Review: Denok dan Gareng (2012)

Kelewatan film ini ketika diputar pada ChopShots International Documentary Film Festival 2012 Desember lalu (dan menang Juara 2 untuk kompetisi internasionalnya), saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk bisa menonton film ini pada acara ARKIPEL International Documentary and Experimental Film Festival 2013 di Goethe Haus, Jakarta. Dalam program kuratorial Mobilitas Sosial untuk Pemula, film ini sangat pas untuk bisa menjadi bahan diskusi.
Film karya Dwi Sujanti Nugraheni ini bercerita tentang kehidupan sepasang suami istri Denok dan Gareng yang dulunya tinggal di jalanan Jogjakarta. Sejarah singkatnya, Denok kabur dari rumah ketika berumur 14, tinggal di jalanan dan hidup dari berjualan narkoba, hamil dengan pacarnya (yang kemudian meninggalkannya), bertemu Gareng di jalanan dan memutuskan menikah. Dalam film ini, Denok dan Gareng sudah kembali tinggal di rumah bersama ibu Gareng dan di sini kita disuguhi potongan-potongan kisah hidup mereka yang selalu bergrafik naik turun.

Apa yang patut diapresiasi dari film ini adalah kemampuan filmmaker untuk menjadi observer sepenuhnya; kehadiran kamera sama sekali tidak mengganggu gerak-gerik dalam kehidupan baik Denok, Gareng, ibu Gareng, Frida (anak Denok) maupun Soesan, Pur dan Nur (ketiganya adik Gareng). Film ini bertutur dengan jujur, bahkan ketika kamera keluar dari “zona nyaman”. Misalnya ketika kamera berhasil merekam ibu Gareng mengklaim dana santunan kecelakaan lalu lintas Soesan yang menyebabkan kakinya patah di kantor Jasa Raharja. Kamera juga berhasil merekam momen Denok dan Gareng yang pukul-pukulan bantal dan berkelahi, awalnya main-main tapi lama-lama menjadi serius, secara apa adanya. Semuanya berlalu dengan alamiah. Walau demikian, ada pula saat ketika kamera juga keluar sementara dari tugas sebagai observer. Misalnya saat adegan polisi yang mengantar motor rusak yang dikendarai Soesan hendak pamit, beliau menyalami cameraman. Sang filmmaker tetap memutuskan untuk memasukkan rekaman ini; bisa dilihat bahwa ini adalah bonus untuk menunjukkan realita lain bahwa kamera ada dan bersama dengan mereka. Tapi ini juga bisa menjadi bonus realita lain bahwa orang yang belum terbiasa dengan kamera pasti akan tetap “acting” (dalam hal ini menjadi jaim). Sepanjang film kamera tidak berinteraksi secara langsung dengan mereka yang menjadi bagian film. Tidak ada wawancara talking heads ataupun voiceover penjelasan yang dilengkapi gambar. Semuanya merupakan susunan rekaman momen, percakapan kejadian sehari-hari yang menggiring kita selaku penonton turut menjadi observer. Sang sutradara mengaku bahwa perlu waktu 6 bulan untuk membiasakan keluarga Gareng dengan kamera (Denok dan Gareng sendiri sudah kenal dengan sutradaranya ketika masih hidup di jalan) sedangkan shooting sendiri berjalan selama 2 tahun. Usaha filmmaker yang tidak sembarangan inilah yang menghasilkan film yang juga tidak sembarangan.
Kita disuguhkan realita kehidupan kelas bawah melalui percakapan dan tindakan-tindakan mereka. Adegan demi adegan menghadirkan nuansa mobilitas sosial seperti yang dicanangkan dalam program (maka dari itulah film ini dipilih) yang bisa jadi mencengangkan. Misalnya ketika Nur kabur dari pesantren, Gareng menegur dan memarahi Nur. Walaupun caranya kasar, sebenarnya inti dari ini adalah penonton digiring untuk relate dengan kenyataan bahwa Gareng yang tidak sekolah sebenarnya peduli dengan pendidikan dan ingin agar adik-adiknya paling tidak bisa menjadi lebih baik darinya. Atau ketika Denok menjual mesin jahitnya untuk mendapatkan uang lebih, termasuk untuk biaya sekolah Frida anaknya. Situasi diperburuk karena ayah Gareng kabur dari rumah beberapa saat setelah Denok dan Gareng menikah, meninggalkan hutang 40 juta rupiah kepada keluarganya. Banyak adegan dalam film ini yang mengarah ke usaha Denok dan Gareng untuk bisa punya hidup yang lebih baik, atau setidaknya untuk anak dan adik-adik mereka, salah satunya melalui pendidikan.

