Review: Side Effects (2013)

Adalah Emily (Rooney Mara). Wanita muda yang baru bertemu suaminya, Martin (Channing Tatum), setelah berpisah cukup lama karena suaminya tersebut dibui. Emily sudah jatuh terlalu dalam ke masa lalunya. Depresi terus melanda pikirannya hingga ia nyaris bunuh diri. Pada akhirnya, bertemulah ia dengan seorang psikiater, dr. Jonathan Banks (Jude Law), yang memberinya obat antidepresi — yang memiliki efek samping mengerikan.
Sebagai sebuah film perpisahan, Side Effects merefleksikan betapa serius dan ambisius Steven Soderbergh dalam menggawanginya. Thriller “sinting” ini punya segalanya yang diekspektasikan oleh para thriller junkie. Mulai dari “kelokan-kelokan” yang membikin plot semakin menyentak, penyutradaraan yang luar biasa hingga performa para aktor-aktrisnya yang memincut.
Tidak hanya itu, Side Effects juga mumpuni mencitrakan persepsi yang berbeda melalui kontorsi naratifnya ketika plotnya perlahan mencuat. Tindak-tanduk seperti ini akan jarang ditemui di film-film serupa di luar sana. Ketika penonton mulai tahu apa yang sedang terjadi, secara tiba-tiba, mereka dibuat berubah perspektif 180 derajat.
“Truth hurts.” Ada pepatah yang pernah bilang demikian. Dan saya kira itu benar dalam konteks Side Effects. Di tangan Steven Soderbergh, film yang disebut banyak kritikus sebagai thriller modern ala Hitchcock ini — sekaligus ditopang dengan tata musik dari Thomas Newman dan naskah apik dari Scott Z. Burns — mampu menyuguhkan tensi tinggi dan stabil dari introduksi hingga konklusi dalam balutan cerita yang solid, sehingga sulit bagi saya untuk tidak mengatakan bahwa Side Effects merupakan salah satu thriller terbaik tahun ini.

