Review: What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013)

Saya pastikan bahwa memang benar judul aslinya segitu panjang dan bahwa film ini hanya tayang di (kalau nggak salah) 16 bioskop di Indonesia (mohon maaf saya lupa persisnya). Saya kebetulan nonton film ini waktu tayang di ARTE Indonesia di bioskop fX. Cuma sehari. Mouly Surya sendiri kebetulan tidak bisa hadir karena sedang berada di Hong Kong untuk film ini juga. Dengan label Sundance Film Festival (ya, film ini adalah film Indonesia pertama yang berhasil tembus ke sana), jumlah penontonnya banyak, hampir full house.
Menurut sang sutradara sendiri, film ini memang segmented, mungkin tidak semua orang bisa menikmati film ini. Bisa dibilang, film ini cocok dikategorikan dalam art film. Lambatnya pacing dalam film ini membuat sebagian orang yang tidak bisa menikmati mungkin saja tertidur, atau bahkan walkout dari bioskop. Dan itu bukan kesalahan, karena mungkin saja film ini tidak cocok bagi mereka. Tapi sekalinya anda berhasil mengikuti alur cerita film ini, anda akan terkagum-kagum oleh kehebatan film ini mengalirkan pemikiran-pemikiran cerdas para pembuatnya. And yes, film is a collective art. Mereka, para pembuatnya, akan membuat anda membeku dalam keindahan sebuah film Indonesia yang jarang anda rasakan di film Indonesia lainnya. Dan anda akan semakin menghargai film Indonesia karena Mouly Surya berhasil membawa nuansa baru yang patut diapresiasi.
Ini adalah kisah 3 murid tunanetra, Diana (Karina Salim), Fitri (Ayushita) dan Andika (Anggun Priambodo) yang bersekolah di sebuah SLB. Diana adalah seseorang yang partially-sighted, masih bisa melihat walaupun harus dalam jarak 1 inci. Diana sudah berumur 17 tahun, namun belum juga menstruasi. Andika, seorang tunanetra, adalah murid baru di sekolah itu dan Diana jatuh cinta. Untuk menarik perhatian Andika, Diana membeli parfum. Cinta Diana pada Andika sudah jelas, tapi apakah Andika jatuh cinta padanya?

Sementara Fitri yang juga tunanetra jatuh cinta pada hantu dokter yang ada di sekolahnya. Dia selalu mengirim surat yang berisi hal-hal personal kepada hantu dokter tersebut, sampai pada suatu hari, Fitri terhenyak bahwa ternyata hantu dokter tersebut hanyalah seorang laki-laki biasa bernama Edo (Nicholas Saputra). Edo adalah seorang tunarungu. Kalau saja Fitri bisa melihat dan Edo bisa mendengar, mungkin mereka sudah jatuh cinta sejak dulu.
Cerita film ini berkisar di antara hubungan mereka. Mouly Surya bereksperimen dengan pacing, memberikan jeda waktu kepada kita untuk bisa mengikuti para karakter bereksplorasi dengan indera yang mereka miliki: merasakan, mendengar, mencium. Pada umumnya, orang dengan berkebutuhan khusus tersebut memang memiliki jeda waktu yang lebih lama ketimbang orang yang tidak berkebutuhan khusus untuk merasakan lingkungan mereka. Rasa itu yang di-emphasize oleh Mouly Surya sehingga hal ini menjadi semakin nyata, didukung dengan, misalnya, penggunaan steadycam dan lamanya shot saat mereka berjalan di koridor. Musik yang mengalun juga turut memunculkan suasana ‘merasakan’ tersebut. Suara juga turut berperan penting dalam film ini; setiap suara yang kita dengar adalah suara pendukung rasa tersebut.
Permainan dengan alternate reality juga turut mendukung film ini menjadi semakin cerdas. Ditambah dengan tidak adanya perbedaan antara dunia sebenarnya dan alternate reality yang mungkin saja membingungkan, namun ketika sudah berhasil dipecahkan, kita sadar bahwa pada dasarnya memang tidak ada bedanya antara dunia mereka yang berkebutuhan khusus dan dunia mereka yang tidak berkebutuhan khusus.

Saya enggan bercerita lebih jauh tentang film ini. Film ini, apalagi di layar lebar dengan details yang lebih bisa dilihat ketimbang di layar kecil, berhasil menyetrum saya dan anda harus merasakannya sendiri.
Mouly Surya mengaku terinspirasi oleh saudaranya yang tunanetra namun tetap bisa memiliki dan mengakses akun Facebook. Sepertinya dia ingin kita merasakan bahwa mereka juga memiliki kehidupan yang sama dengan kita, termasuk untuk merasakan cinta. Dan hal itu terungkap jelas. Saya bisa merasakan cinta para karakter di film ini, termasuk merasakan cinta para pembuatnya terhadap film ini. Film yang penuh cinta. Film yang membanggakan. No wonder it got officially selected in Sundance and Rotterdam.
Brilian. Andai saja para ‘pedagang film’ yang senang membuat film asal-asalan melihat, mendengar, dan lebih penting lagi, merasakan kecerdasan film ini.

