Review: The Mortal Instruments: City of Bones (IMAX 2D)

Ceritanya, setelah menonton Pacific Rim 2D bersama seorang teman baik saya, dia mengajak saya untuk nonton di IMAX dan kami sudah janjian sejak saat itu untuk nonton di IMAX. Hari ini, setelah beberapa kali mengatur jadwal dan batal terus karena kesibukan masing-masing, kami akhirnya berhasil pergi ke Gandaria City untuk nonton di IMAX walaupun tahu bahwa sedang tidak ada film 3D yang tayang di IMAX. Teman saya belum pernah menonton film di IMAX dan kebetulan sekali film ini saja yang jadwalnya cocok dengan jadwal kami karena kami tidak berencana untuk ada di mall tersebut sampai malam, maka kami memutuskan untuk menonton saja film ini.
Clary Fray (Lily Collins) adalah that typical teenager yang hidup di Brooklyn, New York, bersama sang ibu, Jocelyn (Lena Headey). Pada suatu ketika, Clary tiba-tiba bisa melihat makhluk yang tidak bisa dilihat orang lain serta suatu simbol (yang belakangan diketahui merupakan simbol cawan manusia) dan tak lama setelah itu Jocelyn hilang diculik iblis. Clary, dibantu Simon (Robert Sheehan), teman geeky-nya dan Jace (Jamie Campbell Bower) yang merupakan “seorang” Shadowhunter, berusaha untuk mencari jejak keberadaan ibunya. Sementara itu usahanya dihalangi para penjahat yang menginginkan cawan manusia tersebut, yang yakin bahwa Clary tahu di mana cawan manusia tersebut disembunyikan. Cawan manusia tersebut bisa jadi bencana bila jatuh ke tangan yang salah.
Satu-satunya yang bisa dinikmati di sini adalah penampilan Robert Sheehan sebagai Simon, yang, dalam taraf tidak sebanding, setidaknya membawa kesegaran di antara “kerusuhan” yang disajikan di film ini. Setidaknya kita bisa lebih mudah relate dengan Simon yang “hanya manusia biasa” dibandingkan dengan karakter-karakter lainnya yang entah apa. Simon yang ternyata korban friend zone tapi tetap peduli kepada Clary. Penonton tidak digiring untuk mengenal karakter-karakternya; tidak ada character development yang jelas dan runut. Semuanya seakan-akan terjadi random saja tanpa ada clue yang bisa dianggap sah untuk membawa penonton ke ceritanya lebih lanjut. Apa yang terjadi (atau dari mana asal-usulnya) sehingga membuat Clary tiba-tiba bisa melihat simbol cawan yang tidak bisa dilihat orang lain? Faktor apa yang membuat tiba-tiba Clary secara tidak sadar menggambar beratus-ratus gambar simbol cawan di kertas dan menempelkannya di kamarnya? Sejak ibunya diculik, tiba-tiba saja Clary harus mengalami rentetan hal aneh dan hebatnya, Clary sepertinya legowo saja, tidak terguncang sama sekali (sesuatu yang tidak believable kalau dipikir-pikir).

