Review: The Wolverine (2013)

Director: James Mangold | Country: US | Rating: PG-13 | Duration: 126 minutes
Saya bukan fans X-Men, baik film maupun komiknya. Bahkan, khusus untuk filmnya sendiri, saya baru mulai menontonnya sekitar 2 tahun yang lalu — dari X-Men hingga X-Men: The Last Stand. Tapi bila ditanya, menurut saya The Wolverine adalah bagaimana seharusnya film dari karakter populer ini dibuat.
The Wolverine bersetting beberapa tahun setelah kejadian di The Last Stand yang benar-benar hancur. Seusai flashback tentang masa lalu Logan (Hugh Jackman) saat perang dunia 2 di Jepang, kita bertemu lagi dengannya beberapa tahun setelah kejadian di The Last Stand. Logan masih tidak bisa memaafkan dirinya yang membunuh Jean Grey/Phoenix. Tidak jarang ia mengalami mimpi buruk yang secara implisit menggambarkan keinginannya untuk mati agar bisa bersama dengan Jean, yang mana tidak mungkin, karena Wolverine, dengan healing factornya, imortal.
Tidak sampai pertemuannya dengan Yashida (Hal Yamanouchi/Ken Yamamura) di Tokyo. Yashida yang kini tengah sekarat adalah salah satu tentara yang pernah diselamatkan Logan saat perang dunia. Tahu betul bahwa Logan sudah bosan hidup terlalu lama dan mempunyai keinginan untuk mati, Yashida, yang kini kaya raya, menawarkan untuk mengambil kemampuan menyembuhkan diri dari Logan dan memindahkannya ke diri sendiri. Dengan begitu, Yashida bisa hidup lebih lama dan Logan akhirnya menjadi mortal dan bisa mati.

Bila kalian berharap film blockbuster dengan banjir visual efek, ledakan, dan action, maka besar kemungkinannya The Wolverine akan mengecewakan kalian. The Wolverine fokus pada satu fase hidup dari Logan dan bercerita secara detail di situ. Di sini taruhannya bukan menyelamatkan dunia dari kehancuran atau kepunahan dari spesies mutan, di sini ceritanya sangat intim dan personal sekali. The Wolverine malah lebih terasa sebagai sebuah film drama/action ala Yakuza dengan The Wolverine sebagai karakter utamanya. Ada rasa berbeda di sini yang membedakannya dengan film bergenre superhero yang generik.
Drama dan drama adalah elemen terkental di The Wolverine. Interaksi antar karakternya jauh lebih banyak dieksplor dibanding film-film superhero lainnya. Hubungan antara Wolverine-Yukio-Mariko adalah yang membuat film berdurasi 2 jam lebih ini berjalan dengan sangat baik. Pacingnya berjalan dengan sangat lancar dan stabil, tidak terasa seperti ada yang dipercepat atau terlalu bertele-tele. Bayangkan The Amazing Spider-Man, tapi dengan porsi drama 2x lipat. Lalu kalikan 5. Seperti itulah Wolverine, full of drama.

Tapi toh ini masih film superhero, jadi tidak mungkin nihil action. Dan saya suka dengan actionnya! Jauh lebih grounded dan berjarak dekat. Editingnya flawless dan disebar secara rapih di sepanjang film, menyelingi adegan dramanya secara proporsional. Ada juga beberapa unsur komedi, tapi porsinya sangat kecil dan entah karena filmnya dibawa serius dari awal kadang saya sendiri tidak sadar bahwa beberapa adegan maksudnya ngelucu.
Soal akting, ini adalah akting terbaik Hugh Jackman sebagai Wolverine. Hugh Jackman yang kini sudah berpredikat sebagai nominator Oscar sudah terlalu menyatu dengan karakternya dan menjadikan dirinya sebagai salah satu casting superhero terbaik. Sisa dari jajaran castnya didominasi oleh orang Jepang yang hampir belum pernah terdengar namun tidak mengecewakan. Overall, tidak ada keluhan.
Again, The Wolverine bukanlah film superhero seperti umumnya. Penuh dengan drama selama 2 jam berpotensi besar membuat kalian mengantuk bila tidak peduli dengan karakternya. If you’re looking for an action packed movie, this is not for you.

** Oh ya, jangan lupa ada credit scenenya yang sangat wajib harus kudu ditonton!
