Review: Udaan (2010)

Terjemahan bahasa Inggris dari film ini adalah “Flight”.
Sudah cukup lama sejak saya terakhir menulis review tentang film Bollywood dan saya rasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk kembali. Mungkin ada sebagian orang yang sudah keburu malas membaca review ini karena mendengar kata Bollywood. Bayangannya langsung tertuju pada sebuah film berdurasi 3 jam yang typically sepertiga bagian filmnya adalah adegan tokoh utama menyanyi dan menari, kemudian sekelompok orang akan ikutan menari dengan si tokoh utama.
Percayalah pada saya, hal itu tidak sepenuhnya benar.
Banyak pula film Bollywood dengan ciri khas yang saya sebutkan tadi tetap berkualitas bagus. Dan di film yang akan saya bahas sekarang, walaupun menyandang status film Bollywood, membuktikan bahwa ada film Bollywood yang melenceng dari “ciri khas standard Bollywood” dan tetap bagus. Untuk bukti di depan mata, film yang disutradarai oleh Vikramaditya Motwane ini masuk kategori kompetisi “Un Certain Regard” (A Certain Glance) Cannes Film Festival 2010. Sepanjang film, anda tidak akan menemukan adegan sang tokoh utama menyanyi dan menari di tengah hujan diiringi belasan penari lainnya. Tentu saja ada lagu, tapi tidak seperti bayangan Bollywood anda.
Rohan (Rajat Barmecha) adalah seorang anak yang bersekolah di Bishop Cotton School di daerah Shimla (sudah nonton 3 Idiots? Kalau sudah, pasti anda familiar dengan nama daerah ini). Dia dan ketiga sahabatnya, Vikram, Benoy dan Maninder, dikeluarkan dari sekolah yang berasrama tersebut karena tertangkap basah oleh staf sekolah menonton film dewasa di bioskop. Vikram, Benoy dan Maninder pulang ke Mumbai di provinsi Maharashtra sementara Rohan pulang ke Jamshedpur di provinsi Jharkhand yang jauh dari Mumbai ataupun Shimla.
Rohan harus pulang dan tinggal bersama ayahnya (Ronit Roy) yang merupakan seorang single parent pemabuk yang kasar dan Arjun, adik tiri Rohan yang berumur 6 tahun. Arjun bahkan tidak mengetahui bahwa Rohan ada. Ibu Rohan sudah meninggal lama. Sudah 7 tahun lamanya Rohan dan ayahnya tidak pernah bertemu, tepatnya semenjak Rohan dikirim ke asrama Bishop Cotton School. Ayahnya memaksa Rohan untuk ikut jogging setiap pagi dan kuliah teknik sekaligus bekerja di perusahaan metal miliknya. Rohan sebenarnya memiliki passion dan bakat dalam menulis puisi. Dia ingin kuliah sastra. Jelas ayahnya menentang keras, dan di sinilah konflik besar antara Rohan dan ayahnya dimulai. Tidak hanya Rohan saja, ayahnya juga turut menyeret Arjun masuk ke dalam konflik yang paralel dengan konflik Rohan.

Dalam film ini, kita melihat sebuah perjuangan. Karakter Rohan dibangun dengan kuat. Kita melihat seorang remaja 17 tahun yang berjuang untuk bebas dari kekangan kasar ayahnya. Remaja yang mungkin bukan berjuang untuk mendapatkan pengakuan sebagai hal utamanya, namun berjuang untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dan cara yang dipakai Rohan adalah rebellion. Dia bandel dan sama sekali jauh dari sosok remaja teladan. Tapi saya berhasil dibuat bersimpati pada Rohan. Saya peduli apa yang terjadi pada Rohan, apa yang hendak dia lakukan untuk melawan ayahnya, mengapa dia mencari perlindungan pada pamannya, cara apa yang dipakainya untuk melindungi Arjun. Konflik yang dilemparkan pun selalu pas. Peninggian intensitas yang diperhatikan betul saat-saatnya membuat saya tidak sadar bahwa saya harus meluangkan 138 menit untuk menonton film ini, karena ceritanya mengalir dengan sendirinya.
Menyutradarai anak kecil juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya paham betul sulitnya hal ini. Menghadapi anak kecil yang bisa mengubah kemauan mereka setiap saat dan terkadang tidak mau disutradarai perlu keahlian tersendiri. Dan sang sutradara berhasil membuat karakter Arjun menjadi penting dan loveable, ditambah acting Aayan Boradia sebagai pemainnya juga sangat pantas diapresiasi. Pada dasarnya semua karakter di film ini kuat. Karakter sang ayah pun sangat kuat: kita paham bahwa dia adalah the alpha-male of the house and family yang benci kalau keputusannya diganggu gugat. Yang berpikir bahwa engineering adalah satu-satunya wadah tolok ukur keberhasilan anak laki-laki. Dan Ronit Roy berhasil membawa kita merasakan sisi antagonis dari peran ayah ini.
Dalam memaknai setiap kalimat yang keluar dari karakter, seorang sutradara dapat mengeksplorasi dialog atau monolog dengan pembacaan nada kalimat yang berbeda-beda. Setiap nada tentu saja akan membawa impact yang berbeda. Inilah eksplorasi yang dilakukan Vikramaditya Motwane dalam film ini: nada dalam dialog. Satu dialog bisa saja dikatakan dengan datar oleh ayah Rohan pada Rohan, tapi impact dialog nada datar tersebut sedemikian rupa hingga membuat Rohan tak berkutik. Butuh penggalian dalam untuk bisa mencapai kesempurnaan pelafalan dialog dalam membawa impact yang diharapkan dari film ini dan hal ini berhasil dilakukan sang sutradara dan aktor-aktornya.

Musik yang ada dalam film ini juga sangat mendukung tension cerita. Musik yang tepat mengisi momen yang tepat. Ada kalanya kita mendengar musik kencang dan keras, ada kalanya pula kita mendengar musik halus yang tenang dan tidak berlebihan. Di lain kala, ketika dialog antara Rohan dan ayahnya sedang tegang, tidak ada musik sehingga kita makin merasakan bahwa memang suasananya tegang.
Film ini membuat saya berpikir kembali teori antropologi-sosiologi yang mengatakan bahwa keluarga adalah agen pertama dari setiap manusia. Agen pertama akan menanamkan norma-norma paling dasar yang akan dibawa manusia tersebut sepanjang hidupnya. Keluarga, dalam hal ini, akan menjadi panutan sepanjang masa seorang manusia. Agen inilah yang akan tertanam dalam benak terdalam, masuk ke dalam memori paling dasar. Agen ini bisa dikatakan membawa pengaruh paling kuat dari sifat-sifat seorang manusia. Ketika satu manusia bertemu agen kedua, ketiga, keempat dan kesekian kemudian mulai melihat norma-norma yang dibawa mereka, dia akan sadar bahwa ada lebih banyak lagi hal di luar sana. Pada akhirnya, dia akan memilih jalan yang menurutnya terbaik baginya dan meneruskan apa yang menurutnya benar.
I highly recommend this film.