Selain pendidikan, nilai dan norma juga menjadi sesuatu yang banyak diekspos dalam film ini. Ketika Frida, Denok dan Gareng sedang mengunjungi orangtua Denok, mereka terlibat percakapan tentang apa yang harus Frida katakan kepada gurunya kalau ditanya apa pekerjaan ayahnya. Keluarga Gareng memiliki ternak babi. Tapi, Denok dan Gareng melarang Frida untuk mengatakan bahwa ayahnya beternak babi, melainkan menyuruh Frida untuk mengatakan bahwa Gareng beternak ayam dan bebek, karena khawatir Frida akan dijauhi atau dipandang sebelah mata kalau ayahnya beternak sesuatu yang haram. Juga ketika Idul Fitri tiba dan seluruh keluarga saling maaf memaafkan, setelah sekian banyak masalah yang mereka lalui sepanjang tahun. Atau ketika di awal film diperlihatkan Gareng melakukan dumpster diving (istilah Bahasa Inggris untuk mengambil sesuatu, baik makanan maupun barang yang masih layak dari tempat sampah) untuk memberi makan ternak babinya, kemudian di tengah film terjadi percakapan antara Nur dan ibunya terkait makanan. Ketika ibunya menyuruh Nur menyiapkan bekal makan siang untuk Pur bawa ke sekolah, Nur dengan tenangnya mengatakan bahwa dia akan menyiapkan makanan dari belakang. Percakapan berlangsung di depan kandang babi. Ibunya kaget, mempertanyakan pemikiran Nur dan mereka tertawa. Hal-hal ini mungkin tidak seberapa, tapi ketika disatukan oleh filmmaker, mereka menjadi kuat. Dan selain dua hal ini, masih banyak lagi kelucuan dan keluguan yang disuguhkan dalam film ini.
Pergerakan kamera memang tidak seluruhnya mulus, begitu pula dengan shot-shot-nya yang terkadang blur atau bahkan gelap. Tapi bukan inilah hal yang utama. Justru kejujuran kamera dalam menghasilkan gambar yang tidak sepenuhnya sempurna ini mendukung kejujuran cerita. Sebagai observer, penonton juga dibawa dalam suatu kedalaman tertentu untuk bisa simpati dengan mereka yang ada di film ini. Penonton dibuat peduli untuk tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, apa yang hendak mereka lakukan, bagaimana mereka menyikapi ups and downs dalam kehidupan dan lain sebagainya. Salah satunya adalah melalui pergerakan kamera dan gambar yang tidak seluruhnya cantik.
Sebuah pengalaman yang mengesankan. Menyadarkan penonton bahwa mobilitas sosial juga merupakan angan-angan mereka yang tidak seberuntung kita; bahwa mereka juga berharap untuk hidup lebih baik walaupun masalah demi masalah pasti akan selalu ada. Hanya saja, Denok, Gareng dan keluarganya menyikapi semua masalah dan angan-angan yang mereka hadapi atau miliki dengan tangis yang dilanjutkan tawa, diiringi usaha. Membuat kita berpikir bahwa sebaiknya kita lebih banyak bersyukur, tanpa perlu merasa seperti diberikan khotbah.

ARKIPEL International Documentary and Experimental Film Festival 2013 berlangsung dari tanggal 24 sampai 30 Agustus 2013 di Goethe Haus, Teater Kecil TIM, Kineforum, Sinematek Indonesia dan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail.
