Review: A Walk Among the Tombstones (2014)

Liam Neeson tampaknya semakin menorehkan nama besarnya pada papan-papan thriller Hollywood yang beredar beberapa tahun terakhir. Namun, semakin sering ia muncul ke permukaan, semakin sering pula ia terperosok ke dalam “lubang hitam tak berujung” film-film drama kriminal generik, yang kerap kali kamu temukan di bioskop. Bukan mustahil, kalau suatu saat nanti, Neeson mulai mendapat “penghakiman” tak mengenakkan, seperti yang dialami oleh Jason Statham, Sylvester Stallone maupun Steven Seagal.
Lupakan sejenak Neeson. Kita punya seorang mantan polisi bernama Matt Scudder, yang masa lalunya dipenuhi oleh perceraian dan bau alkohol. Seperti pada film-film yang pernah disusupi Neeson sebelumnya, Scudder punya tatapan bengis dan tidak segan membunuh siapapun yang ada di hadapan. Bahkan, cara mengancam secara sadistis yang pernah sang aktor lontarkan dalam Taken (2008), juga hadir dalam film yang diarahkan oleh Scott Frank ini.
A Walk Among the Tombstones membikin saya ingin bergurau, bahwa jika kamu pernah menonton satu saja film Neeson sewindu terakhir ini, kamu tidak perlu capek-capek mencicipi sisanya. Toh itu hanya gurauan belaka, beberapa sahabat saya sempat setuju dengan hal tersebut. Dan, apa yang saya alami dalam film teranyarnya ini serupa: protagonis yang melompong, para karakter pendukung yang enggak banget, hingga plotnya yang fakir. Walaupun demikian, performa Neeson tetap stabil seperti biasa.
A Walk Among the Tombstones merupakan opsi tepat bagi kamu yang kurang kerjaan dan ingin membuang-buang waktu. Akan tetapi, bukan pilihan akurat bagi kamu yang berkehendak mendapat suguhan drama kriminal berkualitas. Sebab, masih ada Gone Girl (2014), Nightcrawler (2014), Side Effects (2013), El Cuerpo (2013), juga Looper (2012) buat kamu para pecandu crime thriller. Bahkan, kalau kamu tetap ngotot ingin mencicipi thriller prosedural semacam ini, Prisoners (2013), The Girl with the Dragon Tattoo (2011), Zodiac (2007), Mystic River (2003), Se7en (1997) serta The Usual Suspects (1995) selalu menunggu untuk dijamah.
