Review: The Fault in Our Stars (2014)

Adaptasi novel remaja atau yang biasanya disebut dengan istilah young adult sepertinya sedang digandrungi oleh Hollywood. Salah satunya adalah novel karya John Green berjudul The Fault in Our Stars ini yang mulai tayang reguler di Indonesia Kamis, 26 Juni 2014 ini.
Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley) adalah seorang gadis remaja penderita kanker Tiroid yang telah menyebar ke paru parunya sehingga dia harus menggunakan tabung oksigen untuk membantunya bernapas. Atas permintaan ibunya, Hazel terpaksa untuk menghadiri pertemuan dengan kelompok pendukung penderita kanker, yang tidak disangka oleh Hazel pada salah satu pertemuan inilah dia bertemu dengan Augustus Waters (Ansel Elgort) seorang penderita Osteosarcoma yang sudah sembuh dari kanker setelah kakinya diamputasi.
Hazel kemudian memperkenalkan Augustus buku favoritnya yang berjudul An Imperial Affliction kepada Augustus, dan keinginan Hazel untuk mengetahui kelanjutan kisah tokoh tokoh dalam buku tersebut setelah kematian tokoh utamanya. Melalui bantuan Augustus yang berhasil menghubungi penulis buku tersebut, Peter Van Houten (Willem Dafoe) melalui asistennya Lidewij (Lotte Verbeek), Hazel dan Augustus pun merencanakan perjalanan menuju Amsterdam kota dimana Peter Van Houten tinggal sekarang untuk mengetahui kelanjutan kisah dalam novel tersebut.

Mungkin di antara kalian ada yang sudah membaca terlebih dahulu The Fault in Our Stars dan mengetahui kisah akhirnya. Tapi tenang saja, untuk yang belum membacanya, saya tidak akan membocorkan bagaimana endingnya. Yang ingin saya katakan, ini adalah sebuah film yang sangat manis tetapi juga memilukan. Pada awal film kita ditawarkan adegan-adegan manis antara Hazel dan Augustus yang sukses membuat saya senyum senyum sendiri. Berterima kasihlah kepada chemistry antara Woodley dan Elgort yang terlalu begitu nyata. Kalau pada Divergent kedua orang ini memerankan kakak beradik, pada film ini mereka sukses meyakinkan saya sebagai pasangan remaja.
Paruh kedua film ini menawarkan sesuatu yang lebih menyedihkan dengan penggambaran bagaimana penderitaan Hazel dan Augustus dalam melawan kanker. Ya, sekali lagi mereka berdua kembali memberikan performa yang menakjubkan. Hal lain yang saya suka dari film ini adalah bagaimana ia sukses menghindar dari kisah-kisah drama klise yang hanya menawarkan penderitaan tiada akhir serta penjelasan penjelasan medis mengenai kanker yang akan membuat sebagian besar penonton garuk-garuk kepala.
Jika kalian ingin mencari sebuah tontonan ringan dan manis serta penuh dengan quote indah, The Fault in Our Stars merupakan sebuah film yang pas. Walaupun pada akhirnya, film ini gagal membuat saya meneteskan air mata, setidaknya beberapa bagian sukses membuat saya tersentuh.
