Review: Anvil! The Story of Anvil (2008)
Inilah yang layak disebut sebagai contoh nyata dari sebuah perjuangan dan cinta yang tak habis-habisnya terhadap sesuatu, karena film ini membuktikan bahwa kita harus bersabar dan gigih berusaha walaupun waktu yang dibutuhkan bisa saja tidak masuk di akal kita.
Dokumenter karya Sacha Gervasi ini memperkenalkan kita pada suatu band aliran metal yang menjadi inspirasi dan panutan musisi-musisi dari band-band rock-metal legendaris seperti Lars Ulrich dari Metallica, Slash dari Guns N’ Roses dan Tom Araya dari Slayer. Anvil, sebuah band yang dipelopori oleh Steve “Lips” Kudlow (vokalis) dan Robb Reiner (drummer), pernah berada dalam satu event musik besar di Jepang tahun 1984, bersamaan dengan Scorpion, Whitesnake dan Bon Jovi. Semua album band-band tersebut berhasil laku keras di pasaran dunia, kecuali satu… Anvil.
Sacha Gervasi adalah salah satu fans Anvil. Sacha mendokumentasikan kisah hidup Lips dan Robb 20 tahun setelah masa “kejayaan” mereka: mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar berjaya. Lips bekerja sebagai salah satu karyawan catering untuk anak-anak dan Robb bekerja sebagai tukang bangunan. Kita disuguhkan keinginan dan kegigihan Lips dan Robb yang ingin menaikkan derajat Anvil. Mereka tetap bermain dalam skala kecil untuk fans setia mereka, sementara menjalankan tugas mereka sebagai kepala keluarga masing-masing. Ketika mendapatkan kesempatan untuk manggung di Eropa dari seorang fans yang mengaturnya, bahkan hal tersebut pun berjalan jauh dari harapan. Pulang ke Kanada tanpa imbalan yang sesuai, Lips tetap optimistis dan mengirimkan demo tape Anvil ke produser Chris Tsangarides. Dari situlah cerita Anvil yang mulai merangkak dimulai.

Saya bukanlah penggemar musik metal, tapi ketika seorang film buff merekomendasikan film ini kepada saya, saya sadar bahwa film ini bukanlah film yang hanya bisa dinikmati oleh penggemar musik metal. Saya tersentuh dengan usaha mereka untuk tetap menaikkan derajat Anvil walaupun terlihat mustahil. Sacha Gervasi membuat semuanya menjadi amat intim: kita seakan-akan terlibat dalam semua yang mereka lakukan. Kita disuguhkan gambar realita yang ironis, betapa hopeless-nya band ini, tapi betapa passionate para anggotanya. Sacha bahkan bisa merekam kejadian-kejadian yang amat emosional di antara Lips dan Robb. Kita melihat mereka saling mengomentari satu sama lain, berkelahi, berdamai, berkelahi lagi dan berdamai lagi. Yang paling utama, kita melhat optimisme dan usaha mereka yang tak habis-habisnya walaupun sudah 20 tahun. Ketika orang-orang di sekitar mereka mulai kehilangan harapan dan bahkan kesabaran untuk optimisme mereka yang tak kunjung berhasil, Lips dan Robb tetap mempertahankannya. Keyakinan dan kegigihan mereka membuat film ini menjadi amat menyentuh.
Anda tidak harus menjadi penggemar musik metal untuk menikmati film ini. Cukup siapkan hati dan pikiran anda supaya bisa menjadi dasar empati dan logika yang dibangun di sepanjang film. You wouldn’t regret this.


