Review: The Paperboy (2012)

Senang rasanya bisa mencicipi film yang digawangi oleh Lee Daniels ini. Jangan salah sangka dulu, saya senang ketika mendapati The Paperboy usai dari hadapan saya. Sebab, saya merasa ‘tersiksa’ selama menontonnya dengan durasi 107 menit itu. Film thriller ini memang terlihat begitu menggiurkan di awal, bahkan membuat saya sangat terkagum-kagum dengan para pelakonnya. Namun, plotnya terlihat ‘ngadat’ di pertengahan, sehingga kejenuhan pun mulai berkecamuk di kepala saya hingga ingin keluar dari ‘penjara’ Lee Daniels itu secepatnya.
Oke, kita punya wanita cantik dengan sikap layaknya seorang pelacur, Charlotte Bless (Nicole Kidman), yang menyewa beberapa reporter — Ward (Matthew McConaughey), Yardley (David Oyelowo), dan supir mereka, Jack (Zac Efron) — untuk membantu membuktikan melalui sebuah artikel koran bahwa suaminya, Hillary Van Wetter (John Cussack), tidak bersalah atas kematian Sheriff Call. Film berjalan cukup mulus dan terbilang seksi di awal. Bayangkan saja, aktris yang sudah berkepala 4 itu (baca: Kidman) masih terlihat begitu menggairahkan dengan aktingnya yang total di sini. Well, meskipun saya tetap tidak berani bilang bahwa itu performa terbaik Kidman karena ia juga sesekali terlihat menjijikan di sini.
Dari awal, The Paperboy dinarasikan oleh Anita (Macy Gray), seorang pembantu yang sudah lama bekerja di keluarga Jansen. Sepanjang film, narasi dari Anita terus didengungkan. Sambil berjalannya narasi, plot dari film ini sendiri terus bergulir dan terlihat begitu acak-acakan sekaligus campur-aduk, layaknya gado-gado yang rasanya tidak enak. Di dalamnya ada terlalu banyak hal; drama rasial, investigasi bak detektif, dan beberapa guyonan yang sama sekali tidak menggelitik.

Selain itu, jangan harap karakter-karakter krusial di dalamnya mampu menghipnotis Anda. Alih-alih menghipnotis, saya pribadi justru sama sekali tidak simpati dengan mereka, bahkan boleh dibilang tidak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan terjadi pada mereka… cih! Mereka kerap menunjukkan attitude yang inkonsisten di balik plotnya yang inkoheren. Tampaknya, sutradara sekaligus penulis naskah The Paperboy, Daniels, terlalu melulu ingin menghantam penontonnya dengan kejutan-kejutan, yang justru tergerus dengan buruknya kaitan demi kaitan yang terajut dalam plotnya sendiri.
Saya rasa sudah cukup kata-kata pedas di atas untuk film adaptasi novel karangan Peter Dexter ini. Buruknya naskah merupakan titik didih yang menghancurkan sendi-sendi The Paperboy dari segala segi. Bahkan, kalau boleh saya berkata, akhirnya saya berhasil menemukan performa terburuk dari seorang John Cussack sepanjang kariernya. Parahnya lagi, The Paperboy tidak mempunyai tingkat ketegangan yang mumpuni untuk disebut sebagai sebuah thriller. Terlalu dungu. Meski begitu, jika Anda tetap ‘ngotot’ ingin menyaksikan The Paperboy, saya punya satu-satunya alasan buat Anda: Kidman terlalu seksi untuk diacuhkan.

