Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

Tayang telat seminggu lebih dibanding peredarannya di Amerika sana tampaknya justru membuat penonton Indonesia makin tidak sabar menunggu sekuel dari salah satu horror terpopuler sedekade terakhir ini. Hal ini sangat terlihat ketika saya menyaksikannya pada midnight show Sabtu kemarin. Ya, hype Insidious memang gila di sini, sama gilanya seperti orang Indonesia terhadap BlackBerry. Meski kurang menyukai seri pertamanya, tampaknya adalah sebuah kewajiban untuk membuktikan apakah James Wan masih bisa konsisten menakut-nakuti penonton pasca The Conjuring. Dan jawabannya?
Pertama-tama, bila kalian belum sama sekali menonton Insidious, maka lebih baik kalian menontonnya terlebih dahulu. Insidious Chapter 2 ini benar-benar sekuel sejati. Berarti, semua halnya memang terkait erat dengan seri pertamanya. Usai kejadian di Insidious, keluarga Lambert kembali menjalani kehidupannya. Tentunya Josh (Patrick Wilson), yang di seri pertama melakukan Astral Projection demi menyelamatkan anaknya, Dalton (Ty Simpkins), bukanlah benar-benar Josh. Kini ia dirasuki oleh arwah lain. Siapakah itu? Untuk mengetahui jawabannya Chapter 2 kerap kali melakukan flashback hingga ke masa kecil Josh. Banyak pertanyaan di seri pertama kini terjawab, tentunya diiringi dengan penampakan-penampkan bangsat dan momen mengejutkan motherfucker lainnya.
Bila kita kembali ke beberapa bulan yang lalu, saat The Conjuring dan Insidious 2 baru saja merilis trailernya masing-masing, saya tidak akan ragu untuk mengatakan bahwa Conjuring akan jauh lebih seram. Trailernya sendiri sudah seram, sedangkan Insidious 2 malah seperti film drama. Guess what? Semuanya disimpan untuk film. James Wan bahkan tidak mau bertele-tele di sini. Film baru dimulai, JEBRET! Sudah bertubi-tubi kita kena penampakan, dan hampir semuanya tidak ada di trailer.

Meski seram, yang harus diacungi jempol juga adalah bagaimana Insidious 2 tidak terasa seperti sekuel pengeruk uang. Film ini dibuat dengan tujuan untuk menceritakan beberapa hal baru. Bagaimana Wan mengaitkan event-event di seri pertama dengan seri keduanya adalah sangat baik. Meski saya ragu semuanya sudah direncanakan sejak awal, tapi in the end, tidak terasa dipaksakan.
Lalu ada juga scoring WTF khas Joseph Bishara yang lagi-lagi membuat penontonnya seperti makan cabe. Pedes tapi nagih. Dan bila saya bisa santai-santai saja nonton Conjuring hingga akhir, saya harus akui saya sudah stress berat di 30 menit awal Insidious 2. Bagaimana teknik pengambilan kameranya juga terlalu pintar. Bagaimana setiap sudut seperti dipaksa untuk dilihat oleh penonton. Hal inilah yang tidak jarang berhasil membuat penonton kaget.
Meski menuju akhir film pacing dan tingkat keseramannya kendor demi memberikan pengembangan cerita, Insidious 2 jelas berhasil memikat hati saya. Dan bila harus diadu dengan The Conjuring, maka saya dengan tegas akan memilih yang satu ini (bukan berarti The Conjuring jelek ya). Fuck you, RottenTomatoes score!

