Review: Beasts of The Southern Wild (2012)

Dengan modal kecil, kru film yang sedikit, dan aktor non-professional, sutradara Benh Zietlin (dalam film layar lebar pertamanya) telah membuat salah satu film terunik tahun 2012 kemarin. Film Beasts of The Southern Wild ini merupakan adaptasi dari karya panggung berjudul “Juicy and Delicious” karya Lucy Alibar, yang juga bersama Benh Zietlin mengadaptasikan dramanya menjadi skenario film. Berlatar di pinggiran sebuah pulau di Amerika Serikat yang terancam banjir akibat global warming, film ini merupakan dongeng realistis tentang kelangsungan hidup dan kepaduan manusia yang patut ditonton.
Sebelum kita sampai ke tokoh-tokoh film ini, saya ceritakan dulu tempat tinggal mereka yang bernama “Bathtub”. Bathtub berletak di pinggiran laut di bagian selatan negara bagian Louisiana, dan daerah miskin tersebut dipisahkan oleh tembok besar dari daratan utama karena jika badai atau kenaikan air memuncak daerah tersebeut akan tenggelam banjir. Walaupun pengasingan tersebut terdengar suram, para penduduk Bathtub hidup dengan semangat tinggi karena kekeluargaan dan persahabatan yang kaya. Tanpa politik, agama, atau pun perbedaan kelas dan ras, hidup di situ bagaikan pesta rimba tanpa akhir. Pada adegan parade kota di awal film, keunikan mereka sangat diperjelas melalui kebahagiaan dalam bermain kostum dan petasan ataupun ritual aneh seperti membalap bayi dan bertukar pakaian antara wanita dan pria. Namun, ketentraman tersebut berakhir ketika Bathtub ditinggal hampir semua penduduknya dan kebanjiran karena badai Katrina.
Permata pada film ini ialah Quvenzhané Wallis, anak perempuan umur 7 tahun yang dengan sangat tegas dan penuh kepekaan memainkan tokoh Hushpuppy. Alur pada film ini bertumpu pada transformasi emosional Hushpuppy dari seorang anak yang polos dan sensitif menjadi ‘Beast of The Southern Wild’ yang dipicu kehancuran kampungnya dan ayahnya, Wink, yang jatuh sakit. Dalam kelangsungan film Hushpuppy sering sekali menyatakan pendapatnya melalui voice-over, sehingga penonton menyerap cerita ini seperti mendengar dongeng anak kecil yang polos tetapi arif. Seperti kebiasaanya untuk mendengar detak jantung hewan-hewan untuk lebih mengerti hukum alam ataupun berbicara pada ibunya (tidak jelas ke mana) seperti kepada teman imajinasi.

Yang membuat film ini hidup ialah hubungan Hushpuppy dengan Wink yang unik. Wink membesarkan Hushpuppy seperti anak lelaki, Wink membiasakannya untuk bisa hidup miskin dan jorok tetapi bahagia, seperti binatang. Dan persahabatan mereka sangat dekat di mana Wink memanggilnya ‘man’ atau ‘boss’. Ketika Wink jatuh sakit ia menjadi lebih keras dan kasar terhadap Hushpuppy yang tidak mengerti, sehingga kepekaan Hushpuppy terbukti dengan episode-epiode emosionalnya seperti membakar rumah dan melempar-lempar barang. Penontonpun bisa kehilangan respek untuk Wink yang tidak menganggap Hushpuppy sebaggai anak kecil, namun perlahan kita juga mengerti kalau Wink hanyalah takut akan kelangsungan hidup anaknya. Wink suka memancing Hushpuppy untuk teriak barbar dan memamer otot, menyuruhnya meretakan kerang kepiting dengan tangan, dan melarang Hushpuppy nangis dengan satu tujuan yaitu melatihnya menjadi ‘King of the Bathtub’ ketika Wink wafat. Pada adegan klimaks yang mengagumkan, penonton juga melihat keinginan tersebut terkabul. Benh Zietlin dengan pintar mengarahkan hubungan mereka tanpa kecengengan sehingga terasa sangat nyata dan menyentuh.
‘No crying.’ dan ‘Beast it!’ merupakan motto yang digunakan Wink untuk memastikan gairah hidup Hushpuppy tidak terkelahkan oleh banjir yang menimpa Bathtub. Hanya 11 penduduk Bathtub yang tidak pergi ketika badai Katrina mulai datang, dan seperti mereka terus setia terhadap kampung mereka walaupun air laut yang membanjiri akan membunuh sumber daya fauna dan flora yang tersisa. Hushpuppy belajar membangun perkemahan, memburu, juga merawat teman yang sakit, tetapi Benh Zietlin lebih ingin mengemfasiskan modal kelangsungan hidup yang bersifat moral dibandingkan fisik. Mereka selalu menyia-nyiakan kesempatan untuk tinggal di tempat yang pastinya lebih baik dari Bathtub-pasca-apokaliptik seperti kemah pengungsian demi mempertahankan pendirian mereka dari orang-orang kota. Terutama Hushpuppy yang menolak tawaran seorang koki (dengan sosok ibunya) di sebuah kafe untuk tinggal di situ karena ia sadar akan tanggung jawab dan jati dirinya sebagai penduduk Bathtub dan pelindung teman-temannya. Solidaritas kepada orang sekeliling dan kesetiaan pada jati diri tersebut yang memberi Hushpuppy gairah untuk terus hidup dan menjadi ‘Beast of The Southern Wild’ dengan hati yang besar.
Bahan istimewa yang membedakan film ini dari film bencana lainnya ialah unsur dongeng-fantasi yang dibumbui Benh Zietlin. Di sekolah Hushpuppy diajarkan bahwa pada zaman purba dahulu hidup manusia terancam oleh binatang buas bernama aurochs, namun manusia tidak menyerah untuk hidup sehingga ketika zaman es datang manusialah yang hidup dan aurochs yang terbeku. Di film ini es yang membekukan aurochs pecah sampai mereka hidup kembali dan jalan mencapai Bathtub, dan hal ini diparallelkan dengan degradasi alam yang mengancam hidup manusia zaman sekarang. Karena itu, cerita film ini juga merupakan sebuah metafora di mana Bathtub melambangkan bumi yang terancam dan Hushpuppy merupakan perwujudan manusia yang bisa terus bertahan hidup.

Pengarahan visual Benh Zietlin juga sangat menarik di mana sinematografer Ben Richardson menangkap realism-gaib pada film ini. Ben Richardson seefektif mungkin memanfaatkan lighting alamiah (dari yang sangat terang di siang hari sampai yang sangat gelap di malam hari) untuk menangkap realita dengan tekstur yang tajam, terutama dalam menonjolkan kemegahan Bathtub dan mendramatisir interior rumah-rumah. Untuk mendukung realita, Ben Richardson kadang juga menggunakan efek handy-cam di mana goyangannya tidak halus untuk mengikuti pergolakan emosi Hushpuppy dan Wink. Selain cahaya matahari, Ben Richardson juga sangat handal dalam menggunakan lighting lainnya untuk menambah unsur fantasi dan romantisme kepada situasi yang suram ini, seperti petasan yang dimainkan Hushpuppy (di poster film) dan lampu-lampu kafe yang membuat setting pada adegan tersebut seperti alam mimpi. Karena itu, sinematografi film ini sangat menarik karena permainannya yang pintar antara tekstur realita yang nyata dan kasar dengan tekstur fantasi yang indah dan ekspresif.
Interpretasi Benh Zietlin yang puitis akan cerita drama-realis ini membuat Beast of The Southern Wild sangat memuaskan dan menyenangkan, apalagi karena kita menonton semua itu melalui sudut pandang Hushpuppy yang benar-benar menyentuh hati.

