Review: Matchstick Men (2003)
lie cheat steal rinse repeat
Sekitar 1-2 tahun yang lalu, secara tidak sengaja saya menonton film ini di TV lokal. Ceritanya yang unik dan tidak membosankan menuntun saya hingga selesai. Filmnya cukup berkesan hingga beberapa bulan yang lalu saya mencarinya dan menonton ulang. Sama seperti pertama kali menonton, saya masih sangat suka sekali dengan film ini. Cerita, akting, dan segalanya benar-benar tampak pas. Karena beberapa hari yang lalu saya baru menontonnya lagi, sepertinya saya tidak punya alasan untuk tidak me-review film ini, apalagi saya yakin banyak yang kurang tahu keberadaan film ini.
Matchstick Men berkisah tentang Roy dan Frank sepasang partner dalam hal tipu-menipu. Ya, menipu orang memang mata pencahariannya. Tapi di sini, mereka menipu dalam skala besar sampai-sampai Roy bisa punya rumah besar dengan kolam renang dan Frank bisa punya mobil sporty mahal. Di tengah film, Roy baru mengetahui bahwa ia memiliki anak perempuan hasil dari pernikahannya dulu. Angela, anak Roy, kini sudah berumur 14 tahun dan hingga akhir film memainkan peran penting. Selain kisah tipu-menipu dan anak perempuan Roy, kita juga disajikan Roy yang berusaha melawan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) yang ia miliki. Roy sangat anti sekali pada kotor, hingga kadang bisa membuatnya muntah. Hal yang cukup aneh, karena sepanjang film Roy terus merokok. Ketiga hal di atas bersatu padu dalam memberikan cerita yang sangat baik.

Saya bukan fans Nicolas Cage maupun sutradaranya, Ridley Scott. Pertama kali saya menyaksikan Nic Cage di film favorit ibu saya, Face/off di mana ia bertukar wajah dengan John Travolta, literally. Untuk Ridley Scott sendiri, sepertinya ini adalah satu-satunya film dia yang saya tonton secara penuh dan berulang-ulang, serius. Tapi dari segi akting maupun penyutradaraan, saya sangat puas sekali. Nicolas Cage ternyata mampu tampil lebay tanpa berlebihan ketika OCD-nya sedang kambuh, bila dibandingkan dengan akting penyakitannya di Ghost Rider: SoV, akan terlihat seperti langit dan bumi.
Tiap adegan disajikan seperti semuanya adalah kereta gandeng. Sehingga sangat sulit untuk berhenti menonton, karena nantinya hanya rasa penasaran yang ada. Diiringi dengan dialog cerdas dan tidak biasa, membuat film ini makin spesial. Apalagi hal-hal kecil dari awal film yang sepertinya sepele malah menjadi clue untuk endingnya. Pada akhirnya, kita cuman bisa bilang “Oh iya!”.
Hal lain yang saya sukai juga adalah scoring dan soundtracknya. Setelah saya cari infonya, ternyata Hans Zimmerlah yang bertanggung jawab untuk semuanya, tidak heran. Semuanya pas, dari lagu pembuka hingga penutup berjalan bersebelahan dengan penceritaannya, membantu penonton mendapatkan emosi yang diinginkan.
Bila Anda punya waktu luang, coba tonton film ini dan Anda bisa berterima kasih pada saya nanti.


