Review: The Act of Killing (2012)

Baru sekali ini saya mendengar pernyataan tulus dari seorang sutradara yang menyatakan bahwa dirinya malah senang kalau filmnya dibajak dan disebar di internet. Joshua Oppenheimer, sang sutradara, mengaku bahwa, khusus untuk Indonesia, hal itu tak akan jadi masalah karena tujuan utamanya adalah supaya film ini reachable di kalangan masyarakat. Dia ingin agar sebisa mungkin lebih banyak lagi masyarakat yang bisa menonton, karena film ini tidak disebarluaskan secara umum di Indonesia. Mengutip Wikipedia Indonesia, filmnya diputar perdana di Toronto International Film Festival September 2012 lalu. Di Indonesia, sejak 10 Desember 2012, sudah ada lebih dari 400 screening berlangsung dan hanya 25 di antaranya merupakan open screening, sementara di Amerika film ini rilis secara umum pada 19 Juli ini.
Film dokumenter ini berlatar belakang peristiwa tahun 1965-66, ketika pemerintahan Soekarno digulingkan. Pemberantasan PKI digaungkan. Anwar Congo dan Adi Zulkadry, 2 orang yang dulunya hanya pencatut tiket bioskop di Medan, naik kelas dari preman kelas teri ke pembunuh. Setidaknya, di tangan mereka terbunuh 1000 orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa yang enggan membayar maupun kalangan intelektual. Saat ini, Anwar Congo (sorotan utama film ini) bahkan dihormati sebagai salah satu founding father organisasi sayap-kanan Pemuda Pancasila yang banyak diasosiasikan dengan premanisme dan berawal dari pasukan yang terlibat dalam aksi 1965-66.
Joshua Oppenheimer menggunakan teknik yang tidak konvensional dalam menggali kisah Anwar Congo dan Adi Zulkadry pada masa pembunuhan tersebut. Bukannya menyatukan rekaman wawancara mengenai peristiwa tersebut atau menambahkan narasi seperti layaknya dokumenter pada umumnya, Joshua Oppenheimer merekam “film dalam film”. Supaya Anwar Congo dan Adi Zulkadry bisa bercerita kembali secara visual dan detail, dibuatlah sebuah film reenactment musikal mengenai peristiwa tersebut (yang belakangan saya ketahui berjudul “Arsan dan Aminah”). Joshua memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih genre apapun yang mereka mau. Dia juga turut mendokumentasikan pembuatan film ini, mulai dari urusan casting, kostum dan makeup sampai shooting dan story supervision. Di tengah-tengah perekaman proses pembuatan film tersebut, kita pun disuguhkan rekaman kejadian sehari-hari Anwar, Adi dan Herman Koto, pria obesitas cross-dresser anggota Pemuda Pancasila Medan yang juga membantu proses pembuatan film “Arsan dan Aminah”.

