Review: Chak De! India (2007)

Hehehe, tenang aja, gue ijin dulu kok sama Jani sebelum menulis review film ini. Dan karena Jani mengizinkan, langsung deh gue nulis review film India yang satu ini, yang bisa dibilang durasinya gak selama film-film India lain. Gue akan membuat Romantic Superhero jadi BOMBAY dengan serangan review-review film Bollywood! Acha acha *nari India* hahahaha.
Ok, stop with this bullshit. Kita langsung ke review-nya aja. Eh, tapi sebelum masuk ke review, gue mau jelasin sedikit tentang Bollywood. Bollywood, seperti Hollywood yang basisnya ada di California, memiliki basis di Mumbai (dulu Bombay) di provinsi Maharashtra. Jadi bukan di New Delhi. Selain itu, karena India memiliki banyak bahasa, jangan samakan Bollywood dengan film-film berbahasa Tamil, Bengali atau Punjabi. Pada kenyataannya, Bollywood adalah industri film India khusus bahasa Hindi (yang sebenarnya juga dicampur dengan bahasa Inggris). Industri film Bollywood, percaya nggak percaya, adalah industri yang paling banyak memproduksi film dalam satu tahun di seluruh dunia. Nomor dua ditempati oleh (lebih percaya nggak percaya lagi) Nollywood alias industri film Nigeria. Kebanyakan sih filmnya langsung masuk home theater dan dijual murah (sekitar Rp 14.000, - per kepingnya), jadi gue rasa pembajakan udah nggak ada lagi. Baru deh nomor tiga ditempati negara (yang katanya adikuasa tapi ternyata nggak kalau di film) Amerika Serikat dengan industri Hollywood-nya.
Shahrukh Khan alias “The King of Bollywood” ditunjuk sebagai peran utama dalam sebuah film yang sangat feminis ini. Disutradarai oleh Shimit Amin dan ditulis oleh Jaideep Sahni, Chak De! India memiliki suatu misi sosial yang cukup dalam. Yup, film ini berusaha mengangkat derajat perempuan. Dan buat gue, yang adalah seorang perempuan tulen, this film succeeds in bringing the issue.

Kabir Khan (Shahrukh Khan) adalah seorang kapten timnas hoki pria India. Kali ini dia sedang bertanding melawan timnas hoki pria Pakistan yang merupakan “musuh bebuyutan” tim hoki pria India (ibaratnya kayak timnas sepakbola Indonesia kalau tanding lawan timnas sepakbola Malaysia). Pelanggaran dilakukan timnas hoki pria Pakistan dan India diberikan kesempatan penalti. Kabir memutuskan untuk turun sendiri dan dia gagal. Kemenangan pun diraih Pakistan. Dan karena suatu kejadian di lapangan yang tertangkap kamera wartawan olahraga India, Kabir dituduh “menjual skor” kepada Pakistan. Warga India marah. Dia terusir dari rumah dan kampung halamannya serta mundur dari timnas hoki pria India.
Tujuh tahun berselang, Kabir ingin kembali ke dunia hoki, sekaligus membersihkan namanya yang tercoreng akibat kesalahpahaman warga India tujuh tahun silam. Kali ini, Kabir mengajukan diri sebagai coach timnas hoki wanita India. Dia diterima, namun ternyata timnas hoki wanita India dipandang rendan bahkan oleh Asosiasi Olahraga Hoki India sendiri. Para atlet tidak dianggap serius. Piala Dunia Hoki dianggap sebagai suatu “kesempatan berlibur untuk coach dan para atlet secara gratis”. Keluarga para atlet bahkan ada yang tidak menganggap serius keterlibatan mereka dalam timnas hoki wanita India. Kabir ingin mematahkan pandangan rendah orang, apalagi Asosiasi Olahraga Hoki India, bahwa wanita yang terlibat dalam hoki pantas dilihat dan wanita-wanita ini pantas untuk menjadi pemenang di Piala Dunia Hoki. Tentu saja perjuangan Kabir tidak mudah, apalagi dengan sifatnya yang keras malah menimbulkan resistensi dari para atlet wanita. Latihan yang disiapkan Kabir sebenarnya bertujuan baik menurut Kabir, namun tidak menurut para atlet wanita. Akankah Kabir berhasil membawa timnas hoki wanita India menjadi pemenang di Piala Dunia Hoki dan menaikkan derajat mereka serta dirinya sendiri?

Jujur aja, hal yang membuat gue cinta sama film ini adalah bahwa film ini bisa membuat seorang wanita merasa dihargai, sekaligus “ditempeleng” dengan kenyataan bahwa “kalau kita, wanita, mau dianggap sama derajatnya dengan pria, maka kita harus membuktikan bahwa kita tidak manja dan mau bekerja keras”. Shahrukh Khan benar-benar bisa membuat suasana menjadi sangat intense dan tegang, tapi di lain sisi menyenangkan dan menghibur. Pace film ini pas jadi nggak membuat penonton bosan. Dari sini juga gue baru sadar bahwa ternyata atlet wanita itu latihannya keras banget. Mungkin ada satu hal yang buat gue kurang realistis, yaitu salah satu atletnya tidak mengerti bahasa Hindi (wajar sih, banyak juga orang India yang nggak ngerti bahasa Hindi) tapi bisa mengikuti latihan yang diberikan dalam bahasa Hindi dan Inggris. Apart from that, film ini keren banget.
Film ini di shoot di Australia (dengan orang-orang Australia asli) dan di India, menambah suasana realistis film ini. Nggak ada yang spesial dari sinematografi, artistik atau sound walaupun tetap enak untuk dilihat dan didengar, tapi dengan ceritanya yang mengalir dan memukau membuat gue tahan duduk (dan tiduran, karena gue nontonnya di DVD yang gue beli di Mustafa Singapura) selama 153 menit. Setiap karakter yang menonjol memiliki karakteristiknya masing-masing dan karakter-karakter yang nggak menonjol hadir karena mereka memiliki tujuan, jadi nggak random aja (ini berarti Chak De! India menjalankan aturan scriptwriting dengan sebaik-baiknya, so salut banget buat penulis dan aktor-aktornya). No wonder film ini menang banyak penghargaan termasuk Best Film di National Film Award for Best Popular Film Providing Wholesome Entertainment. Film ini juga di claim sebagai salah satu blockbuster Bollywood. Buat gue, film ini sangat deserve semua itu. Ini nih contoh film yang bener-bener merhatiin aspek cerita dan akting!
Sangat recommended. Tenang aja, buat yang nggak suka bombay-bombay ala India, film ini nggak bombay-bombay amat kok. Jujur gue gak tau di mana bisa cari DVD ini selain di Mustafa Singapura yang waktu itu juga gue lihat tinggal beberapa keping saja. Mungkin ada di Pasar Baru atau Sunter. Coba cari aja.

