Review: Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor (2013)

Kali ini, pengerjaan film ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi tidak lagi ditangani duo Riri Riza-Mira Lesmana, yang memutuskan untuk melepaskan film ini demi proyek lain di saat Mizan meminta agar film ini segera dirilis. Sempat terdengar kabar bahwa film ini hendak digarap Putrama Tuta, pada akhirnya film ini digarap oleh Benni Setiawan, yang juga menulis naskah skenarionya. Salah satu pemeran yang telah muncul sebagai Arai dewasa di Sang Pemimpi, Nazril Irham (Ariel Noah), juga diganti oleh Abimana Aryasatya terkait permasalahannya. Secara pribadi, saya sendiri cukup yakin redraft naskah skenario juga termasuk dalam proses pembuatan film yang sudah banyak mengalami perubahan ini. Untuk judul, beberapa sumber menyebutkan Mizan memilih untuk menggunakan pilihan “Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor” ketimbang kata “Edensor” untuk berdiri tunggal karena jarak rilisnya yang cukup jauh dengan film terdahulunya yang rilis tahun 2009 dan agar penonton lekat dengan embel-embel “Laskar Pelangi”-nya.
Film ini menceritakan sambungan kisah perjuangan Ikal dan Arai, dua bocah dari Belitong yang bermimpi besar soal pendidikan. Ikal dewasa (Lukman Sardi) dan Arai dewasa (Abimana Aryasatya) pada akhirnya berhasil meraih mimpi mereka untuk mengemban ilmu program S2 di Universitas Sorbonne, Paris, dengan memperoleh beasiswa. Ikal masuk jurusan ekonomi sementara Arai di jurusan biologi. Ikal bergabung dengan 3 teman lainnya yakni Gonzales, Manooj dan Ninochka membentuk sebuah “geng” bernama Pathetic Four. Gonzales dan Manooj mengagumi Katya (Astrid Roos) dari Jerman, namun Katya malah memilih Ikal. Sementara itu, Ikal masih belum bisa melepaskan tambatan hatinya dari Aling, cinta masa kecilnya di Belitong yang pergi meninggalkan Belitong bersama keluarganya. Ikal mengalami kegalauan antara perjalanan cintanya dengan Katya, cinta aslinya pada Aling, perjuangan meraih mimpinya di Sorbonne dan hubungannya dengan Arai yang pada akhirnya memanas akibat nilai-nilai Ikal yang terus menurun.

Di luar kesalahan-kesalahan teknis yang minor namun agak mengganggu dalam film ini, semisal warna film yang sering kali tidak konsisten, makeup Lukman Sardi dan Abimana Aryasatya yang sama sekali tidak berhasil membuat mereka menjadi lebih “mahasiswa” — bandingkan dengan makeup di film Bollywood 3 Idiots yang berhasil membuat Aamir Khan terlihat sangat “mahasiswa” walaupun umurnya sudah kepala empat — atau props alat-alat belajar biologi Arai yang malah lebih menggambarkan alat-alat belajar kimia, ada satu hal yang paling menonjol dari film ini. Dibandingkan dengan Laskar Pelangi atau Sang Pemimpi, film ini seperti kehilangan jiwanya.
Sepanjang menonton film ini, tidak ada semangat menggebu-gebu tentang meraih mimpi yang selalu ada di dua film terdahulunya (dan walaupun menggebu-gebu, kedua film terdahulunya sukses menggambarkan semangat tersebut secara subtle dan tidak berlebihan), yang sukses menginspirasi orang-orang dengan berbagai cara, termasuk beberapa pembuat film kita untuk ‘mengekor’ kesuksesan keduanya. Penonton malah disuguhi adegan percintaan Ikal dan Katya (Astrid Roos) dengan proporsi yang mencakup banyak dari bagian film, jauh melebihi jumlah adegan pembelajaran Ikal dan Arai di Sorbonne. Adegan Ikal dan Arai yang mengejar-ngejar Aling juga malah jauh lebih ditekankan, bahkan cenderung berlebihan karena berdurasi cukup panjang di bagian menuju akhir film dan tanpa usaha yang lebih keras. Surat ayah mereka soal nasibnya setelah PT Timah di Belitong bangkrut dan permohonannya agar mereka bisa segera kembali ke sana untuk membantu dirinya juga seakan-akan berlalu begitu saja, padahal ini sangat potensial untuk menjadi salah satu konflik dalam cerita film ini. Terlebih lagi, film ini juga tidak memberikan kita gambaran jelas tentang apa itu Edensor. Edensor hanya disebut satu kali di akhir film, ketika sang Andrea Hirata sendiri yang di-shoot sedang menulis di museumnya di Belitong. Tapi untuk maksud Edensor lebih jelasnya, tidak ada yang tahu.

Memang sudah menjadi tradisi dalam film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi untuk menggunakan voiceover. Dari dua film terdahulunya, tidak ada masalah dalam penggunaan voiceover yang mudah diikuti dan tidak menjadi on the nose terhadap apa yang sudah ada di layar. Sayangnya, film ini tidak berhasil mengimplementasikan tradisi voiceover tersebut dengan baik, sehingga sulit diikuti. Andrea Hirata di bukunya memang menulis dengan bahasa sastra yang indah sehingga menolong para pembacanya untuk bisa lebih liar ketika berimajinasi. Namun efeknya akan sangat jauh berbeda ketika bahasa sastra tersebut digunakan dalam voiceover. Dan kesalahan fatal tersebutlah yang digunakan film ini: pada akhirnya penonton dibuat bingung antara harus mendengarkan kata-kata indah dari voicover atau melihat gambar di layar. Fokus pada keduanya sulit dilakukan, sementara memerhatikan satu saja akan berarti kehilangan esensi yang satu lagi. Padahal seharusnya keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak perlu lagi dipertanyakan oleh penonton.
Satu-satunya hal yang bisa penonton ikuti dengan baik di film ini adalah acting Lukman Sardi dan Abimana Aryasatya, terlebih chemistry mereka yang sangat baik. Penonton dibuat percaya kalau mereka adalah saudara non-kandung yang sudah menganggap satu sama lain seperti saudara kandungnya sendiri. Penonton turut bersimpati atas tegangnya hubungan mereka dan saat hubungan panas tersebut mencair. Pada dasarnya penonton dibuat peduli kalau mereka saling peduli. Namun, kepedulian penonton dihentikan sampai di hubungan mereka saja. Film ini terlihat seakan-akan tidak memiliki pernyataan: apa yang sebenarnya sang pembuat film ingin sampaikan dari film ini? Amat disayangkan karena kesan terakhir yang saya dapatkan malah film ini terkesan dibuat seadanya dan asal jadi. Bukannya passionate, film ini malah passionless.

