Review : Belenggu (2013)
![]()
Selamat datang di sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan…
Pembunuh berantai, darah, latar yang gelap, kelam dan aneh, ini adalah beberapa alasan suatu film thriller bisa menjadi menegangkan. Tetapi ketegangan utama dari film ini bukanlah salah satu hal diatas.
Belenggu adalah sebuah thriller yang mempermainkan batas antara realita dan bayangan menyeramkan dari seorang yang sakit jiwa bernama Elang(Abimana Arya). Belenggu menceritakan tentang Elang, seorang orang pendiam berkelakuan aneh yang tinggal di apartemen aneh di sebuah kota yang aneh dimana di kota tersebut ada seorang pembunuh berkeliaran bebas. Elang sering mengalami mimpi buruk dan halusinasi aneh tentang pembunuh berkostum kelinci yang membunuh tetangganya Djenar(Laudya Cintya Bella) yang bermasalah dengan rumah tangganya, seorang nenek bernama Oma Gila dan seseorang berpakaian suster yang sering tiba-tiba muncul dan memperingatkan Elang. Dan untuk membuat kehidupan Elang semakin aneh, dia bertemu dan jatuh cinta pada seorang pelacur yang kehidupannya juga kacau bernama Jingga(Imelda Therinne). Mimpi-mimpi buruknya tentang tetangganya, Jingga, dan kelinci pembunuh itulah yang mungkin menjadi jawaban siapa pembunuh tersebut.
Jadi lapar, pingin makan sate kelinci *salahreaksi
Untuk sebuah thriller menegangkan, cerita yang disuguhkan oleh Belenggu sangat intriguing. Ketika menonton reaksi-reaksi dari mimpi-mimpi buruk Elang yang diperankan dengan sangat meyakinkan oleh Abimana saya merasakan rasa penasaran yang intens akan kenyataan yang sebenarnya terjadi, mana yang realita dan yang mana yang hanya merupakan ilusi-ilusi dari Elang. Lalu ketika jalan ceritanya berpindah dari halusinasi menuju realita disitulah saya hanya duduk terpaku melihat bagaimana ceritanya memisahkan antara kenyataan dan mimpi buruk yang dilihat dari Elang.
Latar dari film ini mungkin salah satu latar fiksi yang paling baik yang pernah saya lihat di sebuah film Indonesia. Apartemen lusuh yang gelap dan mencekam, rumah sakit jiwa katolik, bar dan coffee shop kecil dan berbagai tempat -tempat menarik lainnya berhasil di set sedemikian riil yang seolah membawa saya pada situasi di film itu. Eksekusi dari setiap detail dalam film ini sempurna, saya tidak melihat sedikitpun flaw pada efek darahnya, adegan pembunuhannya, bahkan selagi nonton saya sempat bertanya ini film Indonesia bukan. Akting dari castnya juga memesona saya, selain Abimana yang sukses being psychotic, Bella yang memerankan a lovely mother dengan begitu lovely, sampai saya sepanjang film nungguin Bella muncul lagi. Overall ya pantas saja film ini lolos seleksi di 16th Puchon International Fantastic Film Festival (Pifan) di Korea sana.
Thriller cerdas ini memiliki sebuah cerita kompleks yang menggugah kita untuk membongkarnya. Sebelum menonton film ini awalnya saya pikir entar bakal banyak debat gimana jawaban dari misteri film ini. Tapi ya keburu dijawab langsung sama filmnya sendiri sih. Walaupun begitu film ini berhasil membius saya dengan pacuan adrenalin yang disemburkan oleh cerita yang benar-benar sebuah clever intense thrill.
A riddle, a dark bloody nightmare, a complex story, and you just created a great taut thriller

