Review: The Dreamers (2003)

DISCLAIMER: film ini tidak diperuntukkan untuk penonton di bawah umur 18.
Penggemar Bernardo Bertolucci pasti tidak akan melewatkan film yang satu ini.
Berlatar belakang Paris student riot pada 1968, Matthew, mahasiswa Amerika yang sedang kuliah di Perancis dan seorang film buff, bertemu dengan Theo dan Isabelle, sepasang saudara kembar yang juga film buff, di Cinémathèque Matthew pindah untuk tinggal bersama mereka dan mulai ikut dalam kebiasaan-kebiasaan mereka yang sangat jauh dari norma masyarakat pada umumnya, bahkan cenderung kontroversial.
Penggunaan montage menjadi highlight dalam film ini. Kita akan melihat banyak klip film-film klasik yang dimasukkan dalam film ini sebagai pendukung dari apa kejadian yang sedang diceritakan. Ada yang mirip dengan apa yang sedang diceritakan secara fisik, ada yang tujuannya mewakili konteksnya. Montage klip film yang hadir dalam film ini sangat mendukung kelangsungan cerita karena berhubungan langsung dengan kepribadian para karakter film yang memang film buff dan mengetahui banyak sekali film.
Film ini juga sangat berani mengungkap hal-hal yang kontroversial, misalnya adegan-adegan yang pasti akan kena sensor di Indonesia, tapi justru dengan adanya pengungkapan hal-hal ini secara gamblang, kita mengetahui sebenarnya apa yang terjadi. Penonton akan dibuat bersimpati dengan karakter-karakternya dan dituntun untuk mengetahui, mengikuti dan memahami kebiasaan-kebiasaan mereka. Soal menerima atau tidak itu urusan belakangan, tapi kita tahu dari awal bahwa ada sesuatu yang tidak umum dalam hidup mereka. Kamera juga tidak sungkan merekam kejadian-kejadian tersebut dari sudut-sudut yang paling pas, didukung dengan production design yang baik. Kita percaya bahwa, misalnya, Theo dan Isabelle memang anak keluarga kaya. Kita percaya bahwa mereka adalah orang-orang cerdas. Kita percaya bahwa mereka penggila film. Penonton adalah observer dari kehidupan mereka.

Satu hal lagi yang patut diperhatikan dari film ini adalah musik. Pengunaan musik dalam film ini juga sangat mendukung suasana setiap adegan yang diberikan. Ada leitmotif (pengulangan rutin dan konsisten yang akhirnya menjadi karakter tersendiri) yang digunakan. Yang paling gamblang adalah penggunaan lagu Beyond the Sea atau La Mer. Kita tahu ketika lagu ini diputar, maka ada suasana tertentu yang sang filmmaker mau kita rasakan. Begitu pula musik-musik lainnya. Pilihan musik yang tepat selalu membuat kita merasakan dengan tepat perasaan yang sedang dimunculkan.
Saya pribadi hanya memiliki satu masalah dengan film ini (dan mohon dikoreksi kalau saya salah), menurut saya karakter Theo dan Isabelle tidak konsisten dalam berbahasa. Di film kita mengetahui bahwa mereka memiliki ibu orang Inggris dan ayah yang (sepertinya) orang Perancis. Mereka lahir dan besar di Perancis. Mereka bisa berbahasa Perancis dan Inggris, tapi aksen mereka seringkali membingungkan saya. Di satu sisi, bahasa Inggris mereka akan terdengar seperti layaknya orang Perancis yang berbicara Inggris. Di sisi lain, mereka tidak beraksen Perancis. Di kesempatan lain lagi, mereka berbicara bahasa Perancis seperti layaknya orang Perancis pada umumnya. Hal ini membuat penonton akan sedikit terganggu karena adanya inkonsistensi. Kalaupun memang kedua karakter ini mau dibuat lancar berbahasa Inggris (hal ini tidak umum di Perancis, karena orang Perancis sangat menjunjung tinggi bahasa mereka dan biasanya enggan berbahasa lain), sebaiknya ditetapkan saja dari awal apakah akan beraksen Perancis atau tidak. Hal ini dapat sedikit banyak menarik perhatian penonton dari cerita utama karena mereka bingung apa sebenarnya bahasa Inggris Theo dan Isabelle memang beraksen Perancis atau tidak.
Terlepas dari itu, saya sangat menikmati film ini secara keseluruhan. Belum pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya untuk menonton sebuah film dengan pengalaman yang sangat unik ini.

