G R A V I T Y - 4DX Review

Dengan ini saya katakan bahwa tahun ini saya mendapatkan kepuasan sinematis total dari film ini.
Ini adalah misi luar angkasa pertama Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock). Bersama pesawat ulang alik Explorer, Stone dikirim untuk bertugas sebagai insinyur medis. Termasuk dalam awak adalah astronot Matthew Kowalski (George Clooney) dan ini adalah misi terakhirnya di luar angkasa. Pesawat Explorer mengalami kecelakaan karena tertabrak serpihan satelit Rusia yang dihancurkan, membuat Stone dan Kowalski ‘terdampar’ di luar angkasa. Selanjutnya, ini adalah kisah perjuangan Stone dan Kowalski untuk bertahan hidup dengan segala kemungkinan terburuk yang ada.
Bayangkan caranya membuat film dengan komponen yang minim: hanya dua karakter (dan kebanyakan hanya berpusat pada karakter utama), satu tempat (luar angkasa pula), minim dialog. Di tangan orang yang tidak benar-benar memahami cara berceritanya, hal ini bisa jadi bencana. Tapi di tangan Alfonso Cuarón hal ini menjadi sebuah karya istimewa.
Mari kita lihat apa yang terjadi pada Stone ketika dia berada dalam Soyuz. Setelah Stone berpisah dari Kowalski, ia berhasil tiba di Soyuz dan siap untuk memberangkatkan Soyuz supaya dia bisa pindah ke Tiangong. Tapi masalah terjadi ketika tidak ada bahan bakar, pasokan oksigen sangat minim dan ia tidak berhasil mengontak Houston lagi ataupun stasiun Cina yang berhubungan dengan Tiangong. Kamera merekam adegan ini dalam satu take yang sangat panjang durasinya. Dengan adanya ini, kita berhasil masuk dalam kelangsungan emosi Stone yang tidak terputus. Kita berempati pada dia. Kita paham perasaan Stone yang terhibur ketika anjing Aningaaq, satu-satunya orang yang berhasil dikontaknya melalui frekuensi gelombang pendek, menggonggong. Kita paham Stone menjadi sangat emosional ketika terdengar suara bayi Aningaaq dan Aningaaq yang menyanyikan lagu lullaby. Kita paham ketika Stone pasrah. Kita ikut berjuang ketika Stone memutuskan untuk kembali berjuang.

Bagi saya, pilihan long take ini sangat tepat. Adegan ini tidak akan menjadi sedalam dan seemosional apa yang sekarang terasa apabila ada pergantian shot, walaupun hanya sekecil memutus shot yang durasinya panjang ini untuk memasukkan, katakanlah, insert shot jari menekan tombol. Pemutusan akan berakibat pada putusnya empati kita. Hal ini juga berlaku pada sound. Keintiman itu akan hilang apabila, misalnya saja, tiba-tiba ada suara terdengar ketika Kowalski membuka pintu dan masuk ke dalam Soyuz. Pada kenyataannya, di luar angkasa memang tidak ada suara. Kehadiran Kowalski tanpa suara di Soyuz sangat mendukung pembangunan rasa yang tadinya hampa menjadi naik perlahan-lahan. Yang tadinya kepasrahan menjadi harapan.
Dalam hal ini, acting Bullock harus diapresiasi. Cuarón juga berhasil membangun dan membuat karakter Kowalski sehingga dia menjadi signifikan, meskipun hanya sebagai peran pendukung, seperti layaknya berhasil membangun karakter Stone beserta emosinya dari awal hingga akhir. Acting Clooney juga patut diapresiasi.
Banyak shot dalam film ini yang menggunakan prinsip Romanticism. Ada rasa awe (kagum) dan terror dalam waktu yang sama. Di lukisan-lukisan landscape zaman Romanticism, tertangkap maksud bahwa manusia hanya bagian sangat kecil dari alam. Alam tidak berbatas dan manusia tidak punya kendali atasnya. Sadar atau tidak, banyak long shot Gravity yang berhasil memvisualisasikan tangkapan perasaan ini. Baik Stone, Kowalski atau siapapun karakter yang ada dalam film ini hanyalah bagaikan titik di ruang yang amat sangat luas. Mereka tidak punya kendali atas luar angkasa yang tidak berbatas.

Memang ada kalanya film ini menjadi terasa sedikit terlalu lama, tapi menurut saya rasa lama itu masih bisa ditolerir karena bisa jadi Cuarón memang ingin kita merasakan lamanya adegan tersebut. Saya juga salut dengan script film ini, ketika dialog yang ada minim dan cerita yang tetap jalan dengan sangat baik. Ambient sound dan visual menjadi kunci.
Efek 4DX Hanya Sebagai Aksesoris
Bagi saya, kepuasan sinematis yang saya dapat dari Gravity adalah murni dari filmnya dan tidak sepenuhnya dari efek-efek yang diberikan oleh 4DX.
Sayang sekali karena seharusnya efek 4DX itupun bisa menjadi bagian dari seni filmnya. Ketika adegan-adegan guncangan besar terjadi, 4DX memang berhasil mengimitasi dengan baik guncangan-guncangan tersebut sehingga kita pun ikut terguncang bersama Stone. Guncangan-guncangan besar yang terjadi sangat tepat momen dan intensitasnya. Bahkan dalam satu adegan ketika terjadi guncangan berturut-turut, penonton juga diguncang berturut-turut seperti layaknya di film, sehingga ada saat ketika kita merasa seperti akan terlempar layaknya Stone yang terlepas.

Meski demikian, banyak putaran-putaran Stone ataupun guncangan-guncangan yang kurang maksimal diimitasi oleh 4DX. Seringkali kursi penonton hanya statis dan tidak bergerak di adengan yang saya harapkan akan bergerak. Adegan kebakaran Soyuz juga kurang berhasil diimitasi karena efek asapnya tidak cukup mendukung untuk membuat kita setidaknya merasakan apa yang Stone rasakan. Yang juga agak disayangkan adalah efek air yang kurang maksimal. Adegan Tiangong yang tercebur di laut seharusnya menjadi momen pas untuk efek air, namun tidak demikian yang terjadi.
Efek 3D yang ditangkap juga ada yang kurang maksimal. Kalau membahas soal kedalaman, 3D yang saya rasakan di 4DX untuk film ini tidak cukup dalam untuk membuat saya bisa “meraih” paku yang terlepas dari tangan Kowalski, atau untuk membuat benda-benda luar angkasa melayang hingga ke jangkauan saya, misalnya. Sayang sekali padahal sebenarnya apabila maksimal, maka ada potensi attachment kita dengan cerita akan menjadi lebih intim lagi.
Pada intinya, bagi saya film ini adalah sebuah film yang berhasil. Saya merasa seperti benar-benar berada di luar angkasa dan menjadi satu dengan mereka. Film ini sangat baik, dan tanpa 4DX 3D pun, film ini akan tetap baik.
Terima kasih, Alfonso Cuarón.
Untuk keseluruhan film:
Dan untuk menonton film ini dengan efek 4DX 3D:

