Review: Sang Pialang (2013)

Seperti kita semua ketahui, film Indonesia pasti rilis setiap hari Kamis, sampai ada gerakan #KamisKeBioskop untuk mendukung perfilman Indonesia supaya film yang bagus-bagus gak cepat turun dari bioskop. Kalau ada dari kalian yang belum tahu, nasib film Indonesia biasanya ditentukan oleh 3 hari pertama keberadaannya di bioskop. Jadi, karena gue kepincut dengan trailer Sang Pialang dan juga karena sebagai warga Indonesia berbakti yang ingin turut ambil andil dalam perfilman Indonesia, gue datang dan nonton Sang Pialang di hari pertama, di sebuah bioskop dekat rumah gue. Dan… entah karena banjir atau apa, yang jelas waktu gue nonton, cuma ada 5 orang di bioskop itu. SAYANG BANGET.
Cerita tentang para pialang muda Jakarta digambarkan dengan classy oleh film ini. Mahesa (Abimana Aryasatya) dan Kevin (Christian Sugiono) adalah dua sahabat yang sama-sama bekerja di Barata Sekuritas milik ayah Kevin, Rendra (Pierre Gruno). Pekerjaan Mahesa tidak direstui ayahnya (Slamet Rahardjo) yang menganggap investasi saham itu seperti bermain judi. Di lain sisi, Mahesa adalah salah satu pialang cemerlang Barata Sekuritas yang membuat Rendra mengapresiasinya. Kevin iri terhadap Mahesa dan memutuskan untuk mengambil celah yang ada untuk keuntungannya sendiri, baik dalam pekerjaan maupun dalam persahabatan, termasuk mengakui bahwa Analea (Kamidia Radisti) adalah pacarnya padahal Mahesa menyukainya. Hal tersebut membawa petaka. Persahabatan mereka terancam, demikian pekerjaan Kevin karena ulah kotornya akhirnya terendus juga. Akankah persahabatan mereka kembali? Bagaimana dengan karier Kevin?
:_5_sahabat,_3_cinta,_1_profesi.jpg)
Jujur, gue suka film ini. Film ini membawa satu macam hiburan baru kepada perfilman Indonesia. Walaupun tidak bertahan lama di bioskop, film ini memberikan udara segar dengan ceritanya yang tidak biasa. Selain konsep cerita dan karakter(menurut gue, penggambaran karakter-karakternya kuat) yang gue sukai, gue juga suka setting film ini. Semuanya terasa pas dengan cerita metropolitan Jakarta, mungkin kecuali setiap adegan club. Other than that, semua pas. Kehadiran karakter-karakter pendamping juga menambah suasana film ini menjadi lebih menyenangkan untuk diikuti.
Asad Amar, whoever you are, gue tunggu film kedua anda.

