Review: Gravity (2013)

——————————————————————————-
Directed by Alfonso Cuarón Written by Alfonso Cuarón, Jonás Cuarón Starring Sandra Bullock, George Clooney Running time 90 minutes Country United States Language English
——————————————————————————-
Sudah lama sekali penantian akan film terbaru dari Alfonso Cuarón berlangsung. Sejak ‘Children of Men‘-nya yang fenomenal di tahun 2006, ternyata diperlukan 7 tahun bagi Alfonso menelurkan karya barunya. Diselubungi hype yang sangat besar itu pasti, apalagi G R A V I T Y saat ini duduk dengan santainya di RottenTomatoes dengan 98% dan mencetak skor 96 di MetaCritic tentu saja mengindikasikan suatu hal. Apa senjata utama film ini sih, sampai bisa begitunya? Sebuah premis simple namun jenius, 2 aktor saja, dan yang pasti technical aspect-nya yang ground-breaking. Adil rasanya bila mengatakan, inilah film yang membuat 2013 berakhir di bulan Oktober.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, premis simple namun jenius. Mengapa? Well, pertama-tama, G R A V I T Y hanya membutuhkan 2 tokoh saja untuk menjalankan keseluruhan ceritanya. Mereka adalah Ryan Stone (Sandra Bullock), seorang medical engineer, dan Matt Kowalski (George Clooney), seorang pilot. Awalnya misi mereka adalah meng-install semacam prototype sistem terbaru di luar angkasa, namun itu semua berubah menjadi chaos ketika Rusia menghancurkan salah satu satelit milik mereka. Efek dari hancurnya satu satelit berimbas kepada hancurnya satelit-satelit lain yang dalam seketika berubah menjadi kepingan tajam yang mengorbit bumi dengan kecepatan 50.000 km/jam. Sialnya lagi, karena mayoritas satelit hancur, maka komunikasi astronot-astronot ini dengan bumi pun putus. Bisakah kalian bayangkan betapa seramnya, mengombang-ambing sendirian, di luar angkasa?
Jujur saja, cerita G R A V I T Y berhenti di situ. Karena selanjutnya hanyalah survival story. Tapi ide yang baik adalah sama baiknya dengan eksekusi yang baik. Di sinilah G R A V I T Y bersinar. Eksekusi. Dalam 90 menit durasinya, hampir 80% dari filmnya saya sama sekali tidak memiliki bayangan bagaimana mereka membuatnya. Belum lagi long-shot khas Alfonso. Baru saja film mulai, kita sudah disajikan seperti, hmm…, sekitar 10 menit adegan tanpa putus dengan George Clooney memutari kamera. Luar biasa. Dan 3D-nya, tidak boleh terlupakan. Rasakan debris-debris bangkai pesawat menusuk mata kalian, pecahan satelit-satelit luar angkasa keluar dari layar, atau momen-momen kecil seperti jari George Clooney berusaha mengambil sekrup. Kalau kalian menontonnya dalam versi 2D, maka anggap saja kita tidak pernah saling kenal.
Selain itu, G R A V I T Y memiliki tata suara yang luar biasa. Hal yang paling pertama saya perhatikan, malah. Ketika film baru mulai, tulisan G R A V I T Y terpampang diiringi scoring tajam yang mengingatkan saya dengan Insidious, lalu tiba-tiba hening. Karena seperti aslinya, luar angkasa itu hampa, bahkan tidak ada oksigen untuk menghantarkan suara. Jadi, bisa diharapkan adegan-adegannya ledakannya pun tanpa suara. Namun jangan khawatir, karena scoring dari Steven Price ini lebih gila daripada suara satelit saling tubruk. Gila.
Dan akhirnya, datanglah sang pemain kunci, Sandra Bullock sebagai pemeran utama ini semua. Lucu bila mengetahui Bullock bukanlah pilihan pertama Alfonso. Namanya baru ada setelah Angelina Jolie dan Natalie Portman menolak peran Ryan Stone. Bullock, dengan atau tanpa helmnya, adalah nyawa film ini. Dengan sendirian, di luar angkasa, dialah pilot sesungguhnya dari G R A V I T Y. Dan yang lebih asyik lagi, karakter yang dibawakannya relatable, meski kalian belum pernah ke luar angkasa. Heran saya bila nantinya ia tidak mendapatkan minimal nominasi sebagai aktris utama di Oscar tahun depan.
Semua film memang tidak ada yang sempurna, tapi di sini ada G R A V I T Y yang membuat kita sama sekali tidak memperhatikan kelemahannya dan terus membuat kita semua terbuai dengan penampakan luar angkasa. Setiap adegan adalah maha karya, dan setiap menitnya adalah sebuah perjalanan yang tak boleh dilewatkan.

