Review: Ain’t Them Bodies Saints (2013)
Sebuah sumber mengatakan Casey Affleck telah mengonfirmasi bahwa Ain’t Them Bodies Saints tidak memiliki makna aktual untuk film yang digawangi David Lowery ini, kecuali sekadar misinterpretasi lirik sebuah lagu. Baiklah, mungkin di antara kamu ada yang bertanya-tanya perihal judul tersebut, kini semuanya sudah jelas. Filmnya sendiri mengiprahkan dua sejoli sekaligus kriminal, yang harus terpisahkan karena salah satu dari mereka masuk hotel prodeo.
Kini, Ruth Guthrie (Rooney Mara) harus mendekam sendiri di tempat tinggalnya bersama seorang anak yang telah lahir. Di wajah mereka tampak keceriaan. Meski demikian, tampaknya Ruth masih merindukan sang suami, Bob Muldoon (Casey Affleck), untuk pulang meski mustahil. Detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari, Ruth terus menunggu dan menunggu, bahkan mereka sempat berkirim surat.
Ain’t Them Bodies Saints punya segalanya untuk menjadi suguhan yang menggairahkan, kecuali ketika plotnya seperti berjalan di tempat, hingga terkesan tidak ada pengembangan sama sekali. Sinematografi yang ciamik, seperti wilayah terpencil di Texas beserta lampu-lampu redup barnya, yang mencerminkan gaya neo-noir turut menambah rentetan bahwa ia merupakan film yang mumpuni di banyak aspek. Belum lagi dialog-dialognya yang puitis dan performa para aktor-aktrisnya yang memikat, khususnya Mara.
Mara telah membuktikan bahwa ia bisa menjadi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Mulai dari menjadi pacar Mark Zuckerberg di The Social Network (2010), gadis berdandanan punk di The Girl with the Dragon Tattoo (2011), hingga wanita muda hampir gila di Side Effects (2013). Apa lagi yang kamu harapkan? Ia telah lakukan banyak hal, sampai-sampai saya sulit memprediksi peran apa lagi yang akan ia miliki di masa mendatang.
Ain’t Them Bodies Saints merupakan thriller romansa tentang kesepian yang bergerak selambat siput. Mereka yang tidak bisa banyak bersabar, akan ingin cepat-cepat meninggalkannya. Namun, mereka yang masih bisa bersabar, akan mendapatkan sajian yang terbilang mumpuni di genrenya. Meskipun plot yang tersuguh terlihat generik, karakterisasinya sungguh dalam dan bermakna, serta sinematografi yang memanjakan mata. Tidak lupa, scoring melankoli yang apik turut ambil bagian — meski kurang berhasil mengatrol emosi penonton.

