Review: A Little Thing Called Love
What would you do for your first love?
Semua orang pasti punya kisah cinta pertamanya pada saat masa-masa sekolah, dan tentunya tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup kita. Ada yang bilang itu cinta monyet, tapi tidnak jarang juga itu malah menjadi cinta sejati kita. Most of the times, funny things happen along the way, and we will always have our high school crush that, somehow, we could never forget. Dan premis itulah yang coba ditawarkan oleh A Little Thing Called Love.
Film yang berjudul lengkap “First Love: A Little Thing Called Love” dan juga sering disebut “Crazy Little Thing Called” (saya sendiri juga gak tau sebenernya judul yang benernya apa) berkisah tentang Nam, seorang perempuan yang hitam, dekil, dan sangat tidak menarik yang memendam rasa kepada Shone, seniornya yang 180 derajat berbeda dengan Nam. Shone memiliki semuanya, tubuh yang sempurna, wajah yang menawan, jago olahraga, dan juga baik terhadap siapa pun. Namun Nam sadar, dirinya sama sekali di luar perhitungan dalam mengejar Shone. Maka Nam melalui segala cara yang ia temukan berusaha untuk mendapatkan pria idamannya, termasuk mengubah penampilannya. Sedikit demi sedikit, Nam yang awalnya sangat jelek, berubah menjadi perempuan yang sangat cantik. Cukup cantik untuk menahan penonton di kursinya selama 2 jam lebih. Tapi dengan segala perubahan terhadap dirinya, justru teman dekat Shonelah yang menaruh hati terhadap Nam. Alhasil, cinta segitiga terbentuk, tapi apakah pengorbanan Nam selama ini akan berbalas? Atau justru berakhir menyesakkan?
Tempo cerita yang tidak terburu-buru sempat membuat saya bosan di awal. Terutama ketika Nam masih jelek. Jujur saja, salah satu daya tarik film bertema romance adalah paras perempuannya. Tapi semua itu terbayar, ketika penampilan Nam berubah. Harus saya katakan, tim make-up film ini sangat briliant! Saya bahkan mengira bahwa Nam di awal dan akhir adalah dua orang yang berbeda. But they’re not! Karena sebenarnya, perubahan yang terjadi dalam diri Nam itulah yang menjadi highlight dari film ini. Dan sukses tergambarkan dengan baik oleh akting Pimchanok Leuwisetpaiboon. Mario Maurer, sebagai cowok idaman, berhasil mempertahankan kharismanya hingga akhir film. Didukung dengan pemeran pendukung yang menambah bumbu komedi dan makin membawa penonton kembali ke masa-masa indah sekolah, A Little Thing Called Love adalah romantic-comedy yang dikemas dengan baik.
Salah satu hal yang saya tidak suka adalah scene terakhir di mana menggunakan adegan slow motion dan fade out-fade in yang mengingatkan saya terhadap sinetron. Merusak kesempurnaan yang sudah terjalin dari awal hingga hampir selesai film. Seharusnya, penyampaiannya bisa lebih baik lagi, menurut saya. Tidak ada yang salah dengan ceritanya anyway, hanya tidak suka dengan editingnya saja.
Terlepas dari hal tersebut, A Little Thing Called Love adalah sebuah film rom-com legendaris dari Thailand, yang akan selalu direkomendasikan oleh orang-orang. Well, they’re right about that!



