Review: Texas Chainsaw 3D (2013)

Jujur, saya sih belum pernah mencicipi versi orisinalnya; The Texas Chainsaw Massacre (1974). Namun, hal tersebut tidak berhasil mengurungkan niat saya untuk tetep mencoba versi daur ulang yang kali ke sekian dari slasher-thriller ini. Salah satu alasan saya ‘berani’ mencicipi versi anyar ini ialah, hanya sekadar ‘mencari pengalaman’, karena saya memandang versi daur ulang The Texas Chainsaw Massacre (2003) terbilang mumpuni untuk membuat jantung saya berdegup kencang kala itu.
Berbekal naskah baru dari Adam Marcus, Debra Sullivan dan Kirsten Elms, Texas Chainsaw 3D seperti mendapat angin segar untuk kembali ingin menarik simpati audiens dengan berbagai kesadisannya. Masih serupa dengan kisah-kisah pendahulunya, di mana sekelompok remaja badung dikejar-kejar seorang bertopeng kulit manusia harus melarikan diri atau mereka akan mati. Dengan sedikit perbedaan, kali ini sang protagonis Heather (Alexandra Daddario) diwariskan sebuah rumah antik oleh neneknya. Bersama teman-temannya ia pergi ke tempat tersebut. Hanya saja satu hal yang mereka tidak ketahui, yakni rumah tersebut punya ‘hadiah’ lain yang mengerikan.
Pada dasarnya, Leatherface boleh dibilang salah satu peneror favorit saya di antara para peneror pada film-film horor lain. Namun, persepsi saya agak bergeser setelah mencicipi Texas Chainsaw 3D. Leatherface yang selalu tampak kejam, di sini terlihat seperti kriminal ‘murahan’ yang hanya bisa berlari-lari. Bahkan, lebih parahnya lagi, saya tidak merasa ketakutan sedikit pun ketika sosoknya muncul ke permukaan untuk meneror para pria dan gadis seksi di film ini. Selain itu, Heather juga banyak melakukan tindakan-tindakan bodoh, yang justru membikin saya kesal tak karuan.
Selain untuk mendapati wajah cantik dan tubuh seksi Daddario, Texas Chainsaw 3D jelas-jelas muncul sebagai sebuah kekecewaan. Di awal terlihat versi daur ulangnya ini akan menuju ke sebuah kisah yang menggairahkan. Sayangnya, di pertengahan hingga akhir berubah menjadi sebuah kisah lama yang justru tampak buruk. Bahkan, selipan adegan bondage di dalamnya tidak sanggup menyelamatkan film horor arahan John Luessenhop ini dari kemundurannya ketika dibandingkan dengan remake sebelumnya, The Texas Chainsaw Massacre (2003).

