Review: Django Unchained (2012)

Berhubung Quentin Tarantino sendiri membuat film dengan kesan suka-suka dia, saya pun akan mengikuti jejaknya dengan menulis ini suka-suka saya. Bakal banyak kata kotor juga, sama seperti filmnya. Dan akan ada beberapa spoiler ringan. I’ve warned you.
There’s awful lot of “ANJIIIIIIIIIING!!!” moment in ‘Django Unchained’ and I just gave my computer screen a standing ovation.
— Janitra Ayu (@jxnxt) January 7, 2013
You know, that tweet really made me laugh a lot, but it’s true, kecuali gue nontonnya di TV. Seperti yang kita ketahui sama-sama, distributor film kita ini emang tai, dari 9 nominasi best picture Oscar 2013 cuman Life of Pi dan Les Mis yang sudah tayang reguler. Amour hanya bisa dinikmati sesaat dan segelintir orang saat Europe On Screen kemarin, dan kabarnya Beast of Southern Wild baru akan rilis bulan depan. Lalu ke manakah Argo, Zero Dark Thirty, Lincoln, Silver Linings Playbook, dan tentunya Django Unchained? Walau pun kabarnya distributor sedang menimbang-nimbang untuk memasukkan Django Maret nanti, gue nggak mau bersabar dalam hal yang tidak pasti begitu. So guys, kalau kalian pake internet sudah lama, kalian tahu di mana mendapatkan film ini.
I’m not a big fan of Tarantino, malah ini kayaknya film pertama doi yang gue tonton. Tapi sekarang kayaknya gue harus siap-siap marathon filmnya dia dari pertama. Karena gue suka banget. Malahan, dari 5 film nominasi best picture Oscar yang sudah gue tonton, ini favorit gue. Django hampir pasti nggak bakal menang, tapi tetep aja ini favorit gue sejauh ini. #ngotot

Django Unchained bersetting di jaman dulu banget, jamannya para koboi (tapi bukan koboi yang berlima tapi masih bocah terus nyanyi-nyanyi dan joget-joget), dan era di mana perbudukan adalah hal biasa. Di sini kita ketemu dengan karakter utamanya, Django (Jamie Foxx), seorang budak yang dibeli oleh Dr. Schultz (Christoph Waltz) yang mana adalah dokter gigi *garis miring* Bounty Hunter. Dr. Schultz butuh bantuan Django untuk mencari target selanjutnya, dikarenakan Django sudah pernah melihat muka dari target tersebut. Tapi dari niat awalan yang hanya membantu kerjaannya sekali, Django malah terus ngikut sama Dr. Schultz. Sampai-sampai dia ikutan jadi Bounty Hunter juga. Dr. Schultz sendiri juga nggak begitu mendukung ide perbudakan, jadi Django pun bisa dibilang bebas tapi kerja bareng sama Schultz.
Sampai akhirnya, Django pengen nyari istri dia yang sudah lama nggak ketemu, Hildi (Kerry Washington). Ternyata majikan Hildi ini orang kaya gitu mirip Harry Tanoesoedibjo yang baru keluar dari NasDem, namanya Calvin Candie (Leonardo DiCaprio). Dengan berbagai macam trik, Django dan Dr. Schultz berusaha membebaskan Hildi dari Calvin Candie.
Tentunya gue nggak baru saja menyingkat film berdurasi 11-12 sama The Dark Knight Rises ini dalam 2 paragraf. Banyak banget cerita-cerita kecil di dalam film ini yang tentunya dihiasi dengan lumuran darah khas Tarantino yang muncrat tiap kali ada kepala, tangan, kaki, sampai penis ditembak. Mungkin bagi orang yang nggak suka style seperti ini bakal bilang “over the top” banget, tapi sejujurnya buat gue action dengan taraf begini yang menghibur.

Actingnya solid banget dari awal hingga akhir. Kredit tersendiri buat Christoph Waltz sebagai Dr. Schultz, bahkan menurut gue dia sampai menutupi Django sendiri. Jamie Foxx sendiri ini ibaratnya Christian Bale di The Dark Knight, not bad, tapi ketutup sama Jokernya, yang mana di sini adalah metafor dari Dr. Schultz. Leonardo DiCaprio juga mainnya nggak jelek, tapi gue merasa kok karakter dia begitu melulu ya, jadi biasa aja ngeliatnya. Ada juga peran kecil dari Samuel L. Jackson yang “ya bolehlah..”
Tapi, kekuatan utama Django ada pada story-tellingnya. Tentunya naskah yang baru juara di Golden Globe barusan ini bagus, tapi gaya Tarantino dengan jokes-jokes nyelenehnya, action “over the top”-nya, teknik pengambilannya yang somehow epic banget, dan scoring yang suka-suka dia menjadikan Django Unchained sebagai satu paket hiburan yang komplit. Gue bener-bener terhibur nontonnya.
Kalau film ini nantinya jadi tayang di sini, gue nggak bakal ragu buat bayar tiket bioskop ke kaum kapitalis itu untuk menonton film ini lagi, begitu juga seharusnya dengan situ.