Hal yang janggal lagi adalah dari mana tiba-tiba Clary bisa tahu bahwa Jace yang bernama asli Jonathan punya nama tengah Christopher yang kemudian terkait dengan kotak cawan keramat yang diburu sejuta umat (yang merasa) berkepentingan? Lalu setelah serentetan kejadian membingungkan tersebut, Clary tiba-tiba jadi tersinggung bila disebut manusia (atau “hanya” keturunan manusia, yang jelas saya tidak menangkap sepenuhnya yang mana yang benar karena terlalu bingung), padahal sepanjang hidupnya dia hidup layaknya manusia biasa. Mengapa pula membawa-bawa Johann Sebastian Bach (yang sangat terhormat) menjadi bagian dari Shadowhunter? Kalau film ini ingin memiliki sentuhan fiktif pada tokoh yang ada dalam realita seperti yang disodorkan The Da Vinci Code (dan Dan Brown maupun Ron Howard tidak hanya melemparkannya kepada Leonardo da Vinci saja, tapi juga kepada Sir Isaac Newton, Sandro Botticelli dan bahkan kepada Yesus Kristus serta Maria Magdalena), film ini gagal karena bukannya menaikkan citra atau popularitas Bach, film ini malah membuat citranya sebagai bapak musik klasik tercoreng. Bukan mencoreng seperti cara The Da Vinci Code tapi lebih kepada menjadikan Bach sebagai sosok konyol dan dangkal yang ternyata meng-compose musik-musik adikarya tersebut untuk mengusir iblis macam yang ada di film ini. Selain itu, saya masih belum bisa memahami lebih lanjut cerita silsilah keluarga Clary yang, selain Jocelyn memang benar ibunya sendiri, ternyata ayahnya adalah si jahat Valentine dan punya kakak yang ternyata Jace itu sendiri. Seakan-akan semuanya dipaksakan dan random saja.
Cerita yang loncat-loncat dan tidak konsisten sehingga sulit diikuti juga menjadi masalah utama dalam film ini. Ketika masih di sequence-sequence awal saja penonton sudah disuguhi adegan mengagetkan dengan penyerangan tokoh utama dari karakter-karakter antagonis menjijikkan yang tidak jelas asal-usulnya. Lebih mengagetkan lagi, mengapa sang tokoh utama terlihat mudah sekali mengatasi perasaannya setelah diserang karakter-karakter menjijikkan itu layaknya seorang anak kecil yang alergi minum susu sapi kemudian diberikan susu kedelai dan masalah berhenti setidaknya sampai di situ? Ketika semakin masuk ke dalam penonton disuguhi struktur cerita yang menyatakan bahwa Clary pernah diblokir ingatan dan kemampuannya, penonton juga tidak dibawa untuk setidaknya bisa tahu sejarah yang terjadi dengan lebih jelas. Penyampaian siapa yang memblokir, mengapa, apa yang terjadi dulunya, semua dilakukan secara tidak jelas dan tidak konsisten. Kehadiran karakter Magnus Bane dalam film seperti tidak membawa signifikansi lebih, padahal perannya besar: memblokir ingatan dan kemampuan Clary. Backstory memang tidak perlu sepenuhnya diceritakan dalam sebuah film, tapi inilah panduan untuk tidak membuat cerita secara sembarangan atau tanpa dasar. Bukannya setidaknya berusaha memberikan tuntunan yang jelas bagi penonton untuk bisa memahami dan menjadi bagian dari cerita film ini dan membangun konflik cerita dengan adanya klimaks dan antiklimaks, yang terjadi malah dimasukkannya adegan cinta-cintaan dangkal yang berlalu begitu saja, yang sebenarnya toh juga tidak terlalu signifikan.

Yang juga bisa dipuji dari film ini adalah set dressing yang believable dan cukup sinematik, tapi tidak bisa membantu penonton lebih relate dengan filmnya. Sebenarnya koreografi perkelahian yang ada dalam film ini tidak buruk, tapi overwhelming. Penonton seperti tidak diberikan waktu untuk bernapas atau mencerna ceritanya secara cukup sebelum adegan perkelahian yang lebih absurd dilontarkan lagi.Tapi, selain soal perkelahian, hal yang paling menjengkelkan saya adalah: sepertinya rumah Clary sudah porak poranda selama beberapa hari dan penghuninya tidak ada di tempat, tapi mengapa tidak ada tindakan selama itu? Memangnya tidak ada yang curiga bahwa ada sesuatu terjadi di situ (lebih parah lagi, rumah itu dihancurkan makhluk menjijikkan yang membuat suara berisik yang penonton di IMAX saja terganggu)? Mengapa tidak ada bekas-bekas olah TKP atau upaya pencarian orang hilang oleh polisi (yang hendak dilakukan Simon, yang mungkin satu-satunya manusia sepenuhnya dan waras di film ini) yang dilaporkan para tetangga?
Sebelumnya saya minta maaf kepada semua orang yang terlibat dalam pembuatan film ini, karena membuat sebuah film bukanlah perkara mudah. Tapi, sejujurnya saya amat sangat menyayangkan teman saya yang harus mengalami pengalaman pertamanya di IMAX dengan film ini. Maka dengan demikian, demi kesejahteraan bersama, skip this.

