Review: Shadow of a Doubt (1943)

Shadow of a Doubt merupakan pengalaman pertama saya mencicipi kreasi mendiang Alfred Hitchcock. Mungkin karena selama ini saya selalu abai pada film-film yang dirilis di masa lampau, atau kerap disebut sebagai film ‘jadul’ (jaman dulu). Film-film tersebut sepertinya tidak pernah membikin saya tertarik untuk mencicipinya. Namun, entah dapat ‘ilham’ dari mana, saya tetiba berminat mencicipi salah satu kreasi yang pernah memenangi anugerah Academy Award untuk cerita terbaik.
Adalah Charlie (Teresa Wright). Seorang wanita muda yang entah bagaimana nama depannya bisa sama dengan pamannya. Paman Charlie (Joseph Cotten) alias Charles Oakley datang berkunjung ke rumah Charlie muda untuk sekadar bersilaturahmi. Namun, semua itu berubah ketika Charlie muda mulai menemukan keganjilan-keganjilan yang mengerubungi pamannya tersebut — termasuk desas-desus bahwa pamannya merupakan seorang pembunuh berdarah dingin yang sedang keluyuran. Bahkan, dua orang asing sempat berkeliaran di sekitar kediamannya.
Tentu, kamu tidak bisa berharap banyak pada visualisasi Shadow of a Doubt — bahkan, mungkin, bagi sebagian orang, scoring-nya terlalu memekikkan telinga. Gambar hitam-putih menghiasi dari introduksi hingga konklusi. Sehingga, hal yang bisa saya harapkan hanyalah plotnya. Dan (ternyata) plotnya dapat diacungi jempol.
Plotnya yang berjalan lambat membuktikan bahwa Hitchcock tidak tergesa-gesa dalam pengungkapan sosok Paman Charlie dan motif ‘kelam’ di baliknya. Plot didesain dengan mengdepankan hubungan Charlie dan pamannya tersebut, serta hubungan pamannya tersebut dengan keluarga Charlie. Dialog-dialog yang tersaji juga tidak ‘basi.’ Tiap karakter berinteraksi dengan cara yang bijak.
Ada Ann (Edna May Wonacott). Gadis cilik yang tampak lebih dewasa daripada usianya. Lalu, ada Roger (Charles Bates). Bocah lelaki yang kerap membicarakan hal-hal yang terdengar kurang penting tapi penting. Tidak lupa, duo Joseph (Henry Travers) dan Herbie (Hume Cronyn) yang tidak hentinya mendengungkan membunuh dan terbunuh.
Shadow of a Doubt jelas bukanlah film yang ditujukan untuk kalangan mayoritas. Ia akan menancap di hati beberapa orang yang mengharapkan sebuah thriller yang bergerak pelan tapi pasti. Banyak bicara tapi berbobot. Bukan cuma relasi Charlie dan pamannya yang disorot, melainkan bagaimana karakter penyokong lain yang juga memicu kesenjangan di antara mereka berdua semakin asik untuk ditelusuri hingga akhir, sekaligus bayang keraguan yang kian memudar.

