Review: Wild (2014)
Di dunia yang fana ini, kita menjalani kehidupan yang dinamis. Dinamis yang mengandung makna bahwa sesuatu akan terus berubah dan bergerak maju ke depan. Dalam dinamisnya kehidupan, manusia sering dihadapkan oleh masalah. Tidak hanya satu, tidak hanya dua. Masalah dapat datang bertubi-tubi. Jika sudah seperti itu, tiap orang pun pada akhirnya akan dihadapkan dengan pilihan tentang bagaimana dia harus menyelesaikan masalah dalam kehidupannya. Adalah Wild, sebuah film adaptasi dari buku memoir laris berjudul Wild: A Journey from Lost to Found karangan Cheryl Strayed yang dikarang berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis menjadi sebuah film yang dalam akan makna kehidupan manusia yang menyentuh titik terendah dalam hidupnya dan bagaimana dia berusaha untuk menenangkan diri dan menemukan jati dirinya.
Wild mengisahkan tentang Cheryl Strayed (Reese Witherspoon) yang memutuskan untuk melakukan hiking sendirian lebih dari 1.100 mil (1.800 km) selama kurang lebih 3 bulan di sepanjang jalur Pacific Crest Trail (PCT) sebagai usahanya untuk menenangkan diri atas masalah-masalah yang dia alami di kehidupannya yang berkaitan dengan ibu, suami dan masa kelamnya di masa lalu.
Begitu film dimulai, dari awal saya sudah merasakan atmosfir petualangan yang amat kental. Ditambah dengan teknik foreshadowing dalam pembukaan yang begitu menyita perhatian sehingga membuat kita tanpa diragukan lagi akan duduk manis menontonnya untuk menantikan apa yang akan terjadi di dalam film ini sampai akhir. Terlepas dari pembukaannya, Wild merupakan sebuah cerita non-linear yang mengisahkan kegiatan hiking Cheryl yang menantang secara berurutan diselingi dengan flashback kehidupannya secara acak dimulai dari masa kecilnya hingga dia dewasa dan terperosok di lubang hitam nan kelam dalam kehidupannya.
Meskipun tema film seperti ini bukanlah sesuatu yang baru karena Into the Wild (2007) dan 127 Hours (2010) pernah menawarkan sensasi yang serupa, tetap saja, Wild terasa mempesona dan sukses membuat saya larut dalam cerita dan menjadi emosional dibawanya. Segala hal di Wild adalah satu paket yang sudah ideal dan saling menguatkan satu sama lain. Setelah sukses dengan Dallas Buyers Club (2013), sang sutradara Jean-Marc Vallée kembali berhasil mengukuhkan kualitasnya di ranah Hollywood dengan mengarahkan film berdurasi 115 menit ini secara apik. Naskah screenplay garapan Nick Hornby pun terasa pas dan indah dengan menyajikan dialog-dialog casual yang mengailir apa adanya dengan sedikit sentuhan kutipan sastra yang sangatlah efektif untuk membuat kita termenung sejenak dan meresapinya. Belum lagi pemilihan original soundtrack yang terasa klop dari adegan ke adegan.
Dan jangan lupakan tentang performa sang karakter utama yang merupakan salah satu kunci krusial dalam film ini yaitu Reese Witherspoon, sang aktris terang-redup. Terang-redup disini maksudnya adalah Witherspoon merupakan seorang aktris yang terkadang menjulang tinggi karena beberapa film yang dibintanginya, sebut saja Walk the Line (2005) yang berhasil membuatnya memboyong pulang piala Oscar sebagai pemeran utama wanita terbaik. Tetapi, dia agak sedikit redup ketika membintangi film berjudul Devil’s Knot (2014). Dan untungnya, Witherspoon menunjukkan performa yang teramat baik dan luar biasa terang yang bahkan sampai menyilaukan di Wild. Witherspoon sukses menggambarkan karakter Cheryl Strayed sebagai seorang wanita yang tangguh meskipun batinnya berteriak kesakitan karena banyaknya kejadian kelam di masa lalunya. Dan proses yang ditampilkan disini tentang perubahan emosi Cheryl Strayed dari awal dia melakukan hiking hingga akhirnya dia mencapai titik dimana pada akhirnya dia menemukan kedamaian pada dirinya dan ‘menemukan’ dirinya kembali dilakoni oleh Witherspoon dengan sangat meyakinkan, memikat dan penuh totalitas. Nilai-nilai feminisme pun tak luput ditonjolkan olehnya. Tidak heran karena film ini, Witherspoon dinominasikan di Golden Globe Awards dan Oscar tahun ini sebagai pemeran utama wanita terbaik.
Dari film ini pun saya mengambil banyak pelajaran. Antara lain bahwa hendaklah kita harus selalu menyayangi orang yang mengasihi kita terutama keluarga sebelum semuanya terlambat. Dan bahwa di tiap kejadian buruk yang menimpa kita, kita masih dapat menemukan sesuatu yang patut untuk disyukuri. Klise memang, tetapi film ini menyampaikannya dengan sangat baik. Pada akhirnya, Wild merupakan film yang menginspirasi dan hampir tanpa cela. Kalaupun ada sedikit kekurangannya, saya rasa hal tersebut tidak perlu untuk diutarakan karena tidak merusak keindahan film secara keseluruhan.


