Review: Maleficent (2014)

Studio Walt Disney kali ini memberikan cerita tentang fairy tale dengan cara yang berbeda. Kalau biasanya kita disuguhkan cerita dari sudut pandang sang putri, di Maleficent, kita diberikan kesempatan untuk melihat jalannya suatu cerita melalui sudut pandang sang peri jahat yaitu Maleficent (bisa dibilang begitu jika kita merujuk dari film animasi Sleeping Beauty di tahun 1959)
Cerita yang ditulis oleh Linda Woolverton yang juga merupakan penulis naskah Beauty and the Beast dan The Lion King dibuka dengan penjelasan oleh narator tentang adanya dua wilayah yang saling berdekatan, yaitu wilayah kerajaan yang berisi manusia-manusia serakah dan haus akan kekuasaan. Dan wilayah satu lagi adalah Moors, tempat yang penuh dengan unsur magis dan makhluk-makhluk tidak biasa, salah satunya peri. Di antara makhluk-makhluk yang ada di Moors, terdapat Maleficent (Angelina Jolie), sesosok peri dengan sayap dan tanduknya. Di film ini, penonton dapat melihat Maleficent semenjak dia kecil yang digambarkan sebagai seseorang yang energik dan menyenangkan. Lalu, Maleficent bertemu dengan Stefan (Sharlto Chopley) yang mana adalah seorang manusia dan mereka mulai berteman hingga mereka dewasa dan Maleficent merasakan sesuatu yang lebih dari sekedar pertemanan.
Tapi seiring dengan mereka beranjak dewasa, Stefan berubah menjadi seseorang yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan tahta di kerajaan. Stefan lalu memotong sayap Maleficent ketika Maleficent sedang lengah dan membawanya ke raja (Kenneth Cranham) sebagai tanda bahwa dia telah membunuhnya sebagai syarat untuk menduduki takhta kerajaan. Diliputi rasa marah dan kecewa, jadilah Maleficent berubah menjadi seseorang yang kelam dan jahat yang pada akhirnya nanti mengutuk anak raja Stefan yang baru lahir yaitu putri Aurora yang diperankan oleh Elle Fanning (Kau pasti tahu benar seperti apa kutukannya jika masih ingat cerita Sleeping Beauty).

Film ini sangat kental dengan unsur fairy tale, hanya saja ini terasa lebih kelam dan gelap. Yang menonjol dari film ini adalah karakter utamanya yang diperankan oleh Angelina Jolie. Jolie bisa dibilang pas dan menjiwai dalam memerankan Maleficent dengan beberapa faktor pendukung seperti kostum dan make up yang membuat tulang pipinya teramat sangat tirus. Meskipun di beberapa adegan saya sempat merasakan bayang-bayang karakter Lara Croft, tapi setidaknya akting Jolie jauh lebih unggul dibandingkan pemeran lainnya yang terasa statis dan monoton. Elle Fanning sebagai putri Aurora pun gagal mencuri perhatian saya.
Robert Stromberg didapuk menjadi sutradara dan Maleficent merupakan film pertama arahannya setelah sebelumnya dia banyak bergabung di tim visual effect untuk film-film besar seperti 2012, The Hunger Games, dan Life of Pi. Setelah melihat bahwa Stromberg sudah banyak terlibat dalam hal visual effect, CGI effect dan sebagainya, tidak heran jika di film ini visual effect yang disajikan sangatlah luar biasa dan memanjakan mata kita dan sekilas mengingatkan saya akan film Oz the Great and Powerful. Keindahan visual effectnya berkolaborasi serasi dengan music scoring yang digarap oleh James Newton Howard (Snow White and the Huntsman, Salt). Meskipun visual effect dan music scoringnya bisa dibilang megah dan luar bisa, tetapi terkadang terasa berlebihan di beberapa adegan sehingga mencederai estetika dari film ini sendiri.
Jalan cerita yang disuguhkan dikemas secara sederhana dan mudah dipahami. Di film ini, terdapat penyimpangan jalan cerita dari versi Sleeping Beauty yang membuat Maleficent tidak sepenuhnya menjadi karakter antagonis. Maleficent pada akhirnya menjadi karakter in-between. Menjadi sesosok karakter yang jahat dan baik. Plot pacing film ini terasa agak datar dan lamban di pertengahan film dan adegan ketika membangunkan putri Aurora dari tidur abadinya pun yang seharusnya menjadi titik klimaks, terasa anti klimaks dengan eksekusi yang kurang berkembang dan optimal. Perseteruan yang terjadi di akhir film pun terasa sangatlah biasa dan nothing special. Dan seperti biasa, meskipun film ini disajikan dengan tone yang gelap dan kelam, tetap saja sebuah happy ending adalah keharusan. Pada akhirnya, film ini juga merupakan bagian dari sebuah cerita fairy tale.

