Review: 3Sum (2013)

Omnibus lagi? Saya kira trend itu akan berhenti menaungi film Indonesia di tahun 2013 ini. Eh, tapi malah baru Januari sudah keluar lagi film omnibus. Nggak tanggung-tanggung, 3 segment di 3Sum (heh, jorok ih pikirannya) ini bahkan tidak ada kaitan ceritanya satu sama lain, sampai-sampai genrenya pun berbeda semua. Disutradarai oleh 3 sutradara baru, 3Sum terdiri dari Insomnights (Horor), Rawa Kucing (Drama), dan Impromptu (The Raid, eh maksud saya Action). Nah, supaya lebih enak, review ini akan saya bagi 3 juga sesuai dengan tiap segmennya.
Insomnights
Director: Witra Asliga & Andri Cung
Sebagai segment pembuka 3Sum, penonton diberi segment bergenre horor terlebih dahulu. Kenapa begitu? Saya nggak tau, mungkin yang ini kalah hompimpa. Bercerita tentang Morti (Winky Wiryawan), seorang laki-laki yang mengalami susah tidur atau lebih dikenal dengan istilah insomnia. Eitts.. beda sama insomnianya para ABG labil yang nggak bisa tidur malem tapi siangnya ngorok sampe sore. Ternyata, Morti akhir-akhir ini susah tidur karena baru saja ditinggal oleh pacarnya sebelum mereka mau menikah. Akibat penyakitnya ini, Morti jadi mulai sering melihat hal-hal supranatural di kamarnya.
Interesting premise, malah menurut saya ini adalah segment dengan cerita terbaik walaupun generik. Dengan alur penceritaan yang acak (maju-mundur-maju 2 langkah-mundur 3 hari) makin membuat penonton seperti sedang menyelesaikan sebuah puzzle. Bagi yang sering menonton film-film dengan twist gila-gilaan, nggak bakal lama buat menyelesaikan puzzle Insomnights, tapi toh kalaupun kalian gagal, para sutradara masih cukup baik kok buat nyuapin kalian jawabannya. Which I thing terlalu banyak nyuapinnya, dalam hal membuka jawabannya, Insomnights berakhir dengan lempeng dan biasa. Semuanya diberi tahu, tidak ada hal yang bisa dibawa menjadi diskusi seusai menonton.
Dan seperti yang saya katakan, cerita Insomnights adalah yang terbaik di 3Sum, tapi technicalnya adalah yang terburuk, mulai dari color grading yang berlebihan, soundnya yang berantakan, hingga editing tiap scene yang kasar sekali membuat Insomnights seperti film pendek yang beredar di Youtube.
Tapi untung saja, masih ada Winky Wiryawan yang menjadi penyelamat dari Insomnights, aktingnya berhasil membawa saya terhanyut ke dalam suasana mencekam dan menegangkan. Namun sebatas itu saja. Insomnights adalah hasil dari sebuah ide brilian dengan eksekusi yang sangat disayangkan.

Rawa Kucing
Director: Andri Cung
Bentar, saya mau berdiri dulu sambil tepuk tangan buat Rawa Kucing. Kalau kalian mau tau apa segmen terbaik menurut saya? Jawabannya adalah Rawa Kucing. Mungkin ceritanya tidak se-Shyamalan Insomnights, tapi Rawa Kucing itu rapih. Ketika saya menontonnya, saya merasa sedang menyaksikan karya sutradara yang sudah terjun ke dunia perfilman selama bertahun-tahun. Mulai dari temponya yang stabil, setting dan dekorasinya yang keren banget, hingga chemistry para pemainnya yang pas semuanya menyatu menjadi Rawa Kucing.
Rawa Kucing, yang terinspirasi dari sebuah kisah nyata, bercerita tentang hubungan cinta antara Ayin (Aline Adita) dan Welly (Natalius Chendana). Di hari ulang tahun Ayin, teman-temannya memberi kado dalam bentuk berupa gigolo, yang mana adalah Welly. Ayin yang terkenal senang berpesta dan menghamburkan uang ternyata memiliki masalah batin yang berat, dan semua hal yang ia lakukan hanyalah sebagai alat pelupa masalahnya. Di situlah masuk Welly dengan segala masalah dan keterbatasannya, namun menyayangi Ayin apa adanya.
Susah mencari cela film ini, dibuat versi panjangnya pun saya bakal pergi menontonnya lagi. Akting dari Aline dan Natalius sama-sama hebat. Mungkin yang tidak saya suka adalah akting dari kakaknya Ayin. Entah kenapa, saya mual melihatnya marah-marah dengan satu gaya intonasi dan pola yang sama. Awalnya keren, “Widih marah-marah”, lama-lama monoton. Endingnya termasuk cheesy dihiasi lagu pop cinta, tapi untuk orang Indonesia mungkin itu cara termudah untuk menyentuh emosi mereka.

Impromptu
Director: William Chandra
@janitra thnx to the funny witty host of @moviegoersbdg , you made my day
— william chandra (@willchndra) February 2, 2013
Okay, udah ditweet begitu sama sutradaranya gimana bisa mau kritik filmnya.
Tapi 2 hari kemudian, muncul tweet ini.
@janitra kocaaaak dirimu !tp kq impromptu ga direview siiiii romanticsuperhero.com/reviews/action…
— Hannah Al Rashid (@HannahAlrashid) February 5, 2013
Sepertinya sekarang saya harus me-review Impromptu.
Well, to be honest, ini adalah segmen paling menghibur dari keseluruhan 3Sum. Impromptu kebetulan mengusung genre action, dan terhitung sejak 23 Maret 2012, setiap kali ada film action yang melibatkan bela diri, saya akan terus membandingkannya dengan The Raid.
Banyak pujian diberikan terhadap The Raid karena konon tidak peduli cerita dan fokus di actionnya saja. Impromptu tidak beda jauh, ya, memang ada cerita, dan memang ada pesan yang coba untuk ditonjolkan. Tapi nyatanya, penceritaannya tidak terlihat untuk menonjolkan hal tersebut. Akhirnya kesan yang saya dapat hanyalah sebuah film pendek dengan isi bak bik buk, ceritanya hanya berfungsi sebagai pengantar adegan actionnya saja.
Lalu bagaimana actionnya? Not bad. Awalnya saya pesimis melihat Dimas Argobie dan Hannah Al Rashid sebagai karakter utama. Saya tidak pernah tahu kemampuan bela diri mereka. Sempat takut, bahwa actionnya bakal sekualitas Indosiar. Tapi ternyata dugaan saya salah, dengan konsep Mr. and Mrs. Smith yang jago berantem tangan kosong, Impromptu memberikan pertarungan yang menghibur. Memang intensitasnya masih jauh dari The Raid, hal ini mungkin dikarenakan editing dan pace yang kurang cepat. Tapi in the end, it was entertaining. Oh, and did I tell you that Hannah Al Rashid is really cool?
Ada beberapa easter eggs di segmen ini. Seperti “pengait” antara Impromptu dengan Insomnights, cameo dari beberapa sutradara, dan nama polisi yang mirip dengan salah satu karakter populer film action.

p.s. Sedikit merchandise, berhubung nonton bareng sama cast & crew, jadi saya bisa foto bareng sama Hannah Al Rashid, aktris di segment Impromptu. Jangan ngiri ya.

Hannah, buat kamu aku kasih:

