Review: The East (2013)

“When it’s your fault, it shouldn’t be easy to sleep at night. Especially when we know where you live.” Dua kalimat introduksi pada kutipan tersebut bisa sedikit mengilustrasikan betapa mengerikan sindikat klandestin yang bergelar The East itu. Visi mereka cuma satu: mengeradikasi orang-orang atau perusahaan-perusahaan yang diduga ‘mengotori’ lingkungan hidup.
Adalah Jane alias Sarah (Brit Marling). Seorang investigator yang dicarter oleh sebuah firma bertugas menyidik siapa-siapa yang terlibat dalam sindikat teroris tersebut. Banyak orang berkata bahwa The East hanyalah omong kosong, sindikat yang tak pernah ada. Namun, dengan bukti seadanya, Sarah tetap melanjurkan investigasi.
Naskah yang ditulis oleh Brit Marling saya rasa memang tidak pernah mengecewakan penonton. Sejak Another Earth pada 2011, lalu Sound of My Voice yang dirilis tahun lalu, Marling selalu berimprovisasi untuk menyajikan hal-hal yang terbilang out of the box. Bahkan, menurut kabar, The East diinspirasi pengalaman nyata Zat Batmanglij dan Brit Marling ketika mereka bergabung dalam sebuah grup hippie pada 2009 silam.
Berbeda dengan Sound of My Voice yang punya ritme lambat tapi dirampungkan dengan twist yang “gendeng,” The East bergerak lebih cepat dan lebih leluasa. Penonton segera diangkat ke dalam aksi yang bergerak di layar — dan detik itu pun jantung saya langsung berdebar cepat. Selain itu, film yang digawangi Batmanglij ini tidak hanya sekadar menampilkan subjek seperti yang tampak pada premis, tapi juga menonjolkan getirnya kehidupan para anggota kelompok klandestin tersebut — yang dipenuhi dengan kelokan-kelokan atraktif.
Dengan subjek masalah kekinian yang dihadirkan di dalamnya, The East turut mengajak penonton untuk memilih pihak mana yang akan mereka pilih. Ia punya pesan yang tulus dan tidak dibuat-buat. Bukan cuma itu, jajaran pemeran di dalamnya juga ikut menyokong bagaimana The East mumpuni untuk merenggut hati penonton — meskipun, sekali lagi, konklusinya tidak se-“gendeng” Sound of My Voice.

