Review: Jurassic Park 3D (1993/2013)

Jadi kenapa kita mau membayar harga tiket bioskop untuk sebuah film keluaran tahun 1993? Padahal, Jurassic Park dengan sangat mudah bisa ditonton lewat cara lain; misalnya beli DVD atau bahkan filmnya sendiri ditayangkan oleh salah satu stasiun TV lokal beberapa hari yang lalu. But it’s Jurassic Park! Untuk alasan sentimentil dan lainnya, para moviegoers yang benar-benar ingin mendapatkan cinematic experience maksimum dari Jurassic Park tentunya tahu di mana mereka harus berlabuh, bioskop. And now, it’s in 3D.
Saya sendiri yang kelahiran 1993 tentunya belum pernah menonton Jurassic Park di bioskop. Padahal film ini bukan hanya saja bersejarah tapi adalah salah satu karya Steven Spielberg yang influential. Rasanya kurang saja, menonton Jurassic Park di layar kecil, padahal film ini jelas untuk konsumsi layar lebar. Benar saja, cinematic experience yang mereka gembor-gemborkan memang berbeda. Akhirnya tiket bioskop yang harganya 30 ribuan itu terasa terbayar dengan lunas.
Banyak teman saya yang bertanya, ini Jurassic Park 3D (JP3D) ceritanya sama atau baru? Jawabannya sama. Dan filmnya adalah Jurassic Park yang pertama, bukan yang ketiga terus 3D. Di sini semuanya bermula. Ketika John Hammond (Richard Attenborough), orang kaya yang ambisius, berniat untuk membuka taman hiburan yang isinya dinosaurus. Lewat sebuah penjelasan pseudo-science-bullshit logika penonton dibuat untuk menerima, yes dinosaurus memang bisa hidup kembali. Sayangnya, upaya Hammond terhambat oleh pengacara yang menentangnya dengan alasan keamanan. Jurassic Park, hanya bisa dibuka bila ada setidaknya 2 ilmuwan yang bisa membuktikan bahwa taman hiburan Hammond memang benar-benar aman. Dibawalah Dr. Alan Grant (Sam Neill) bersama partnernya Dr. Ellie Sattler (Laura Dern) dan Dr. Ian Malcolm (Jeff Goldblum) untuk membuktikannya. Awalnya mereka takjub, tapi mereka sadar bahwa kekuatan alam bukanlah haknya manusia untuk dipermainkan. Dan di sinilah kegilaan dimulai.

Well, Jurassic Park is Jurassic Park. Karya 1993 ini tentunya sedikit off bila kita baru menontonnya pertama kali di 2013. Lihat bagaimana kebodohan demi kebodohan tokohnya berujung pada malapetaka. Akting keponakan perempuan Hammond yang selalu annoying dan bodoh ketika berhadapan dengan T-rex atau Velociraptor. Atau Samuel L. Jackson yang tidak ada beda-bedanya hingga sekarang. But somehow, dibalik itu semua dan kesebalan sesaat kita, ada kharisma Jurassic Park yang tidak bisa dibohongi.
Awanya film memang akan terasa membosankan, formula 90an sepertinya tidak bekerja lagi sekarang. Namun, ketika dinosaurusnya mulai lepas, JP3D menjadi layaknya roller coaster yang tiada henti dapat memberikan thrill bagi penontonnya. Ya, karena saya sudah menontonnya mungkin kurang jatuhnya. Tapi bila Anda belum pernah nonton sama sekali, maka ini adalah saat yang pas bagi Anda.
Salah satu kelebihan JP3D adalah tentunya bagaimana ia menyajikan Dinosaurusnya. Tahun 1993, apa itu CGI? Spielberg dan tim harus memutar otak dalam menemukan cara menyajikan hewan purba ini secara real dan menakutkan. Alhasil, dengan practical effect yang memang gila, jadilah mimpi basah bagi kita. Sulit untuk mengalahkan dinosaurus rekaan hasil Spielberg ini hingga sekarang. Hingga saat di mana CGI sudah memungkinkan manusia untuk seperahu dengan harimau.
And the 3D, the highlight of the release, tidak spektakuler. Bila Anda berharap pop out yang banyak, seperti kepala T-rex ke arah Anda, maka bersiaplah untuk kecewa. 3D di sini lebih fokus kepada depth dan brightnessnya. Jarak antar objek di dalam film bisa dengan mudah diseparasi oleh mata kita. Brightness juga bagus, karena umumnya film 3D akan jauh lebih gelap, tapi di JP3D bahkan tidak terasa. Overall, it’s an upgrade, tapi saya malah merasa menonton film 2D namun menggunakan kacamata 3D.
Welcome to Jurassic Park!

