Review: Frantic (1988)

Saya tidak habis pikir bahwa sebuah koper bisa mengubah hidup seorang pria paruh baya (Harrison Ford), hingga membuatnya terlunta-lunta tidak karuan. Bahkan, putus asa. Dialah Richard Walker. Sebelumnya, kehidupan pria tersebut dan istrinya, Sondra (Betty Buckley), kelihatan bahagia sekali. Ketika mereka sampai di hotel mewah di Paris, Le Grand Hotel, senyum rekah mereka pun terpancar dari wajah. Tidak lama lagi, ia juga akan memberi kuliah umum di sebuah tempat ternama. Setidaknya, hal itu masih berlaku sampai Sondra benar-benar lenyap tak berbekas dari hotel bintang lima tersebut. Ekpektasi saya pun membumbung, karena Frantic merupakan satu dari puluhan film yang pernah digawangi oleh Roman Polanski.
Saya bukan penggemar fanatik Polanski. Cuma beberapa kreasinya yang pernah saya cicipi dan ternyata saya suka — The Ninth Gate (1999) dan The Ghost Writer (2010). Bahkan, saya tidak pernah suka pada Carnage (2011). Bagaimana dengan kreasinya yang satu ini? Biasa saja. Disorientasi sang protagonis hampir sepanjang film memang bagus. Berhasil menciptakan atmosfer keputusasaan, yang menimbulkan pertanyaan: Bagaimana seandainya hal tersebut terjadi pada kita? Pastinya, kita akan melakukan hal yang serupa dengan apa yang dilakukan oleh Richard. Di sini, Polanski sanggup mengekspos karakter yang begitu erat dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Serupa seperti yang kerap mendiang Alfred Hitchcock kerjakan dalam film-filmnya.
Sayang, disorientasi sang protagonis tidak selamanya berhasil membikin kamu untuk terus duduk manis. Temponya bak keong mendaki gunung. Dan hal tersebut tentu akan mendatangkan kejenuhan demi kejenuhan. Mulai dari hilang fokus hingga tidak peduli lagi pada nasib sang protagonis. Untungnya, kedatangan Michelle (Emmanuelle Seigner) mampu mengimbuh energi baru terhadap plotnya. Bahkan, ada adegan Richard dengannya yang masih tertancap dalam benak hingga sekarang.
Pace-nya yang sangat lambat jelas musuh terbesar Frantic. Selain itu, plot hole yang begitu kentara dan para antagonis yang terlampau dungu semakin membuatnya kelihatan seperti sebuah kekecewaan. Meski begitu, film arahan Polanski ini masih memiliki performa yang baik dari Ford sebagai protagonis yang believable.
