Review: Upstream Color (2013)

Saya agak kesulitan untuk menulis sinopsis drama fiksi ilmiah yang digawangi Shane Carruth ini. Pasalnya, saya tidak tahu harus memulai dari mana. Entah apa yang ada di pikiran Carruth sampai-sampai ada film seperti ini. Ide absurd yang ada sungguh diolah sedemikian rupa, sehingga menciptakan pengalaman menonton yang tak terlupakan — bahkan tak terbayangkan sebelumnya. Yang jelas, Upstream Color punya bagiannya masing-masing; sepenggal thriller, sepenggal romansa nonkonvensional dan sepenggal keindahan sinematik.
Kecanggihan Upstream Color bukanlah terletak pada plotnya, melainkan pada ide-ide brilian tentang organisme infinit, yang ‘menginvasi’ manusia hingga membuat mereka lupa akan siapa sebenarnya diri mereka. Eksekusi yang ciamik membuat saya seperti sedang terhipnotis. Ditambah dengan scoring yang keren. Lengkap sudah rasanya. Selain itu, jangan mengharapakan plot yang berjalan secara linear, karena film ini akan menampiknya. Ia bergerak secara nonlinear — bak teka-teki yang mengajak penontonnya untuk berpikir sejenak, dan menginterpretasikan maksud-maksud pada tiap adegan.
Pada akhirnya, Upstream Color punya “tantangan”-nya sendiri bagi penonton. Petunjuknya hanya Kris (Amy Seimetz), babi, dan sebongkah buku. Lagipula, jika kita melihat film ini sebagai sebuah “traktiran” sinematik, maka kita akan mendapat pengalaman yang luar biasa; Upstream Color lebih tampak seperti sebuah drama fiksi ilmiah nonkonvensional yang “nyeni” sekaligus “disturbing” - bahkan, jawaban teka-teki yang ada bergantung pada interpretasi masing-masing penonton.

