Man of Steel: IMAX 3D Review

Jadi kalian sudah tahu kan kalau saya suka sama Man of Steel? Belum? Ya sudah, baca dulu ini review Man of Steel saya.
Nah, saat itu saya nontonnya di Blitz, PVJ dan 2D. Kenapa? Karena murah (Morning Show), kejar setoran review, dan saya tahu hari Sabtu saya bakal nonton lagi di IMAX, 3D pula. Dan DEMI TUHAAANN!! nonton di IMAX Sabtu kemarin itu bikin filmnya 10x lipat lebih baik.
Di sini saya akan fokus untuk me-review film Man of Steel dari segi teknisnya, karena face it, Blitz sekarang kualitasnya cemen banget.
IMAX
Ini adalah kali ketiga saya menonton film di IMAX (Gandaria City, yang di Kelapa Gading belum coba). Pertama adalah Amazing Spider-Man (3D), kemudian The Dark Knight Rises (2D), dan Man of Steel kali ini. Best seat IMAX memang di tengah seperti bioskop-bioskop lainnya, tapi duduk di depan sebenarnya tidak seburuk itu bila di IMAX. Seat yang lebih miring, jarak layar yang lumayan jauh, dan layarnya yang melengkung adalah alasannya. Toh pas nonton Spider-Man saya berada di baris kedua dari layar. Man of Steel juga gitu, karena satu dan lain hal.
Again, really, saya tidak terlalu bermasalah dengan posisi duduknya, Man of Steel looks really amazing. Kejernihan gambarnya tiada duanya. Dari adegan di Krypton experience yang saya dapatkan sudah benar-benar berbeda dengan saat menonton di Blitz. Kursi di IMAX juga berkali-kali lipat lebih enak dibanding bioskop-bioskop Bandung. Jarak antar seat depan juga jauh, jadi kaki bisa selonjoran seenak jidat.
Tiga Dimensi
Katanya sih 3D itu IMAXnya, saya juga disuruh pake kacamata sepanjang film, but honestly, bullshit. 3D-nya cuman nempel di belakang judul doang, nggak ada bedanya. Kalau kalian berharap Zod keluar layar saat dipukul dari layar, bersiaplah kecewa. Man of Steel sepertinya lebih fokus dengan depth (kedalaman) daripada pop-out. Meski begitu saya tidak terlalu kecewa, karena brightness-nya masih cukup terang (Film 3D cenderung lebih gelap) dan yang paling penting tidak bikin pusing.
Karena sebagai pengguna kacamata sehari-hari, saya berusaha menghindari film 3D yang mengharuskan saya pakai kacamata dobel di bioskop. Biasanya bikin pusing, tapi tidak pada Man of Steel, saya senantiasa dihibur tanpa perlu Paramex.
So, ada kelebihan dan kekurangan. 3D-nya tidak terlalu kerasa, tapi tidak sampai taraf mengganggu. Anggap saja pakai kacamata tapi filmnya 2D.
Sound and Scoring
Nah, ini yang paling saya tunggu. Hans Zimmer sepertinya adalah composer nomor 1 dalam urusan scoring film. Dan saya suka dengan apa yang dia lakukan terhadap Man of Steel. Megah, epik, luar biasa, semuanya dapat mendeskripsikan kerjaan dia di film ini. Dari trailernya saja Zimmer sukses buat saya merinding. Dan meski Blitz pasang volume kecil sekali, IMAX membayar itu semua dengan jor-joran hingga kursi saya terasa seperti kursi pijat. Getar aja terus. Gila, benar-benar, kuping saya seperti diperkosa selama 2 setengah jam. Dan saya tidak keberatan dengan itu.
Visual Effect
Dengan budget di atas 200 juta, bisa diharapkan Man of Steel bakal habis-habisan di seksi visual efek dan CGI-nya. Dan benar saja, namun melihatnya sekali lagi di IMAX adalah sebuah kepuasan. Karena di sini gambar jauh lebih detail dan tajam. And I meant it, kualitas visualnya gila-gilaan. Saat Jor-El menaiki H’raka di Krypton, kepala saya senantiasa bergerak dari kiri layar ke kanan mengikuti pergerakannya.
Final battle terakhirnya di Metrpolis makin terasa. Ketika Superman beradu jotos dengan Zod di langit, saya benar-benar ingin mem-pause filmnya dan menikmati gambar itu saja hingga film selesai. Magnificent. Dan di IMAX, saya benar-benar setuju 45 menit terakhir Man of Steel itu epic dan tiada lawannya. Not even The Dark Knight Rises.
Conclusion
Man of Steel di IMAX, adalah pengalaman ke bioskop saya terbaik tahun ini, jika ‘semumur hidup’ dibilang berlebihan. Go see it in IMAX if you can.
