesia. Pada akhirnya, Ho ditangkap Satpol PP gara-gara dia adalah seorang pengamen dan sudah dipastikan akan bermalam cukup lama di penjara akibat tidak mempunyai KTP. Sementara itu, Titi yang diceraikan sepihak harus berusaha untuk menghidupi tiga anaknya-yang terpencar-pencar tersebut-seorang diri. Pada waktu mudanya, Titi memutuskan untuk tidak sekolah lagi karena kasihan pada orangtuanya, kemudian memilih untuk merantau ke Jakarta. Di sini pula kita melihat bagaimana kaum marjinal pada akhirnya tidak punya kekuatan bahkan untuk membela dirinya sendiri. Mereka termarjinalisasi bahkan dalam lingkup paling kecil sekalipun.
Saya menangkap bahwa masalah kemiskinan yang ditampilkan dalam film ini adalah kemiskinan struktural, akibat salahnya sistem yang sejak awal sudah menyulitkan mereka untuk bisa maju. Ingin berhasil membantu orangtua tapi terpaksa putus sekolah karena tidak ada biaya. Mengapa? Karena tidak ada sekolah yang gratis. Akibat putus sekolah, tentunya keterampilan mereka tidak seperti orang-orang yang sekolah sampai selesai. Hanya kerja kasar atau serabutan yang dapat mereka lakukan. Karena musik adalah satu-satunya bidang yang bisa mereka kuasai dengan baik, akhirnya mereka mengamen. Akibatnya, penghasilan mereka tentu saja sudah tidak pasti apalagi memadai, sehingga sulit bagi mereka untuk bisa memperbaiki hidup mereka, apalagi keluarga mereka. Ambil contoh mereka bertiga sebagai kasus korban kemiskinan struktural ini. Boni akhirnya tinggal di kolong jembatan. Ho, selain sulit mencari pasangan hidup, sulit juga menafkahi dirinya sendiri. Titi harus berjuang mati-matian demi membiayai anak-anaknya. Demikianlah siklus setan ini berlangsung terus menerus.
Jalanan juga tidak berusaha untuk menawarkan suatu resolusi di film ini, tapi lebih kepada realita-apa yang sebenarnya terjadi. Memang ada yang resolusinya happy ending. Misalnya, Titi bisa jadi contoh paling mendukung dari ketiga tokoh kita mengenai keinginan untuk keluar dari sistem atau keterpurukan yang buruk ini. Titi memilih “sekolah” lagi, kali ini dengan Paket C. Meskipun harus mengamen sambil mempelajari buku-buku soal UAN-kita pun akan melihat perjuangan ini, Titi tidak menyerah dan memilih untuk terus maju demi memperbaiki nasib. Sementara itu, Ho terus berusaha mendekati perempuan pujaan hatinya sembari mengamen untuk menafkahi diri sendiri. Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, dia tetap menyanyikan lagu-lagu yang kesannya revolusioner sebagai sarananya untuk mengekspresikan diri terhadap perlakuan negara terhadap masyarakatnya. Kedua tokoh ini berhasil mencapai resolusi bahagia, namun tidak bagi Boni. Keterpurukan yang lebih parah malah justru datang ke dirinya; sudahlah kesulitan hidup, rumah kolongnya harus digusur pula akibat adanya perluasan sungai.
Kasus Titi sebenarnya dapat ditilik lebih detil lagi, karena dia perempuan. Dari Titi, ada dua hal yang bisa dilihat: perempuan sebagai penduduk kelas dua dan agama sebagai “penyelamat” hidup dan status masyarakat. Lihat saja bagaimana Titi diceraikan sepihak. Dia tidak punya kuasa melawan suaminya dan kesulitan pula untuk bisa mengasuh anaknya di Jakarta yang tidak diizinkan suaminya untuk diurusnya. Lihat bagaimana pula dia harus berjuang mati-matian untuk mengejar passion dalam musik. Sementara itu, di lingkungannya, Titi harus berjilbab. Jilbab dapat dianggap sebagai simbol “perempuan baik-baik”, walaupun sebenarnya tidak serta-merta menentukan sepihak apakah perempuan itu baik atau tidak kalau berjilbab. Sama pula dengan ketika Titi membawakan lagu-lagu religi di bus ketika mengamen. Pasti akan ada orang yang memberikan uang jauh lebih banyak, pertanda bahwa agama membawa ketenangan dan terkait dengan bagaimana masyarakat kita sangat memandang agama sebagai sesuatu yang krusial dan bersifat penyelamat.
Pada akhirnya, Jalanan menjadi contoh yang sangat tepat tentang bagaimana rakyat kecil tidak memiliki kekuatan untuk bersuara. Saya pun sebenarnya punya prediksi, kalau saja Daniel Ziv bukan seorang Kanada-atau bule pada umumnya-bisa jadi film ini tidak akan semaksimal ini dalam menyampaikan suara mereka. Saya tidak berusaha menjadi rasis atau mendewakan orang asing, tapi mental masyarakat kita tentu saja berpengaruh pada hal ini: lihat saja-sebagai contoh paling nyata-bagaimana Ho bisa diikuti di dalam penjara (yang bagi saya sangat miris dan penting di dalam film, karena kalau tidak ada, maka realita itu tentu saja akan “hambar” karena tidak ditampilkan. Terlepas dari itu, seluruh perjuangan mereka memang sangat patut untuk dibawa ke masyarakat, karena dari sinilah kita melihat kenyataan sebenarnya di luar sana. Kalau Boni tidak ada di film, mungkin masih akan ada masyarakat Jakarta yang tidak sadar bahwa masih banyak orang hidup di bawah kolong jembatan jalan-jalan besar dan menganggap itu sebagai rumah mereka sendiri (walaupun bathtub dan rumput-rumput plastik itu saya cukup yakin tidak lazim, bahkan ada orang yang menganggap itu scripted, tapi terlepas dari itu, mari kita lihat gambaran besarnya saja: rumah di kolong jembatan). Kalau Ho tidak ada di film, mungkin masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak sadar apa sebenarnya yang menjadi alasan orang berada di balik jeruji Satpol PP. Kalau Titi tidak ada di film, mungkin masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak sadar bahwa menjadi perempuan di kelas menengah ke bawah itu tantangan tersendiri, dan untuk bisa maju, maka dia harus berjuang sendiri.
Ketika kemiskinan struktural melanda, maka tidak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali membawa suara-suara kecil tersebut ke permukaan dengan sedemikian rupa caranya, supaya disadari oleh mereka yang mengakibatkan kemiskinan struktural itu. Dalam Jalanan, Daniel Ziv melakukannya dengan sangat baik.
Jalanan tayang terbatas sejak 10 April kemarin di beberapa kota-kota besar di Indonesia


