Review: Ghost Rider: Spirit of Vengeance (2012)

He Rides Again *doh*
Oke, Ghost Rider pertama memang mendapat kritikan yang sangat parah. Saya juga bingung kenapa sekuelnya dibuat. Eva Mendes saja sampai menolak saat dia ditawarkan untuk bermain lagi di sekuelnya ini. Bahkan, dari jajaran castnya, saya cuman tau Nicolas Cage. Lalu, trailernya pun keluar. Memang cukup menjanjikan, efeknya terlihat lebih baik, Ghost Rider terlihat lebih garang, tapi bagaimana dari segi cerita?
Sebelum menonton, saya sama sekali tidak membaca sinopsis film ini. Jadi, benar-benar tidak tahu cerita apalagi yang ditawarkan, saya juga tidak kenal baik karakter Ghost Rider, siapa-siapa saja musuhnya di komik, saya tidak tahu. Sehabis menonton barulah saya tahu bahwa kali ini Johnny Blaze “kabur” ke Eropa setelah mendapati kutukan sebagai Ghost Rider. Di sana, ia diminta tolong untuk menyelamatkan satu anak dengan imbalan kutukannya akan dihilangkan. Sebenarnya plotnya sangat simpel sekali malah cenderung terkesan dipanjang-panjangkan hingga 90 menit untuk memenuhi batas durasi saja. Terlalu banyak plothole dan adegan tidak penting, seperti aksi stunt motor di jalan raya yang sama sekali tidak memberikan andil bagi cerita maupun unsur menghibur. Oh, soal menghibur, it’s boring, saya hanya sekali tertawa sepanjang film, sisanya dihabiskan untuk berdoa film ini cepat selesai. Sempat berpikir beberapa kali untuk tidur, tapi sayang udah keluar uang. Beberapa kali juga kepikiran untuk keluar studio, tapi kembali teringat soal uang. -__-
Visual efeknya jelas lebih baik dari seri pertamanya, tapi buat apa menonton bila hanya ingin melihat tulang-tulang berjalan dengan api. Bahkan Transformers, meski hanya mengunggulkan visual efek saja, masih memiliki sisi humornya, dan karakter yang lebih mudah disukai. Di sini? Kita disuguhi oleh akting Nicolas Cage yang harus saya katakan sangat jelek dan berlebihan. Editingnya sendiri cukup memusingkan saya. Seperti melihat hasil anak remaja yang baru tahu bagaimana membuat efek-efek dan terlalu banyak fancy camera trick. Zoom in- zoom out yang tidak penting, blah buruk sekali.
Saya sebisa mungkin tidak memberikan rating di bawah 5 sebagai bentuk penghargaan bagi pembuatnya. But this movie just sucks, awfully made, and therefore should have never been made. Satu lagi, jangan sampai ini jadi trilogi!


