Review: RED 2 (2013)

Director: Dean Parisot | Country: US | Rating: PG-13 | Duration: 116 minutes
Masih ingat dengan RED (Retired, Extremely Dangerous) di tahun 2008?? Mungkin beberapa dari kalian masih mempunyai ingatan jernih tentang filmnya. Saya tidak. Saya ingat pernah menontonnya di TV kabel di rumah. It was dumb, but still, fun. Hanya itu saja yang saya ingat.
Lalu tahun ini datang sekuelnya RED 2. Mirip seperti Taken, menurut saya, hanya untuk mengeruk duit. It was pointless and an unneeded sequel. RED 2 masih membawa nafas film pertamanya yang komedik dan bodoh, namun kali ini terasa annoying. Karakter-karakternya kini terasa lebih seperti sinetron, yang kebodohannya adalah berfungsi sebagai plot device. Sure, some people may like it, but not me.
RED 2 berkisah tentang Frank Moses (Bruce Willis) yang harus kembali bekerja sama dengan Marvin (John Malkovich) ketika mereka berdua menjadi buronan internasional. Usut punya usut, hal ini berhubungan dengan masa lalu mereka, ketika mereka menjadi pengawal dari seorang ilmuwan pintar, Edward Bailey (Anthony Hopkins). Konon, Bailey adalah pencipta dari sebuah bom yang mampu meledakkan satu negara. Sebuah plot yang sudah ‘diperkosa’ Hollywood beberapa tahun terakhir ini.

So, as I said, RED 2 ini dumb and annoying. Tapi harus bila diadu dengan film Bruce Willis lainnya tahun ini, saya masih lebih bisa menerima RED 2. Setidaknya, meski berplot sederhana, otak saya masih sanggup bekerja di film ini. Beberapa kejutan diberikan beberapa kali, walau bukanlah hal sulit untuk menebaknya. Elemen fun-nya masih ada, meski sulit untuk ditemukan oleh saya, tapi bagi kalian yang benar-benar suka dengan seri pertamanya sepertinya tidak akan mengalami hal yang sama.
Lalu dari segi akting, ada Anthony Hopkins yang benar-benar mengambil spotlight di semua scenenya bersama dengan Helen Mirren. Bruce Willis is Bruce Willis, sedangkan John Malkovich seperti tidak mendapat banyak screen time. Ada juga Lee Byung-Hun yang di mata Hollywood hanyalah orang Asia yang bisa membunuh. Really, dari G.I. Joe hingga Red Lee Byung-Hun ini arc storynya sama. And then there is Mary Louise Parker, who I found to be really really annoying. Setiap kali karakternya bertindak atau berbicara bayangkan meme palm face.
And of course, there’s the action part. Generik namun masih bisa dinikmati khususnya adegan Lee Byung-Hun menghajar gerombolan polisi. Sedangkan visual efeknya sendiri dapat dikategorikan lumayan buruk, apalagi ketika ada unsur slow-motion. Ya masalahnya sebulan terakhir ini baru nonton Man of Steel sama Pacific Rim sih ya, standardnya mau tidak mau memang jadi naik.
Kalau kalian suka dengan seri pertamanya atau ingin menonton Expendables kw1, RED 2 mungkin jadi jawabannya.

