Review: Thor: The Dark World (2013)

Melanjutkan Phase 2 usai Iron Man 3 di musim panas kemarin, kini Marvel Studios memberikan sajian terbarunya dalam bentuk Thor: The Dark World. Yep, sekuel dari film Thor dua tahun yang lalu ini hadir melengkapi jajaran film-film superhero Marvel yang nantinya akan kembali bergabung di sekuel The Avengers pada tahun 2015. Namun yang terlebih penting, bagi saya sendiri, Thor: The Dark World ini datang membersihkan rasa pahit setelah Iron Man 3 dan mengembalikan Marvel Cinematic Universe ke jalan yang benar.
Dibuka dengan credit logo Marvel yang baru, film arahan Alan Taylor ini kemudian membekali penontonnya dengan mitologi dunia Thor. Sedikit narasi dari Odin (Anthony Hopkins) menjelaskan mengenai sejarah 9 Realms dibarengi dengan visual menawan tentangnya. Di sini kita pertama kali bertemu dengan Malekith (Christopher Eccleston), sang antagonis. Ternyata, jauh sebelum terciptanya 9 Realms, semesta dikuasai oleh kegelapan dan para dark elves yang mana tidak lain dipimpin oleh Malekith. Kekuatan mereka berasal dari Aether, semacam sumber kekuatan layaknya Tesseract di The Avengers. Sayangnya, para dark elves dikalahkan oleh prajurit Asgardian. Keberadaan Malekith dan para pasukannya kemudian tidak diketahui, dan Aether disimpan di sebuah tempat tersembunyi.
Cerita berkembang dari sana, ketika kemudian keberadaan Aether ditemukan dan Malekith berusaha kembali menguasai alam semesta. The Dark World juga menyelesaikan penungguan Jane (Natalie Portman) akan Thor (Chris Hemsworth) sejak film pertamanya. Sementara Loki (Tom Hiddleston), kini menjadi tahanan usai kelakuannya menghancurkan New York. Plotnya secara garis besar ringan, khas film Marvel.

Plot seperti ini sudah cukup sering digunakan oleh film Marvel. Menggunakan sebuah MacGuffin (apa itu? baca di sini) sebagai plot-device untuk menggerakkan ceritanya, setidaknya sudah dipakai di Captain America: The First Avenger dan The Avengers. Dan kini Thor: The Dark World pun menggunakannya lagi. Dan saya cukup yakin, ke depannya, akan ada lagi film Marvel di mana garis besar ceritanya melibatkan sebuah pencarian sumber kekuatan.
Namun, mari kita tidak terlalu memedulikannya, karena film ini benar-benar menghibur. Ceritanya boleh tidak variatif, namun di tangan Alan Taylor yang sudah biasa menyutradarai Game of Thrones, sekuel Thor ini hidup dan memiliki pesonanya sendiri. Pertama, Asgard tampil lebih cantik dengan balutan CGI-nya yang lebih baik. Porsinya pun jauh lebih banyak ketimbang film pertama, lebih banyak daerah yang di-explore membuatnya seakan lebih nyata.
Kedua, pertarungannya epic. Hal ini seharusnya sudah bisa diprediksi. Thor dan Games of Thrones memang memiliki banyak kesamaan. Pertarungan skala besar melibatkan banyak prajurit berkelahi adalah hal biasa. Dan itu semua dieksekusi dengan sangat baik. Actionnya tidak berlebihan, juga tidak berkekurangan, semuanya pas.

Lalu ketiga, tentunya humor. Bukan film Marvel kalau tidak berhasil membuat kalian tertawa. Walau faktor ini akhirnya menjadi boomerang di Iron Man 3, namun di Thor: The Dark World saya harus mengatakan komedinya ini nendang banget. Porsinya tidak kebanyakan, namun sekalinya muncul, satu studio bisa dipastikan terbahak-bahak. Sayangnya, ada satu momen yang cukup mengganggu. Saat satu adegan yang seharusnya berakhir sedih disusul dengan komedi, perubahan tone yang terlalu drastis ini lumayan mengganggu bagi saya. Tapi terlepas dari satu hal tersebut, sisanya berjalan cukup baik.
Mungkin satu hal di mana Loki benar-benar bisa menang dari Thor adalah di departemen akting. Tom Hiddleston kembali mencuri tiap adegannya. Saya tidak terlalu mengerti, kenapa orang-orang memujanya usai Thor dan The Avengers, tapi di sini, ia naik satu level. Terasa perbedaan yang cukup mencolok antara Tom dengan cast yang lainnya. They’re not bad, but Tom was just marvelous.
Sementara kelemahan The Dark World, bila harus dicari-cari, adalah di Malekith sendiri. Kurangnya development membuatnya sebagai one-note charater dari awal hingga film berakhir. Tapi saya rasa itu pun juga bukan hal yang terlalu penting, berhubung yang kita bahas juga film superhero. But if you’re looking for one bad-ass complicated villain, this one is not. Tapi kalau kalian juga anti Mandarin di Iron Man 3, tenang saja, yang ini aman.
Yang jelas, Thor: The Dark World melampaui ekspektasi saya. Film pertamanya jauh dari kata buruk, tapi terasa dibuat hanya sebagai formalitas saja. Di sini, semuanya naik kelas, dan mungkin, mungkin saja ini adalah film solo terbaik milik Marvel setelah Iron Man di tahun 2008.

**Jangan lupa, ada dua credit-scene. Satu di tengah-tengah, satu lagi benar-benar di ujung credit.**
kelewatan? Tenang, sudah saya upload kok.
