Review: White House Down (2013)

Sudah bukan hal baru lagi bila ada dua 2 film yang memiliki premis serupa dan rilis di tahun yang sama. Ada Armageddon dan Deep Impact di tahun 1998. No Strings Attached dan Friends with Benefits di tahun 2011. Atau yang paling mudah diingat, The Raid dan Dredd tahun lalu. Tidak ada bedanya dengan sebelumnya, tahun ini ada White House Down yang memiliki premis serupa dengan Olympus Has Fallen di mana Gedung Putih berada dalam serangan.
Serupa namun tak sama benar adanya. Karena sedikit banyak memang ada perbedaan di antara keduanya. Entah kebetulan atau memang direncanakan juga saya tidak tahu. Tapi daripada kita fokus ke plagiarismenya, saya lebih senang untuk menikmati kedua film tersebut dan tidak mau repot-repot menyalahkan film yang mana yang meniru.
White House Down bercerita lewat sudut pandang John Cale (Channing Tatum), seorang polisi yang baru saja ditolak dari pekerjaan impiannya, yaitu menjadi agen Secret Service dan melindungi Presiden Amerika Serikat (Jamie Foxx). Cale, yang saat itu sedang berada di dalam Gedung Putih bersama anaknya, bernasib sial ketika tiba-tiba tempat paling aman di Amerika Serikat tersebut diserang oleh teroris. Dari sini, sisa ceritanya sudah bisa Anda tebak sendiri.
Hal pertama yang membuat saya suka dengan White House Down adalah bagaimana ia membuat saya teringat dengan Die Hard, hanya saja berlatar di Gedung Putih. Cale tidak berniat untuk menjadi pahlawan dari semua kekacauan ini. Dia kebetulan saja berada di tempat dan waktu yang salah. Sedikit berbeda dengan apa yang terjadi pada Gerard Butler di Olympus Has Fallen.

Hal kedua yang saya suka adalah Sang Presiden yang berkontribusi lebih besar. Di sini Cale dan President Sawyer sudah seperti duo di film-film buddy-cop khas Amerika. Tentunya hal ini dieksploitasi untuk mengundang komedi, menambahkan entertainment value dari White House Down. Sesuatu yang tidak saya duga saat menonton trailernya. It’s funnier than I expected.
Tapi tetap saja White House Down ini bodoh. Karena pada awalnya memang ditargetkan untuk menjadi pure entertainment, brainless action, dan sejenisnya. Ambil contoh adegan penguasaan White House yang menurut saya terlalu mudah dan tidak realistis. Bahkan Olympus Has Fallen jauh lebih sukses dalam hal menggambarkan kekacauan ini. Lalu tentunya ada beberapa keputusan bodoh karakter-karakter di film yang saya yakin, bila saya menjadi bagian dari pemerintahan dapat memberikan keputusan yang lebih baik. But maybe, it’s just me being nitpicky. Saya tahu memang film ini supposed to be dumb, karena kalau pintar premis (mengambil alih Gedung Putih) ini sendiri tidak dapat berjalan.
Untuk departemen akting sendiri saya tidak terlalu banyak mengeluh. Saya suka Channing Tatum dan chemistry-nya bersama Jamie Foxx yang ternyata berakhir komedik di sini ketimbang berwibawa. Saya juga baru tahu ternyata ada Maggie Gyllenhaal juga yang sebagian besar waktunya hanya menelpon. Overall, karakter-karakter di film ini lebih mudah untuk disukai dan dipedulikan penonton ketimbang Olympus Has Fallen.
Beberapa visual efeknya juga cukup buruk meski lebih dari Olympus Has Fallen. Yang paling mudah dicerca adalah slow-motionnya yang terlihat seperti komputer Pentium 3 yang memutar video 720p. Where is Zack Snyder when we need him? Mungkin tidak signifikan, tapi bagi saya lumayan mengganggu momennya.
But it’s a popcorn movie! Just sit, enjoy the movie, leave your brain outside the studio.

