Review: One Direction: This is Us (2013)

Sepertinya mengangkat kisah perjalanan musisi tenar menjadi film dokumenter/konser sedang populer. Setelah Justin Bieber dan Katy Perry yang filmnya sama-sama sukses mendapatkan simpati saya, kini One Direction ikut ke dalam rombongan tersebut. Formatnya pun mirip. Sebuah konser besar mereka yang diselingi dengan berbagai hal seperti cuplikan jadul, aktivitas musisi, serta wawancara dari berbagai pihak terkait. Secara keseluruhan, film seperti ini berfungsi untuk memuaskan para fans-nya serta memberikan pencitraan yang baik untuk sang musisi bagi para non-fans.
Tapi ini film, tentunya harus ada cerita yang ditawarkan. Saya sendiri bukan fans dari Justin Bieber, Katy Perry, maupun One Direction, tapi setidaknya filmnya membuat saya lebih peduli dengan mereka. Bieber ternyata memang bertalenta dari kecil dengan konflik sakit tenggorokan sebelum konser. Katy Perry sudah berjuang menjadi populer sejak lama dan di tengah turnya di putus (atau cerai ya?) dengan Russel Brand. One Direction?
Nah, boyband asal Inggris ini berawal dari ajang pencarian bakat, X-Factor. Beranggotakan 5 pemuda bernama Harry Styles, Zayn Malik, Niall Horan, Liam Payne, dan Louis Tomlinson (tenang copy paste kok, aslinya nggak apal), One Direction disebut-sebut sebagai sebuah fenomena, bahkan menyaingi The Beatles. Atau setidaknya itu yang berusaha disampaikan oleh filmnya. This Is Us, menceritakan perjalanan karir mereka dari audisi hingga tur ke lebih dari 100 tempat dengan konser utamanya yaitu di O2 Arena, London.

Apakah ada konfliknya? Ada. Beda dengan sakit tenggorokannya Bieber dan putus cintanya Katy Perry, di sini yang utama adalah bagaimana hubungan tiap personil dengan orang tuanya. Bagaimana mereka begitu muda saat memulai audisi hingga kini. Terjadi semacam shock kepada anggota keluarga. Bahkan ada yang mengatakan, anaknya hanya pulang 5 hari sejak pergi audisi di tahun 2010.
Film ini juga disajikan dalam format 3D yang sangat baik. Banyak sekali elemen pop-out sepanjang konser dengan animasi-animasi menawan. Tingkat brightness yang tinggi serta depth yang baik sangat membantu di kala adegan non-konser. Tapi yang paling penting buat saya sih, 3D yang tidak bikin pusing. Dan ini tidak.
Oh ya, menonton film ini di studio dengan layar besar serta sound system yang baik akan lebih baik lagi, apalagi bila studio penuh dengan fans-nya, dijamin kalian akan merasa berada di tengah-tengah konser mereka. After all, this is a concert movie, yes?
Well overall, jujur saja, it works for me. I don’t hate them, itu yang terpenting. Bila dari awal kalian sudah antipati, maka tidak ada gunanya menonton. Tapi, kalau kalian ingin lebih tahu dan mengenal perjalanan mereka sembari dihibur dengan cuplikan konser serta beberapa jokes nakal dari personilnya, ‘This Is Us’ is for you.

