Review: Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986)

Saya lahir tahun 1993. Sudah jelas, film ini bukan film di era saya. Umur film ini saja lebih tua 7 tahun dibanding saya. Tapi ketika di tahun 2013 saya direkomendasikan untuk menonton film ini sebagai bahan referensi genre komedi romantis, saya harus akui bahwa film ini memang layak menyandang status “bahan belajar”.
Premisnya simpel: dua orang yang sebenarnya saling jatuh cinta tapi masing-masing penuh rasa gengsi. Ramadhan (Deddy Mizwar) adalah seorang fotografer sebuah surat kabar di Jakarta. Dia tinggal bersama pamannya, Markum (Ikranagara). Pada suatu ketika, dia berkesempatan untuk memotret pertandingan voli perempuan. Dia berhasil memotret Mona (Lydia Kandou), salah satu atlet yang sedang bertanding di match kali itu. Foto Mona dimuat di surat kabar dan Mona berhak atas hadiah Rp 10.000, - (ya, pada zaman itu, that was a lot of money), namun bukannya senang, Mona dan temannya, Marni (Ully Artha) malah marah, menganggap foto itu tidak pantas dan membuat Mona terlihat jelek. Marni mengancam akan menuntut surat kabar tempat Ramadhan bekerja. Sang pemred panik. Ramadhan disuruh mencegah Mona dan Marni. Dia berhasil, bahkan lebih jauh lagi, juga berhasil menikahi Mona. Namun, setelah menikah, sifat asli Mona dan Ramadhan baru keluar. Lebih parah lagi, nasihat yang diberikan orang-orang sekitar mereka membuat semuanya menjadi semakin runyam. Di sinilah kita melihat konflik utama film ini: apakah gengsi akan menang melawan cinta sejati?
Skrip film ini ditulis oleh Asrul Sani, maestro scriptwriting Indonesia. Beliau berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal dengan dialog-dialognya yang cerdas dan lucu. Gengsi antara Ramadhan dan Mona ditarik ulur sehingga kita merasakan tension-nya. Saya bersimpati terhadap kedua karakter karena pembangunan karakter mereka jelas; mereka loveable. Di satu sisi, saya bisa mengerti apa motivasi di balik sikap-sikap Ramadhan dan di sisi lain saya juga bisa memahami motivasi Mona dalam melakukan hal yang sebaliknya. Kehadiran para karakter pendukung, Markum dan Marni, juga tidak random. Mereka membangun tensi cerita bersamaan dengan konflik yang terjadi antara Ramadhan dan Mona. Lebih cerdas lagi, Asrul Sani di akhir film berhasil membalik semua konflik yang terjadi dengan surprising, membuat film ini menjadi terkesan “gila, bisa banget deh!”. Mungkin ada adegan yang kesannya sangat konyol, tapi saya bisa menerimanya, karena sejak awal saya sudah digiring untuk bisa menerima cerita yang konyol, jenaka namun cerdas dan sangat menghibur ini. Tidak heran film ini menyabet Piala Citra kategori Skenario Terbaik di Festival Film Indonesia 1986.

“Saban hari makan gado-gado!”
Skrip ini bisa jadi bencana kalau jatuh di tangan sutradara yang salah. Chaerul Umam, sang sutradara, berhasil membuat adonan skrip ini mengembang dengan sangat pas dengan hasil suatu film yang sangat menghibur. Istilahnya, kalau skrip yang ditulis Asrul Sani itu adonan chocolate mousse, maka filmnya tidak kelamaan dimasukkan dalam oven sehingga coklatnya meleber ke mana-mana, tapi juga tidak terlalu cepat diangkat sehingga coklatnya belum sempat meleleh. Film ini seperti chocolate mousse yang manisnya pas dan coklatnya meleleh dengan tepat ketika dibelah di tengah. Memberikan satu nuansa menyenangkan dan mengesankan bagi anda yang memakannya, bukan? Hal yang sama juga terjadi di film ini: memberikan suatu pengalaman menonton film yang menyenangkan dan mengesankan bagi saya.
Seperti yang sudah saya katakan bahwa skrip film ini sangat baik, hal tersebut juga didukung dengan akting para aktor yang juga tidak kalah bagus. Saya bisa merasakan chemistry dan gengsi Ramadhan-Mona, juga pentingnya kehadiran Marni dan Markum. Saya jatuh cinta terutama pada karakter Markum, yang digambarkan suka memberi nasihat, lebih tepatnya kritik, tentang perempuan dan pernikahan walaupun belum pernah menikah, sampai pada suatu titik, dia termakan sendiri oleh kritik-kritiknya. Ikranagara memainkannya dengan sangat baik.

Menurut saya, diam-diam Asrul Sani ingin mencurahkan buah pemikirannya terhadap pernikahan, tapi sama sekali tidak terkesan preachy. Saya rasa dia ingin membuat jenaka, kalau tidak dibilang mengkritik, tentang hal paling dasar dalam suatu hubungan: komunikasi. Bagaimana seharusnya perempuan berempati terhadap laki-laki dan sebaliknya. Pada akhirnya memang tidak ada orang yang bisa memahami 100% pasangannya, tapi bukankah itu fungsi dari cinta: untuk tetap setia dan saling mengasihi walaupun tidak selalu bisa memahami?
Film ini membawa kita merasakan jadul-nya Jakarta tahun 1980-an dan bagaimana film Indonesia tahun 1980-an dibuat. Kita akan disuguhi pemandangan Jakarta tanpa macet, bis-bis kota yang masih berhenti di halte dan penggunaan bahasa yang masih baku. Credit film masih ada di depan, lengkap dengan lagu pengiringnya, dengan background yang cukup polos, persis seperti film-film Hollywood yang jadul. Kita juga disuguhi musik yang kesannya pun masih jadul. Biar demikian, jujur saya menikmati musik yang ada di film ini. Pas dengan adegan-adegannya dan tidak berlebihan. Satu lagu, Kejar Daku Kau Kutangkap, dibuat sebagai leitmotif untuk rasa cinta antara Ramadhan dan Mona.
So far, saya bisa bilang bahwa inilah film komedi romantis terbaik Indonesia. Jika anda mengaku gemar menonton film komedi romantis, maka film ini harus ada dalam daftar tontonan anda.

