Review: Mari Lari (2014)

Rio (Dimas Aditya) adalah seorang yang tidak pernah menyelesaikan sesuatu dalam hidupnya, mulai dari masa kecil yang kerap kali bergonta ganti hal yang ingin ditekuni hingga kuliah yang sudah mengganti jurusan sebanyak dua kali. Hingga saat ibunya Fitri (Ira Wibowo) meninggal dunia dan memberikan pesan. kepada Rio untuk menyelesaikan apa yang telah dimulainya, Rio pun berusaha untuk mewujudkan pesan ibunya salah satunya adalah dengan segera menyelesaikan kuliahnya.
Suatu hari, Rio melihat undangan untuk ikut dalam Bromo Marathon yang ditujukan kepada ayahnya Tio (Donny Damara) dan ibunya. Mengetahui hal tersebut, Rio akhirnya meminta izin kepada ayahnya untuk menggantikan posisi ibunya dalam marathon tersebut. Tio yang skeptis terhadap Rio selama ini, menolak permintaan Rio. Keinginan untuk menunjukkan bahwa dia dapat menyelesaikan suatu hal dalam hidupnya, Rio pun bertekad untuk mulai latihan lari agar dapat turut berpartisipasi dalam Bromo Marathon. Latihan lari yang dijalankan oleh Rio inilah yang kemudian membawa dia untuk kenal dengan komunitas lari dan berkenalan dengan seorang gadis cantik bernama Anissa (Olivia Jensen).

Olahraga lari memang sedang banyak digandrungi akhir akhir, beberapa lomba marathon pun telah banyak dilakukan, dan saya sendiri memiliki banyak teman yang sangat gemar untuk menekuni olahraga tersebut. Dan inilah yang saya tangkap dari tujuan awal film ini, ingin memperkenalkan dan menarik minat masyarakat untuk menekuni olahraga ini. Ide yang sederhana dengan pesan yang cukup mendalam diselipkan dalam film ini. Serta cukup menggambarkan seperti apa lari itu secara umum.
Sedangkan untuk sisi pemain, para pemain memberikan porsi yang cukup walaupun tidak bisa dikatakan memberikan hal yang istimewa. Chemistry antara Dimas Aditya dan Donny Damara terasa pas walaupun terkadang datar dan seharusnya dapat lebih dikembangkan lagi. Untuk porsi Dimas Aditya dan Olivia Jensen terkesan manis dan saya menikmati acting mereka berdua. Mungkin hal yang paling mengganggu bagi saya sendiri adalah product placement yang banyak sekali dalam film ini, sehingga sangat terkesan iklan. Iya, saya sadar membuat suatu film membutuhkan dana yang banyak, tetapi setidaknya product placement seperti itu bisa dilakukan dengan lebih rapi.
Setidaknya setelah menyaksikan film ini, saya jadi tertarik untuk mulai mengeluarkan sepatu lari saya dan mulai berlari. Mari lari…

