Review: Negeri di Bawah Kabut (2011)

Satu lagi film dalam program kuratorial Mobilitas Sosial untuk Pemula dalam program ARKIPEL International Documentary and Experimental Film Festival 2013 yang saya tonton adalah film ini. Di kancah dunia, film ini dikenal dengan judul The Land Beneath the Fog. Sedikit pengenalan terhadap filmnya, shooting film yang disutradarai Shalahuddin Siregar ini berlangsung selama 2 tahun dan editing-nya berlangsung selama kurang lebih 1 setengah tahun. Memenangkan Special Jury Prize dalam Dubai International Film Festival 2011 dan beberapa penghargaan lain serta berkompetisi di banyak film festival, termasuk ChopShots International Documentary Film Festival 2012.
Film ini berkisar pada masyarakat desa Genikan di kaki Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Para petani mengalami masalah, banyak dari mereka gagal panen karena perubahan cuaca drastis yang merusak siklus pertumbuhan tanaman mereka. Tentu saja hal ini berpengaruh besar terhadap penghasilan mereka, termasuk untuk keluarga Arifin, yang harus mencari pinjaman sana-sini demi membiayai sekolahnya.
Kekuatan film ini ada dalam keberadaan kamera yang invisible bagi karakter-karakternya. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran kamera, menjadikan segala yang terekam adalah asli dan natural. Dari sinilah momen demi momen, kejadian demi kejadian, terekam. Salah satunya, kita melihat bagaimana usaha ayah Arifin mencari pinjaman uang agar Arifin, yang lulus UASBN dari sekolahnya dengan nilai terbaik, bisa lanjut sekolah. Arifin ingin melanjutkan ke SMP negeri, tapi keadaan ekonomi mereka tidak memungkinkan, sehingga pilihannya jatuh kepada sekolah pesantren yang harganya lebih murah. Sudah demikian pun, ayahnya masih harus mencari pinjaman.

Dari kisah tersebut kita disadarkan akan 2 hal. Pertama, bahwa masyarakat tersebut jelas ingin anak-anak mereka bisa menempuh pendidikan dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dibanding orangtuanya. Mereka akan terus berusaha supaya anak-anak mereka tidak putus sekolah. Kalau tidak hanya merujuk kepada keluarga Arifin, fakta ini diperkuat dengan percakapan keluarga lain (yang juga menjadi sorotan dalam film ini). Dalam salah satu percakapan mereka ketika sedang di kebun, sang ibu menguatkan pernyataan soal pendidikan dengan berkata kepada anak laki-lakinya yang lebih tua bahwa bila sang anak memang benar ingin menjadi tentara, dia harus rajin belajar dan sekolah.
Hal kedua yang bisa ditangkap penonton adalah kerukunan antartetangga yang masih sangat dijaga. Ayah Arifin pergi meminjam uang kepada tetangga-tetangganya. Cara meminta pinjamannya pun halus. Ketika sang tetangga tidak bisa membantu, maka mereka akan meminta maaf dan menjelaskan dengan halus bahwa mereka tidak bisa membantu. Ketika ada yang bisa membantu, maka mereka akan membantu semampu mereka sambil menyatakan hal yang intinya mendukung Arifin untuk tidak putus sekolah.
Selain kerukunan antartetangga, keeratan batiniah keluarga juga menjadi sesuatu yang disorot dalam film ini. Pesantren Arifin menuntut dia untuk tinggal di pondok sekolahnya. Kita bisa mengerti kerinduan ayah dan ibunya ketika ditinggal jauh dari anaknya. Kita bisa mengerti mengapa mereka hendak membawa beberapa wortel hasil panen mereka (yang sebenarnya bisa berpotensi sulit dijual karena ukurannya mengecil sehingga kalau dijual mungkin tidak akan lebih banyak hasilnya ketimbang sebelum-sebelumnya) untuk diserahkan kepada Arifin di pesantren. Walau demikian, mereka tetap mendukung Arifin sekolah. Peristiwa ini diperkuat dengan diperlihatkannya cuplikan Arifin yang menerawang jauh dari pesantrennya, sepertinya juga sedang rindu.

Dalam hal mobilitas sosial, film ini berhasil membangun kesadaran antara perbedaan mereka yang menyaksikannya di atas kursi empuk dan mereka yang berada di dalam layar. Penonton disuguhi kenyataan akan kesulitan mereka dan dibuat bersimpati, tapi tidak mengasihani. Banyak percakapan sehari-hari mereka yang menunjukkan angan-angan mereka untuk “naik kelas”, atau setidaknya bisa punya simpanan. Misalnya, membicarakan soal tanaman yang sekiranya cocok ditanam untuk saat itu, sehingga ketika panen, hasilnya bisa menguntungkan dan pendapatannya bisa dibelikan motor Tiger. Atau ketika mereka membicarakan soal hand phone. Angan-angan itu mungkin sederhana bagi penonton yang tinggal di kota besar dan memiliki penghasilan yang tinggi, tapi menurut saya, bagi mereka itu bisa menjadi sebuah status akan apa yang telah mereka capai.
Karena pembuatan film berlangsung tahun 2009, maka politik dan momen Pemilu menjadi salah satu bahasan yang dilontarkan dalam film ini. Ketika melihat bagaimana sederhananya pandangan para warga ketika hendak memilih presiden, yang kalau menang maka “akan mengaspal jalan desa”. Ada juga saat ketika, kembali lagi kepada topik utama film ini, mereka membicarakan peran pemerintah dalam pendidikan gratis. Film ini seperti berhasil menegur pemerintah secara sangat halus akan kenyataan pahit yang belum berhasil mereka sentuh. Sekolah memang gratis, tapi masih ada biaya-biaya ekstra lain yang harus dikeluarkan mereka, seperti seragam, sepatu dan lain sebagainya yang pada ujungnya pun tetap memberatkan mereka.
Sang filmmaker berhasil menggiring penonton untuk bisa setidaknya mengetahui bahwa kehidupan itu cakupannya amat luas. Saya yang tinggal di kota besar hanya melihat secuil dari besarnya kejadian-kejadian yang ada dalam dunia ini. Film ini, seperti halnya Denok dan Gareng, berhasil menyentil saya yang belum sepenuhnya sadar bahwa dari hal sederhana pun kita bisa belajar banyak. Bahwa banyak hal yang patut saya syukuri dalam hidup ini, sekali lagi tanpa harus merasa digurui. Entah apa yang membuatnya demikian, tapi bagi saya, menonton film ini, apalagi di Goethe Haus dengan layar lebar dan sound system yang memuaskan (pun harus diakui bahwa gambar dalam film ini sinematik tapi tetap real dan sound-nya juga sangatlah jernih), adalah sebuah pengalaman spiritual.
ARKIPEL International Documentary and Experimental Film Festival 2013 berlangsung dari tanggal 24 sampai 30 Agustus 2013 di Goethe Haus, Teater Kecil TIM, Kineforum, Sinematek Indonesia dan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail.
