Review: Madre (2013)
Kalau tidak salah, Madre adalah film keempat yang diadaptasi dari buku karya Dee Lestari. Saya sendiri belum pernah membaca buku Madre ya, tapi saya cukup yakin mereka melakukan banyak perubahan. Karena pertama, Madre awalnya hanyalah sebuah cerita pendek. Kedua, saya masih kurang percaya bahwa Madre aslinya penuh dengan komedi. But then again, I could be wrong. Mungkin kalian yang sudah membacanya bisa membenarkan saya.
Oke, kebetulan saya dapet special screening Madre satu hari sebelum jadwal rilisnya, 28 Maret. Sebelum film diputar, para cast & crew memberi kata sambutan. Seperti kata Vino G. Bastian, “Lupain bukunya, tonton dan nikmati saja filmnya”. Madre sepertinya bisa dibilang lebih loosely based ketimbang adaptasi langsung seperti Perahu Kertas 1&2 atau Rectoverso. Bercerita mengenai Tansen (Vino G. Bastian), remaja berumur 27 tahun yang tiba-tiba mendapat warisan sebuah biang roti berusia puluhan tahun yang diberi nama Madre. Usut punya usut, Madre ini bisa dibilang sebagai resep rahasia dari toko roti yang dulunya sukses bernama Tan De Bakker. Tansen yang seorang surfer, terbiasa dengan kebebasan. Ia gagap akan tanggung jawab sebuah toko roti beserta resepnya. Apalagi ketika datang Mei (Laura Basuki), seorang pengusaha roti juga, yang terobsesi dengan Madre, biang roti itu.

Ada kutipan dari film ini yang saya ingat samar-samar, “Kamu bisa naklukkin laut, tapi tenggelam di sungai”. Ya, Madre juga seperti itu. Punya keunggulan di beberapa hal penting, tapi terkadang jatuh di hal-hal dasar, atau lebih spesifiknya segi teknisnya. Mulai dari sinematografi, editing filmnya, hingga ke soundnya, tergolong di bawah rata-rata. Hal yang cukup aneh mengingat Madre disturadarai oleh Benni Setiawan, yang notabene adalah sutradara dari 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (Film pemenang FFI 2010). Sinematografinya biasa, padahal seharusnya bisa lebih. Syuting mayoritas diambil di Bandung, dan terkadang di Bali. Namun, Benni Setiawan bersama timnya menurut saya gagal dalam menyajikan yang terbaik dari Bandung dan Bali. Saya pun hanya ingat 2 tempat, toko roti dan pantai. Belum lagi editing filmnya, kasar, terlalu melompat-lompat. Jangankan mengomongkan kontinuitas, bahkan editingnya saja menggangu story-telling dari Madre. Dan terakhir sound editingnya, melihat karakternya berbicara seperti melihat mulut mereka bergerak lalu ada suara yang keluar entah darimana. Rasa yang sama seperti mendengar suara Bane di TDKR, atau simpelnya, seperti di-dubbing.
*penulis berusaha keras untuk tidak memberi referensi kepada acara Indosiar*
Oke, Madre tenggelam di sungai. Tapi ia berhasil menaklukkan laut. Menurut saya chemistry antar 3 aktornya berjalan dengan baik. Vino G. Bastian, Laura Basuki, dan terutama Didi Petet bisa membawa saya hanyut ke dalam komedi dan romansanya. Didi Petet terutama ya, Madre akan hambar tanpa dia. Dan Laura Basuki, dia diam saja saya bakal nonton filmnya. Such a gem.
Plotnya, meski banyak sekali bisa ditemukan bolong-bolongnya, saya berusaha untuk tidak peduli dan menjalaninya saja. Pada akhirnya Madre berjalan terlalu lama, sekitar 2 jam kalau tidak salah. Ini seharusnya bisa diperpendek, apalagi konflik Madre sebenarnya berputar-putar pada kelabilan Tansen saja. Tapi overall, it’s not a bad story. Btw, saya sih masih nggak ngerti itu silsilah keluarga Tansen hingga bisa dapet warisan atau hubungan kerja antara Mei dan Tansen itu seperti apa. Tapi, film beginian nggak usah dibawa pusinglah.
Madre memang gagal menjadi film adaptasi karya Dee terbaik, tapi buat hiburan semata, Madre bukanlah pilihan yang buruk.