Dari awal film kita diperlihatkan Anwar yang dengan bangga menceritakan ulang bagaimana cara dulu dia membunuh para korban tersebut. Biasanya dia membunuh dengan mengaitkan kawat ke leher korban. Ia mengaku terinspirasi banyak film koboi Hollywood dan menyebutkan peran-peran Marlon Brando serta Al Pacino sebagai panutannya. Adi juga turut menjadi penasihat dalam film buatan mereka untuk cara-cara membunuh dan memori visualnya tentang bagaimana ekspresi dan tampilan fisik para korban (yang sudah babak belur) yang pada hari kejadian mau tak mau harus dijagal. Di sini kita digiring untuk melihat bagaimana cara pandang mereka tentang kejadian tersebut secara jujur. Cerita keikutsertaan Pemuda Pancasila dalam peristiwa penumpasan itu dituturkan oleh para anggota dan pembuatnya. Bahkan kita diperlihatkan sisi humanisme Anwar, yang mengaku bahwa dirinya merasa bersalah. Adi, yang walaupun mengakui bahwa tindakannya salah, tidak merasa bersalah karena teguh pada keyakinannya bahwa orang-orang tersebut memang harus dihabisi. Adi bahkan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya tidak takut untuk diadili di Pengadilan Internasional. Uniknya, Joshua mengkontraskan monolog Adi tentang dirinya yang tidak merasa bersalah dengan visual Adi yang terlihat murung dan tidak bersemangat ketika sedang berekreasi di mall bersama keluarganya.
Sedangkan Anwar bercerita bahwa dirinya sering dihantui mimpi buruk tentang kejadian penumpasan yang dulu dilakukannya. Terdapat percakapan antara Adi dan Anwar mengenai psikiater; respons Adi terhadap curhat Anwar tentang mimpi buruknya. Bahkan, ketika menonton hasil rekaman salah satu adegan reenactment tersebut (yang tokoh korban ironisnya diperankan dirinya), Anwar menangis, memikirkan bagaimana rasanya jadi korban yang ditumpasnya. Dia mengunjungi kembali tempat jagalnya dulu, yang ditunjukkan di awal film, namun bukannya menari seperti di awal, dia malah muntah-muntah.
Paralel dengan kisah “heroisme” Anwar dan Adi, diangkat pula satu sequence mengenai kisah Herman yang menjadi caleg salah satu partai. Perekaman film ini dilaksanakan pada tahun 2005-2011, sehingga juga bertepatan dengan Pemilu 2009. Dituturkan dengan jelas oleh Herman mengenai rencananya untuk meraup uang lebih banyak (alias korupsi) apabila terpilih di Komisi Pembangunan. Kita melihat persiapan kampanye dan kampanye yang dilakukan olehnya, cara yang ditempuhnya untuk meraih simpati serta hasil yang diperolehnya.

Cara pendekatan antropologis yang ditempuh Joshua sangat ampuh, karena pada buktinya dia berhasil berkawan dengan narasumber-narasumber ini. Yang patut diapresiasi adalah keberhasilan dan keberanian Joshua dalam menguak fakta sejarah yang sudah lama terkubur bahkan melalui cerita sehari-hari mereka. Semua yang diceritakan adalah jujur. Kita mengikuti bagaimana para karakter dalam film ini menyampaikan pendapat mereka. Ada perselisihan, perbedaan pendapat, bahkan “ada udang di balik batu”. Kita melihat bagaimana mereka berubah pikiran, mulai menampilkan sisi humanisme mereka sementara masih ingin mempertahankan status “kepahlawanan”. Semuanya dituturkan dengan jelas, tidak ditutup-tutupi.
Kebobrokan yang diumbar bukan hanya tentang peristiwa berdarah 1965 yang malah membuat mereka dihargai sebagai “pahlawan”, namun juga kondisi politik Indonesia yang penuh praktik kotor. Herman bercerita jelas tentang praktik korupsi yang akan dilakukannya kalau dia menang Pemilu Legislatif. Ketika Herman berkampanye dengan memberikan kartu nama, warga tidak antusias menyambutnya: mereka maunya diberi “bingkisan”. Herman menjanjikan mereka “bingkisan” tersebut kalau dirinya sudah dinyatakan menang. Kita juga melihat bagaimana orang dengan mudahnya bisa masuk dunia politik dan menjadi calon anggota legislatif, entah dengan background apa.
Film ini menyeramkan. Apa yang saya dengar dan lihat memberikan impact yang amat besar kepada saya. Segala kebobrokan yang pernah terjadi terlupakan begitu saja, bahkan terabaikan. Fakta yang kita dapatkan selama ini hanya sekadar ringkasan singkat di buku sejarah sekolah. Tidak pernah ada penulisan sejarah yang sebenarnya. Tidak pernah ada permohonan maaf. Tidak pernah ada tindakan konkrit untuk membela HAM dalam kejadian ini. Yang kita dengar adalah mereka kini menjadi “pahlawan”, dielu-elukan atas tindakan kriminal yang bahkan bisa saja meleset sasarannya. Bahkan terdengar sampai seluruh dunia.
Maukah kita dicap sebagai bangsa pelupa dan abai? Kalau tidak, the least you can do is to watch this film.
Bagi anda yang berminat untuk mendapatkan copy asli DVD film ini (gratis), anda dapat mengirimkan e-mail berisi nama, alamat dan nomor telepon ke [email protected] Diutamakan bagi yang ingin membuat screening.

