Review: Flight (2012)

Sesuai judul dan posternya, tidak sulit menebak bahwa Flight bercerita seputar dunia penerbangan. Tapi bila ditilik lebih dalam, semua hal penerbangan hanya premis uniknya saja. Isinya? Lebih kepada bagaimana seorang pilot berusaha melawan kecanduan alkoholnya sembari menata ulang hidupnya yang berantakan.
Bila Anda kebetulan menonton trailernya, Flight mungkin terlihat seakan-akan action-packed movie, itu semua hanyalah awalnya saja. Penonton di bawa dengan kecepatan tinggi dari awal untuk take-off yang baik. Begitu sudah di atas, semuanya mulai tenang dan melambat, perlahan drama mulai mengambil bagiannya.
Whip Whitaker (Denzel Washington) adalah seorang pilot hebat dan seorang alkoholik. Keduanya tidak saling mendukung. Hidupnya berantakan usai cerai dengan istrinya. Dia juga sudah lama tidak bertemu dengan anaknya. Lalu ketika sedang melakukan pekerjaannya, pesawat Whip bermasalah, menuntutnya untuk melakukan sebuah tindakan penyelamat selagi dia dalam kondisi mabuk. Ironisnya, Whip berhasil. Dia disebut sebagai pahlawan, namun dalam investigasi berikutnya, problem alkohol Whip mulai terungkap.

I’m a big fan of drama. Beberapa teman saya mengatakan durasi 2 jam lebih Flight cukup membosankan dan tidak berisi. Semua terasa berputar-putar di landasan yang sama. Saya tidak setuju, Denzel sebagai Whip berhasil menggambarkan seorang alkoholik yang mudah direlasikan dengan kita. Tidak sulit untuk merasakan apa yang dirasakan oleh Whip. Meski, seringkali Whip membuat keputusan bodoh layaknya karakter di film horor.
Denzel boleh menyabet nominasi Best Actor di Oscar dalam aktingnya di Flight. Namun, pemeran pendukungnya tidak kalah hebat. Don Cheadle, Bruce Greenwood, Kelly Reilly hingga John Goodman yang tiap kehadirannya sangat ditunggu tampil kompak dan memamerkan sebuah chemistry yang kuat. Merekalah alasan saya tidak berhasil tertidur sepanjang film.
Please get on board before this flight meets its final landing.

