Pacific Rim: IMAX 3D Review

To Fight Monsters, We Created Monsters
Dari taglinenya saja tidak sulit untuk menebak apa maunya Guillermo Del Toro di film terbarunya ini. Apalagi bila kalian sudah menonton trailernya juga, Pacific Rim adalah sebuah film yang jualan utamanya adalah “Robot vs. Monsters”. Sebuah mimpi basah bagi anak generasi 80 dan 90 seperti saya yang dari kecil memang sudah terekspos dengan film-film robot raksasa dan monster. Namun, baru di Pacific Rim, mimpi itu menjadi kenyataan. Dengan dukungan visual efek dan teknis Hollywood yang memang harus diakui adalah yang terbaik saat ini, saya dengan bangga mengatakannya, my childhood is now complete.
Robot or Mecha
Sebelum saya diralat oleh banyak orang, saya ingin menjelaskan dulu perbedaan antara robot dan mecha. Sebuah pengetahuan baru juga bagi saya malah. Perbedaan utama mereka ada di A.I. (Artificial Intelligence) sendiri. Robot dapat mengendalikan dirinya sendiri, sedangkan Mecha harus dioperasikan oleh manusia. So, Transformers is a robot movie, sedangkan Pacific Rim is a mecha movie.

Jaeger vs. Kaiju
Pacific Rim bercerita di masa depan yang tidak terlalu jauh saat Kaiju (bahasa Jepang untuk monster) mulai muncul dari permukaan laut. Tentunya pemerintah tidak membasminya dengan tentara dan serangan nuklir karena nanti jatuhnya akan menjadi another apocalypse movie, so, they created another monster, yang disebut Jaeger (bahasa Jerman untuk pemburu). Jaeger adalah robot mecha berukuran besar yang dioperasikan oleh 2 orang. Tugas Jaeger tentunya untuk mengalahkan para Kaiju-kaiju ini. Bagi kalian yang suka nonton Ultraman atau Power Ranger (bagian Megazordnya), hal ini sudah tidak asing lagi.
Problemnya mulai muncul saat Kaiju yang muncul mampu beradaptasi dan menjadi lebih kuat. Para Jaeger pun hancur lebih cepat dari manusia dapat membuatnya. Program Jaeger pun dihentikan, dan manusia mencari alternatif lain yaitu dengan membuat tembok besar. Namun, segelintir orang masih percaya bahwa Jaeger sebenarnya adalah solusi paling baik untuk menghentikan Kaiju, bila didukung dengan strategi yang benar.

Adalah Stacker Pentecost (Idris Elba) yang memimpin gerakan ini. Dengan mengumpulkan semua Jaeger yang tersisa bersama pilotnya, Stacker berencana untuk menghancurkan serangan Kaiju ini langsung pada pusatnya, yaitu tempat di mana mereka mulai bermunculan.
Ada 4 Jaeger tersisa yang berhasil dikumpulkan; Crimson Typhoon yang dipiloti oleh 3 orang Cina bersaudara, Cherno Alpha yang dipimpin oleh 2 orang rusia, Striker Eureka, Jaeger terkuat, dikendarai oleh ayah-anak asal Australia, dan tentunya Gipsy Danger, Jaeger dari pahlawan kita Raleigh Beckett (Charlie Hunnam) dan Mako Mori (Rinko Kikuchi).
Bila ingin singkat, sebenarnya ini semua hanyalah plot yang dikarang supaya penonton tidak langsung disuguhi Jaeger vs. Kaiju tanpa logika yang tepat. But there you go, it’s the story.

Visually Engaging
Sekarang kita bahas jualan utamanya: the fight between Machines and Monsters.
Sejak menit pertama, Pacific Rim seperti tidak mau buang-buang waktu. Kita langsung ditawarkan penampakan Kaiju yang memang menyeramkan and it looks really really real. Saya rasa saya tidak pernah melihat monster di layar lebar semenakutkan dan senyata ini. Tapi itu baru setengah jalan. Ketika akhirnya Jaeger mulai muncul di layar, para pilotnya secara sinkron bergerak mengendarai Jaeger, di sanalah saya tahu bahwa Pacific Rim tidak mungkin mengecewakan.

Del Toro juga cukup cerdik untuk membagi fightnya secara rapih dari awal hingga akhir supaya penontonnya tetap tertarik namun tidak sampai bosan. Michael Bay, menurut saya gagal melakukan ini di Transformers 2 dan 3 ketika fightnya berakhir terlalu lama di akhir. Fight terlama dan terepik di Pacific Rim malah berada di fight kedua dari akhir dan berdurasi cukup. Actionnya juga dibangun dengan sangat baik dan meningkat, tidak jatuh flat seperti mayoritas fight scene Transformers. Lalu, meski para Jaeger adalah Mecha/mesin, penonton dapat dibuat peduli oleh perjuangan dari para pilot di dalamnya. Tidak heran penonton tepuk tangan saat Jaeger berhasil mengalahkan Kaiju dengan gagahnya.
Saya tidak mau bilang visual efek di Pacific Rim kualitasnya berada di atas Transformers, mereka kemungkinan berada di level yang sama. Hanya saja, Del Toro crafted action scene better than Transformers. And that’s what matters. In the end of the day, I’d take Pacific Rim over Transformers.
IMAX 3D
Langsung saja saya katakan, Pacific Rim diciptakan untuk ditonton di IMAX. Dengan dukungan layar besar dan audio yang menggelegar, pertempuran antara Kaiju dan Jaeger akan menjadi percuma bila ditonton di layar kecil. Tapi tentunya tidak semua dari kalian tinggal di Jakarta, so here’s my advice, go see it in biggest screen.

Soal 3D-nya, it’s weird, tapi setelah 20 menit film berjalan saya sudah lupa untuk keep up with the technical issue karena saya benar-benar sudah merasa berada di dalam filmnya. Saya sudah lupa untuk mengukur bagaimana pop-outnya, depthnya, dan semacamnya. Pacific Rim was made for people like me. Sangat sulit bagi saya, ketika di dalam studio, bertingkah sebagai reviewer film, I was having fun a lot, and nothing else matters. Semua kekurangan yang kerap orang lain bilang di acting, story, plot, dan kawan-kawannya saya sudah tidak peduli.
Verdict
Pacific Rim selama 2 jam berhasil mengeluarkan anak kecil di diri saya. Seorang anak kecil tidak akan mengeluh 300 episode Power Ranger memiliki pola cerita yang sama, dan akan terus bangun setiap Minggu pagi untuk melihat episode terbarunya. Seperti itulah yang Pacific Rim lakukan terhadap saya.

